Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 83. Mengunjungi Rumah Abah dan Ummi


__ADS_3

Teman-teman baca alon-alon ya. Setelah itu jangan lupa like dan komentar. Semoga kebaikan teman-teman mendapat balasan lebih baik lagi.


***


BAB 83


     Asiah berlari masuk ke rumah saat dia baru turun dari mobil Sulaiman. Bahkan dia tidak mendengar panggilan Sulaiman yang mau langsung pamit pergi.


"Assalamu'alaikum, Aa! Aa!" teriak Asiah menaiki anak tangga.


     Tidak ada sahutan dari laki-laki yang sudah menjadi belahan jiwanya itu. Saat Asiah masuk ke dalam kamar tidurnya pun tidak ada Rayyan di sana.


"Mama! Mama~" panggil Asiah kepada Zulaikha. Dia pun mendatangi kamar orang tuanya. Namun, ibu sambungnya itu pun tidak ada juga.


      Asiah pun menelusuri seluru ruangan yang ada di rumah mencari suami dan ibunya. Dia masih tetap belum bisa menemukan mereka.


"Kalian ke mana, sih!" gerutu Asiah dengan menahan tangisnya.


"Non Asiah, sudah pulang?" tanya Bi Mur saat melihat anak majikannya.


"Bi, orang-orang pada ke mana?" tanya Asiah dengan wajah lelah.


"Nyonya sama Tuan pergi menjenguk Den Athaya ke pesantren. Kalau Den Raya tidak tahu pergi ke mana," jawab sang asisten rumah tangga.


"Di telepon juga mereka tidak mengangkatnya," ujar Asiah dengan mimik wajah yang sedih.


***


     Asiah pun mendatangi rumah mertuanya untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, Rayyan juga tidak ada di sana. Bahkan mertuanya pun sedang ada acara bersama keluarga dari pihak Mentari.


      Perasaan takut kini merasuk ke dalam hati Asiah. Dia takut kehilangan suaminya, laki-laki yang sudah disukainya selama belasan tahun. Hanya tangisan yang bisa dia lakukan saat ini untuk melepaskan kepenatan perasaannya. Dia merutuki kebodohan yang sudah dilakukan selama ini.


"Aa, kamu di mana?" gumam Asiah sambil memeluk bantal yang sering dipakai tidur oleh Rayyan.


     Rasa lelah yang sekarang Asiah rasakan karena kesana-kemari mencari keberadaan suaminya. Dia pun jatuh tertidur di kamar milik Rayyan.


     Sebenarnya Rayyan selalu berada di dekat Asiah. Hanya saja dia sengaja mendiamkan istrinya. Dia melakukan hal itu untuk memberikan pelajaran kepada Asiah agar tidak mengulangi lagi perbuatannya ini.


      Rayyan pun masuk ke dalam kamarnya dan ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap wajah Asiah dan membelai pipinya dengan pelan.


"Kamu ini suka membuat aku khawatir," kata Rayyan pelan.


"Aku harap kamu secepatnya sadar akan kesalahan pilihan kamu itu," ujar Rayyan. Dia pun memeluk tubuh wanitanya dan ikut memejamkan mata. Padahal ini sore hari, waktu terlarang untuk tidur.

__ADS_1


***


     Mobil yang dikendarai oleh Mega memasuki kawasan rumah Tahfiz yang didirikan oleh Abah Ahmad. Kedatangan Raihan dan yang lainnya langsung di sambut oleh Abah dan Ummi. Seperti biasa Rania 'lah, orang yang paling mencuri perhatian orang-orang di sana. Mereka selalu senang jika ada gadis itu datang. Biasanya akan membagikan banyak makanan yang enak untuk anak-anak Tahfiz di sana.


     Raihan, Rain, dan Mega mengeluarkan banyak dus-dus berisi makanan dan peralatan sekolah. Mereka pun membagikan kepada anak-anak yang belajar dalam bimbingan Abah Ahmad.


"Ian, Rain, dan Mega. Ayo, kita makan dulu!" ajak Ummi memanggil para pemuda yang baru saja selesai membagikan bingkisan.


      Alin adalah orang yang baru mereka kenal. Namun, bawaan dirinya yang ramah dan ceria membuat Abah dan Ummi langsung suka padanya.


"Kak Ian," bisik Alin pada suaminya.


"Iya, sini!" kata Raihan yang tahu maksud istrinya.


"Ada apa Alin?" tanya Abah kepada gadis yang bisik-bisik kepada suaminya itu.


"Ini, Abah … Alin itu kalau makan suka satu piring dengan Ian. Katanya selalu nikmat jika makan satu wadah bersama suami," jawab Raihan.


