Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 30. Malamnya si Trio R


__ADS_3

     Ketika Rain dan Rania sedang di sidang oleh warga dan Rayyan masih setia menemani Asiah yang belum sadarkan diri. Raihan sibuk mencari istrinya yang tiba-tiba hilang. Dia berkeliling seisi rumah dan sekeliling halaman. Bahkan Bi Mar dan Mang Asep juga ikutan mencari.


"Alin ini ke mana, sih!" gerutu Raihan sambil mengedarkan penglihatannya. 


    Ketika dia melihat cincin pernikahan miliknya, langsung saja dia berlari membuka laptopnya dan melacak GPS yang terpasang di cincin pernikahan milik Alin. Titik itu masih berada di rumahnya. Maka, Raihan pun kembali memperkecil ruang lingkupnya di sekitaran rumah.


      Titik pencarian pun dialihkan melalui handphone milik Raihan, agar mempermudah dalam menelusuri ruang-ruang yang ada di rumahnya. Raihan pun sekarang berada di kamar Alin karena titik keberadaannya tepat di sana.


"Alin, aku tahu kamu sedang bersembunyi. Cepat keluar! Kalau kamu masih sembunyi juga, aku akan memberikan hukuman kepadamu, jika aku berhasil menemukanmu!" teriak Raihan masih mencari istri kecilnya.


     Raihan pun kembali ke balkon dan melihat posisi kursi berubah. Lalu dia pun memperhatikan sekitar sana. Raihan mencoba naik ke atap genting. Begitu dia menjulurkan kepalanya terlihat ada sosok yang di cari-carinya sedang berbaring di atas genting. Ya, Alin sedang memandang langit malam yang gelap berselimut awan. Berbeda dengan langit malam yang dilihat oleh Rain dan Rania yang begitu indah. 


"Astaghfirullahal'adzim, Alin," panggil Raihan dan istrinya hanya mengarahkan mukanya saja tanpa membalas sayurannya.


"Sedang apa kamu di sana! Turun!" titah Raihan.


"Sini, Kak! Lihat langit malam," ucap Alin kembali menatap langit. Dia berharap bisa melihat bintang yang kelap-kelip.


"Kenapa bintangnya tidak muncul, ya?" Alin bicara sendiri tanpa mengharapkan balasan dari Raihan.


"Kalau kamu suka dengan langit malam yang bertabur bintang, kapan-kapan kita pergi kencan ke puncak. Biasanya awal bulan Hijriah, langit terlihat dipenuhi oleh bintang karena saat itu bulan mati, atau tidak tampak ada cahaya bulan," ucap Raihan


"Beneran, Kak? Kita akan pergi ke sana?" tanya Alin dengan mata yang berbinar.


"Ya. Yuk, turun! Kita makan, aku sudah sangat lapar," ajak Raihan.


"Kak Ian, saja yang makan. Aku sedang tidak mau makan," ujar Alin menolak ajakan itu.

__ADS_1


"Meski kamu nggak makan, harusnya kamu juga ikut duduk di sana, menemani aku," kata Raihan. Alin pun turun dari genting itu dan menemani makan suaminya. Namun, jika Raihan menyuapinya, dia akan membuka mulutnya. Jadilah, mereka berdua makan bersama bahkan menambah.


***


     Rayyan masih duduk di samping Asiah. Dia mengaji dengan suaranya yang lembut tapi syahdu. Malah Zulaikha tertidur di samping Asiah. Meski sudah di suruh pulang, Rayyan tetap tidak mau beranjak dari kamar sang kekasih.


"Tidurlah Raya. Kamu juga harus bisa menjaga kesehatan. Jangan sampai, saat Aisah tersadar dan gantian kamu yang sakit. Pastinya dia akan merasa bersalah." Yusuf masuk ke kamar putrinya dan berdiri di dekat calon menantunya.


"Raya, tidurnya di sini. Sambil duduk saja, Yah," balas Rayyan.


"Sana di sofa! Badan kamu akan sakit kalau tidur sambil duduk," suruh Yusuf. Mau nggak mau Rayyan pun membaringkan tubuhnya di sofa.


"Maafkan Ayah, Sayang." Yusuf mencium kening Asiah. Lalu dicium juga kening istrinya dan membetulkan selimutnya.


"Ya Allah, berikan lah kemudahan bagi hamba-Mu ini dalam bisa mendidik istri dan putriku," gumam Yusuf.


***


      Hari sudah lewat tengah malam, Fatih dan Mentari baru sampai sana. Begitu juga dengan Bintang dan Ghazali.


"Bunda," panggil Rania langsung memeluk tubuh Mentari.


"Sudah tidak apa-apa. Kalian pasti bisa melewati ujian ini," kata Mentari sambil mengusap kepala dan wajahnya.


     Fatih pun berbicara dengan Kepala Desa dan beberapa warga. Mereka bersikukuh kalau Rain dan Rania harus dinikahkan di sana saat itu juga.


"Mommy, masa aku harus menikah sama Kak Rain," ucap Rania saat Bintang gantian memeluknya.

__ADS_1


"Bagus, dong. Kamu sudah mengenal suami kamu. Rain itu laki-laki yang sangat baik," bisik Bintang membanggakan adik bungsunya.


"Tapi, Nia nggak cinta sama Kak Rain. Bagi Nia, Kak Rain itu sudah seperti kakak sendiri. Sama halnya dengan kak Ian dan kak Raya," ujar Rania.


"Pak Kades, jika mereka tidak mau dinikahkan. Maka, nikahkan saja mereka berdua dengan pemuda yang ada di desa ini. Kayaknya mereka orang-orang kaya," ucap salah seorang warga dan mendapat sambutan setuju dari warga lainnya.


"Tidak! Tidak mau!" Rania langsung menghambur memeluk tubuh Rain. Maksudnya dia mau memeluk tubuh Fatih yang berdiri di sampingnya. Dia ingin meminta perlindungan ayahnya.


"Tuh lihat … lihat! Dia langsung memeluk tubuh pemuda itu," sorak para warga kembali bergemuruh di rumah Kepala Desa.


     Rania yang baru saja sadar salah memeluk tubuh Rain, langsung saja melepaskan pelukan dari tubuhnya. Langsung berpindah kepada Yusuf.


"Pak Kades, ini Pak Penghulu sudah sampai!" teriak warga yang ada di luar rumah Kepala Desa.


"Ayah," panggil Rania pada Fatih. Dia merasa takut dan nggak mau menikah muda.


"Yakinlah, Sayang. Kalau Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk kita. Ingat wanita baik-baik untuk laki-laki baik. Wanita jahat untuk laki-laki jahat. Menurut kamu Rain itu orang baik atau orang jahat?" Fatih mencoba menenangkan putrinya yang sedang dilanda kepanikan.


'Kenapa anak-anak aku jadi punya jodoh di usia yang masih labil?' batin Fatih nelangsa.


"Orang baik," jawab Rania sambil melihat pada mata ayahnya.


"Tuh, makanya percaya kalau dia adalah jodoh terbaik buat kamu," ucap Fatih.


"Mana calon pengantinnya?"


***

__ADS_1


Bagaimana proses pernikahan Rain dan Rania? akan kah berjalan dengan lancar? Tunggu kelanjutannya ya! Seperti biasa jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


Hadiah giveaway minimal untuk 5 orang. Siapa tahu ada rezeki lebih, aku bisa tambah lagi jumlahnya.


__ADS_2