Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 76. Rayyan dan Asiah Bertengkar Lagi


__ADS_3

     Rayyan menghubungi saudara kembarnya. Dia ingin membicarakan masalah liburan bersama pasangan mereka. Saat dia hendak menekan tombol panggilan, terlihat Asiah membanting pintu kamar mandi. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Rayyan pun meletakan kembali handphone miliknya.


"Kenapa kamu membanting pintu? Apa tidak bisa pelan-pelan saja?" tanya Rayyan sambil mendekati istrinya yang kini duduk di kursi meja rias.


     Asiah tidak menjawab pertanyaan dari Rayyan dia malah memasang muka cemberut. Bahkan dia tidak melihat ke arah suaminya.


"Oke, kalau kamu sudah tidak mau bicara dan melihat wajah aku lagi," ucap Rayyan sambil pergi meninggalkan Asiah.


"Kamu jahat!" Asiah melemparkan sisir yang sedang dia pegang kepada Rayyan.


"Asiah perbuatan kamu ini sungguh tidak beradab!" Rayyan membalikan badannya.


"Kamu sudah tidak sayang lagi sama aku 'kan, A," kata Asiah dengan air mata yang mulai meluncur membasahi pipinya.


"Justru kamu yang tidak sayang pada dirimu sendiri," balas Rayyan.


"Kamu egois," ujar Asiah.


"Bukannya kamu yang egois," balas Rayyan.


"Kamu yang egois! Tidak mengizinkan aku untuk ikut pergi bersama teman-teman. Kamu hanya ingin mengurung aku! Kamu tidak pernah percaya sama aku!" teriak Asiah.


"Aku tidak memberikan izin kepadamu karena sudah tahu apa alasannya. Aku tidak pernah mengurung kamu. Kamu masih bebas pergi ke luar rumah asal tujuannya jelas. Aku sangat percaya kepadamu selagi kamu tidak mengkhianati kepercayaan aku," balas Rayyan.


     Asiah dan Rayyan saling beradu pandang. Kesal, rindu, sayang, dan cinta beradu di dalam hati keduanya.


"Setidaknya izinkan aku kali ini saja pergi bersama teman-teman," kata Asiah lirih berharap suaminya luluh.


"Tidak. Aku tidak akan memberikan izin sampai kapan pun, jika kamu pergi ke tempat-tempat yang akan membahayakan dirimu," balas Rayyan.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Mereka juga bukan orang-orang jahat!" Nada suara Asiah kembali normal.


"Aku tidak bilang kalau mereka jahat. Hanya saja aku tidak mau kamu mendatangi tempat yang akan membuat kamu kesusahan nantinya," ujar Rayyan kukuh pada pendiriannya.


"Aku tidak suka dengan sifat kamu yang sangat posesif. Ini membuat aku muak!" bentak Asiah.


"A-pa rasa kepedulian aku ini posesif? Jika kamu tidak mau aku peduli lagi, baiklah. Lakukan saja semua yang ingin kamu lakukan. Aku tidak akan peduli lagi," ucap Rayyan dengan suaranya yang bergetar. Dia pun pergi ke luar kamarnya.


     Asiah menangis histeris. Hatinya sangat sakit saat mendengar kata-kata terakhir suaminya. Bukan itu yang maksud, bukan ini yang yang dia inginkan.


***


     Raihan sedang membuatkan susu untuk Alin. Istrinya itu mulai nggak mau minum susu lagi. Bosan, mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Alin. Sudah satu tahun dia minum susu di pagi dan malam hari. Padahal dia kurang suka minum susu.


"Alin, Sayang! Minum dulu susunya," kata Raihan sambil memberikan gelas yang dia bawa.


"Kak, sampai kapan aku harus minum susu?" tanya Alin dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Sampai kamu tinggi," jawab Raihan.


"Aku sudah bertambah tujuh sentimeter sejak mulai minum susu. Apa masih kurang?" Alin pun mulai meminum susunya.


"Ya, setidaknya sampai aku tidak perlu membungkuk saat ingin mencium kamu," balas Raihan sambil tersenyum jahil.


    Alin mengerlingkan bola matanya dengan malas. Bisa-bisa seumur hidupnya harus minum susu.


"Sudah jangan cemberut gitu. Nanti aku ajak kamu jalan-jalan," kata Raihan dan itu langsung membuat Alin bersemangat dengan mata yang berbinar.


"Beneran, Kak?" tanya Alin.


"Iya, bener. Yuk, sudah waktunya tidur!" Ajak Raihan.


     Seperti biasa Alin ingin digendong oleh suaminya sampai ke kamar. Bagi Raihan hal seperti ini tidak sulit baginya.


***


     Rain memandang wajah Rania yang baru saja dia baringkan di atas tempat tidurnya. Perlahan dia mencium kening Rania setelah membuka jilbabnya.


"Jadilah istri yang sholeha. Tempat aku pulang. Tempat aku berbagi perasaan," gumam Rain sambil membelai wajah Rania.