"Ya, Rasulullah juga suka makan satu piring bersama Aisha," balas Abah sambil tersenyum.


"Oh, Kak Rain sini, kita juga makan satu piring," ajak Rania sambil menarik tangan suaminya yang hendak mengambil mentimun.


"Enggak, ah. Kamu kan makannya banyak, nanti aku kehabisan," goda Rain dengan pura-pura cemberut untuk membalas istrinya yang tadi curhat sama Ummi Mirna kalau gara-gara serangga dia terpaksa menikah dengannya.


     Mendengar hal itu, Rain langsung menarik piring milik Rania dan memakannya. Hal ini membuat gadis itu kesal.


"Kak—" Rain langsung memasukan potongan tempe ke dalam mulut Rania. Sehingga istrinya itu langsung mengunyahnya.


     Rain pun memakan makanan yang ada di piring milik Rania. Lalu, setiap Rania hendak protes, dia langsung menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Jadilah, Rain menyuapi Rania. 


     Perasaan Rania sangat senang saat ini. Dia dengan senang hati membuka mulutnya saat Rain menyuapinya.


     Alin yang biasanya makan di suapi pun iri melihat Rain dan Rania. Maka, dia pun meminta Raihan untuk menyuapinya juga. Tentu saja Raihan melakukannya dengan senang hati.


     Hanya Mega dan Chelsea yang menatap iri pada kedua pasangan itu. Berbeda dengan Abah dan Ummi yang tersenyum bahagia bercampur geli melihat tingkah yang dianggapnya lucu.


"Kapan Mega dan Alin akan menyusul menikah?" tanya Abah.


"Hm, insya Allah jika sudah waktunya, Bah," jawab Mega.


"Semoga kalian berjodoh di dunia sampai akhirat," kata Ummi mendoakan Mega dan Chelsea.


"Aamiin," balas kedua pemuda-pemudi itu sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


      Ada rasa was-was juga dalam hati keduanya. Mereka takut kalau tidak berjodoh. Seperti Rain dan Amira. Padahal keduanya saling suka dan bahkan ada niatan menjalin hubungan yang serius. Namun, takdir berkata lain. Ternyata jodoh Rain adalah Rania.


"Berapa hari kalian akan menginap?" tanya Abah begitu mereka Sekadau makan.


"Sehari, Bah. Besok siang kita akan pulang," jawab Raihan.


"Sering-seringlah main ke sini. Abah sama Ummi, sekarang sering kelelahan kalau melakukan perjalanan jauh," ujar Abah.


"Insya Allah, Bah. Saat ini Ian dan Raya sibuk mengurus perusahaan. Alin dan Rania juga sibuk untuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah," balas Raihan.


***


     Saat pagi hari setelah mereka joging. Alin melihat ada pohon jambu cristal di depan rumah Abah dan berbatasan dengan halaman ruang belajar para santri Tahfiz. Dia pun tergiur dengan buah yang tumbuh banyak itu. Maka Alin pun memanjat untuk mengambilnya. 


"Hei, siapa kamu? Pagi-pagi sudah bergelantungan di sana!" teriak seorang wanita tua.


"Tentu saja sedang memanjat pohon dan memetik buahnya," balas Alin dari atas dahan.


"Turun kamu! Anak gadis bergelantungan begitu sepeti orang utan saja," titahnya pada Alin.


"Nenek pikir aku ini orang utan yang suka bergelantungan di pohon. Nenek salah, aku adalah gadis desa yang bar-bar," ujar Alin yang masih betah berdiri di atas dahan pohon.


"Alin!" teriak Raihan dari bawah saat menyadari istrinya sedang memanjat pohon.


"Eh, Kak Ian," gumam Alin saat melihat suaminya sedang menatapnya tajam.


"Turun!" titahnya.


"Sebentar lagi, ya Kak," balas Alin


"Sekarang!" teriak Rayyan.


"Ya, sudah kalau begitu. Nia, kamu juga harus turun!" titah Alin pada adik iparnya.


"Tunggu, tanggung ini sedikit lagi, baru dapat sedikit buahnya," balas Rania yang asik memetik jambu yang berada di bagian lebih tinggi.


"Astaghfirullahal'adzim, Nia! Kamu kenapa ikut-ikutan naik juga," ujar Raihan memegang kepalanya.


***


Apa kedua gadis itu mau turun dari atas pohon atau malah betah di atas pohon? Bagaimana hubungan Asiah dan Rayyan kedepannya? Tunggu kelanjutannya ya!


  

__ADS_1


__ADS_2