
Zulaikha, dan Yunus ke sekolah tepat bel masuk berbunyi. Sebelumnya mereka mengantarkan Asiah ke sekolahnya dahulu.
"Apa kamu yakin, tidak mau pindah dari apartemen?" tanya Yunus kepada Zulaikha saat istirahat berlangsung.
"Ya. Sudah terlanjur ketahuan sama Qorun. Mau aku dekat atau jauh dari mereka. Dia pasti akan melibatkan Om Yusuf dan Asiah." Zulaikha menarik napasnya sejenak, lanjut bicara, "seharusnya yang aku pikirkan sekarang adalah mencari bukti kejahatan baru yang dia lakukan saat ini. Sebelum masalah besar terjadi. Aku rasanya ingin dia bungkus pakai karung, lalu membuangnya ke pulau tak berpenghuni. Syukur-syukur di pulau itu banyak hewan buasnya. Agar dia mati dimakan para hewan itu!"
"Wow, kenapa jiwa psikopat Qorun menular sama kamu," canda Yunus sambil mengusap-usap kedua lengan atasnya.
"Ih, amit-amit! Nggak deh. Jangan sampai," tolak Zulaikha sambil memukul lengan lengan Yunus.
"Aku dengar kedua orang tua kamu akan datang ke Indonesia?" tanya Yunus.
"Entahlah. Aku tidak peduli. Mereka datang atau tidak. Asal jangan mengusik kehidupan aku. Seperti aku yang tidak pernah mengusik kehidupan mereka," jawab Zulaikha.
Sampai sekarang Zulaikha tidak tahu alasan yang sebenarnya, kenapa sejak dia kecil di asuh oleh Kakeknya? Kenapa Mama dan Papanya tidak selalu bersamanya? Sampai bisa dihitung dengan jari pertemuan mereka semenjak kejadian tragis yang menimpanya dulu.
Dibandingkan dengan kehadiran orang tuanya. Para pelayan dan pekerja di rumahnya 'lah yang selalu ada untuknya. Memberikan perhatian untuknya. Mamanya Bintang saja selalu menemui dia hampir setiap hari dan memberikan dukungan agar cepat sembuh, dulu.
Kenapa Zulaikha dan Bintang itu selalu bersaing tapi selalu bersama dan kadang mereka berbagi cerita. Alasannya karena bagi Zulaikha, Bintang adalah orang yang selalu ada untuknya. Mau bikin dia marah, jengkel, senang, iri, atau nggak mau mengalah sehingga mereka bertengkar. Ujung-ujungnya mereka pasti baikan lagi. Itu semua karena Zulaikha ingin mendapatkan perhatian. Jika dia memancing Bintang. Otomatis Angkasa dan Langit juga akan memberikan perhatian kepada mereka berdua. Biasanya mereka selalu berusaha mendamaikan jika sedang marahan. Perhatian seperti ini sangat berarti bagi Zulaikha karena berasa masih di anggap keberadaannya oleh orang lain.
Sosok Cantika yang single parents dalam membesarkan si Trio Kancil dengan penuh cinta dan kasih sayang, menjadi contoh panutan bagi Zulaikha. Dia ingin menjadi seperti dirinya. Meski dia bukan anak kandungnya, tetapi Mamanya Bintang itu memperlakukan dia sama seperti ketiga anaknya. Cantika adalah sosok seorang ibu yang berarti baginya.
Itulah kenapa Zulaikha bisa punya rasa sayang yang begitu besar seperti seorang ibu kepada Asiah. Dia merasa senang mendapat perhatian meski bukan dari keluarga kandungnya sendiri. Dia juga ingin menjadi seperti Cantika. Menjadi sosok seorang ibu yang berarti bagi Asiah. Apalagi Asiah adalah anak yang menggemaskan dan pintar, membuat dia jatuh hati langsung padanya.
***
__ADS_1
Asiah, Salwa, Sulaiman, dan si Kembar bermain bersama di taman. Datang Adam dan Ibrahim ke sana sambil membawa mainan pistol air.
"Hai kita main perang-perangan, yuk!" ajak Adam kepada teman-temannya.
"Nggak mau. Aku nggak suka," balas Salwa.
"Iya, aku juga nggak suka," kata Asiah ikut-ikutan.
"Malas!" jawab si Kembar bersamaan. Sedangkan Sulaiman menggelengkan kepalanya.
Tidak jauh dari mereka di luar pagar benteng sekolah. Ada beberapa orang di dalam mobil yang sedang memperhatikan interaksi ke tujuh anak itu.
"Anak perempuan itu 'kan yang dia minta?" tanya laki-laki berjaket biru sambil memegang foto Asiah.
"Iya. Tapi bukannya anak laki-laki berbadan gempal itu cucu pengusaha terkenal dari perusahaan MAKMUR JAYA," kata lelaki berjaket hitam menunjuk Ibrahim.
"Ya, setuju!" kata rekan-rekannya.
"Eh, katanya ada anak yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita berurusan dengannya karena bisa berabe nanti!" Si laki-laki berjaket biru mengingatkan teman-temannya.
"Iya. Anaknya yang mana?" tanya Si Jaket Merah.
"Anak kembar berwajah bule campuran!" ingat Si Jaket Hiitam.
Ketiga orang itu memperlihatkan anak-anak yang di sana. Kemudian mata mereka tertuju kepada Raihan yang berlari mendekat ke arah pagar untuk mengambil bola yang terlempar ke sana.
__ADS_1
"Itu dia!" seru mereka bertiga.
"Ya, tidak salah lagi. Bocah tampan berwajah bule campuran," ujar Si Jaket Hitam.
"Kita kapan bisa melakukan operasi penculikan kita kepada mereka? Jika pintu gerbang saja di jaga oleh dua orang satpam." Si Jaket Merah melihat ke arah pintu gerbang.
"Itulah kenapa kita menyiapkan mobil boks sayuran. Agar kita bisa masuk ke area sekolah tanpa di curigai oleh pihak Yayasan Al-Huda," ujar Si Jaket Biru.
Kemudian tidak lama datang mobil boks pengantar bahan sayuran untuk pengiriman ke Yayasan Al-Huda. Mobil itu berhenti di dekat mereka dan si sopir menyuruh untuk cepat masuk.
Mobil boks itu adalah hasil rampasan rekan si penculik. Masih ada dua lagi temannya yang membajak mobil itu dan menyingkirkan supir aslinya.
Pihak penjaga sudah tahu kalau itu adalah mobil yang biasa mengirim bahan sayuran untuk masakan di sana. Dilihatnya sopir kali ini berbeda.
"Tunggu! Kemana sopir yang biasa mengirim sayuran ke sini?" tanya salah seorang dari satpam itu menghentikan laju mobil.
"Dia sedang di tugaskan mengirim barang ke tempat lain," jawabnya.
"Mana SIM Anda? Biarkan kami periksa dulu," lajut Sii Satpam. Laki-laki itu pun memberikan SIM dengan nama palsu miliknya.
Setelah melakukan pemeriksaan mobil itu pun masuk ke area Yayasan Al-Huda. Bongkar barang pun berjalan lancar. Sementara itu, ketiga teman yang lainnya, mulai mengincar Asiah dan Ibrahim.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1
Mampir juga ke karya baru aku, ya! Masukin favorit dan baca juga.