     Baru saja dia menerima laporan kalau laki-laki yang bernama Ibrahim itu merupakan guru magang di sekolah istrinya. Hal yang membuatnya kesal adalah laki-laki itu juga mulai menyelidiki tentang Rania.


     Handphone miliknya bergetar menandakan ada panggilan untuknya. Ternyata itu adalah panggilan video call dari grup dia bersama sepupu-sepupunya.


"Ada apa?" tanya Rain sambil meninggalkan kamar Rania.


     Di layar handphone terdapat 4 wajah laki-laki tampan. Seperti biasa mereka selalu membahas bersama-sama jika ada sesuatu yang terjadi pada salah seorang dari mereka.


"Aku dan Asiah berantem," kata Rayyan.


"Aku sarankan kamu ikut saja bersama kami ke rumah Kiai Samsul. Setelah itu kita ke rumah kakek dan neneknya Asiah. Tidak jauhkan kalau dari sana. Kita menginap di sana," ucap Raihan.


"Ya, aku setuju dengan ucapan Ian. Selain kita bersilaturahmi, kita juga bisa liburan di sana," kata Mega mendukung.


"Rain, menurut kamu gimana?" tanya Rayyan.


"Iya, menurut aku ini ide yang baik. Coba kamu bicara lagi dengan Asiah secara pelan-pelan, agar dia tidak terpancing emosinya," jawab Rain.


"Sekarang pasti dia masih marah dan apapun yang kami bicarakan nanti ujung-ujungnya malah membuat kita bertengkar. Besok aku ajak bicara lagi dia," ucap Rayyan.


     Keempat laki-laki itu pun membahas hal yang lainnya. Sampai masalah bisnis juga mereka bicarakan. 


***


"Bagaimana Asiah? Apa keluarga kamu kasih izin?" tanya Hana di seberang telepon sana.

__ADS_1


"Tidak. Mereka bilang kalau itu acara yang tidak memberi manfaat," jawab Asiah.


"Kita 'kan bisa mempererat tali persahabatan kita. Dengan berinteraksi dengan orang lain. Kita ini makhluk sosial yang perlu bersosialisasi dengan orang lain dan sekitarnya," ujar Hana.


"Iya. Tapi, mereka itu takut terjadi apa-apa kepadaku," balas Asiah.


"Kita semua akan menjaga kamu. Jangan samakan kita dengan orang-orang yang tidak baik. Kita punya hati, pikiran, dan perasaan. Tahu mana yang baik dan buruk," jelas Hana lagi.


"Iya, aku sudah bilang begitu juga," ucap Asiah.


"Jadi, kamu tidak akan ikut? Nggak akan menyesal tidak bersama-sama dengan teman untuk mempererat tali silaturahmi," kata Hana dan membuat Asiah goyah lagi.


"I-tu … aku ingin ikut bersama kalian. Tapi …."


***


     Ibrahim mendatangi kantin sekolah dan dia mengedarkan pandangannya mencari gadis yang sudah mencuri hatinya. Namun, gadis cantik itu tidak ada di sana. Maka dia pun berjalan menuju kelas yang ada di lantai atas. 


BRUK!


"Aww," kata Rania saat tubuhnya bertabrakan. Keningnya kena dagu orang yang ditabraknya itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ibrahim dan memegang tangan Rania yang sedang mengusap keningnya.


"Eh, Pak Baim. Tidak apa-apa kok, Pak," ucap Rania sambil mundur dua langkah.


"Sini aku periksa," ucap Ibrahim sambil salah satunya memegang kening Rania.


     Alin dan Chelsea yang berjalan belakangan terkejut melihat pemandangan itu. Ide jahil  Chelsea langsung bangkit, dia foto adegan itu lalu di kirim ke pacarnya. Dia yakin kalau kekasihnya itu juga akan memberi tahu Rain.


"Kira-kira Kak Rain akan cemburu nggak, ya? Melihat Rania bersama laki-laki lain," tanya Alin sambil berbisik.


"Huh, aku ingin membuat Kak Rain panas, dingin, sampai kejang-kejang kalau perlu. Nia bilang, suaminya itu tidak cinta sama dia. Makanya kita harus uji benar atau enggak," jawab Chelsea.


"Aku setuju!" desis Alin dengan senyum jahilnya.


"Kita bantu Nia," kata Chelsea lagi.


"Setuju!" seru Alin.


***


😆😆 Rain mau dijahili sama bocah bau kencur. Kira-kira apa yang akan terjadi pada Rania, akibat ulah jahil iparnya itu? Apa Asiah akan menuruti egonya atau menuruti suaminya? Tunggu kelanjutannya ya!


Teman-teman aku mau up novel baru nih. Kira-kira mau yang mana dulu:


# HANYA SEKEDAR IBU SUSU

__ADS_1


# RAHASIA JELITA


# DZIKIR CINTA SANG PENDOSA


__ADS_2