Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 57. Perasaan Raihan dan Alin


__ADS_3

Mendengar kata-kata Raihan barusan membuat Alin terkejut. Matanya bergetar dan mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Kak Ian malah memberikan keputusan terakhir pada Alin?" Anak gadis dari pasangan Abimanyu dan Aruna itu kesal karena diserahi pilihan untuk hubungan pernikahannya mau lanjut atau diakhiri.


"Bukannya kamu yang merasa tidak bahagia karena sering aku kasih hukuman. Makanya aku serahkan keputusan terakhir padamu," kata Raihan dengan pelan.


"Tuh kan, Bun. Kak Ian itu suka gitu sama Alin. Ngeselin! Masa harus Alin yang harus menentukan pilihannya," kata Alin sambil menangis.


"Lalu, Alin maunya apa?" tanya Aruna sambil membelai sayang kepala putrinya.


"Ya, seharusnya Kak Ian bilang tidak mau pisah sama Alin. Baru nanti Alin bilang juga nggak mau pisah sama Kak Ian," jawab Alin dan sukses membuat semua orang melongo mendengar jawaban Alin.


     Abimanyu menepuk jidatnya, dia merasa malu dengan jalan pikiran Alin. Sementara itu, Fatih dan Mentari menahan tawanya.


"Alin, sudah jadi korban sinetron nih," kata Aruna.


"Bukan sinetron Bunda, tapi drakor, dracin, sama novel online. Mereka itu kalau pasangan suami istri bertengkar lalu pergi, nanti suaminya akan menyusul, lalu mereka akan baikan lagi. Kenapa sekarang Alin di suruh pisah sama Kak Ian. Pokoknya Alin nggak mau jadi janda," ujar Alin masih dalam isakannya.


     Raihan merasakan perasaannya melambung. Dia senang kalau Alin tidak mau berpisah dengannya. Sebenarnya dia juga ingin tertawa seperti kedua orang tuanya saat mendengar tutur kata Alin barusan.


"Astaghfirullahal'adzim, Alin. Kamu ini jangan jadi korban hal yang begituan!" ucap Abimanyu menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu Alin tidak mau berpisah dengan Ian?" tanya Mentari dan Alin mengangguk.


"Alin cinta sama Ian?" tanya Aruna dan Alin juga mengangguk.


     Raihan serasa mau melompat-lompat saat melihat Alin menganggukan kepalanya. Kalau tidak ada orang lain dia pastinya akan memeluk tubuh kecil istrinya itu.


"Ya sudah kalau begitu, kalian berdua baikan lagi, ya?" Aruna menepuk punggung putrinya.


"Eh." Alin baru sadar akan sesuatu.


"Bunda nakal! Kenapa yang ditanya cuma Alin sedangkan Kak Ian tidak ditanya?" Alin merengek karena malu.


"Coba tanya sendiri, suami kamu cinta nggak sama Alin," balas Aruna.


"Kalau begini jadinya Alin duluan yang membuat pengakuan. Alin malu, Bunda," ucap Alin sambil memeluk tubuh Aruna.


"Kenapa meski malu? Wajar jika seorang istri mencintai suaminya," ujar Abimanyu.


"Gimana kalau Kak Ian tidak cinta sama Alin? Nanti mau ditaruh di mana muka Alin." Alin masih memeluk tubuh ibunya.


"Siapa bilang aku tidak cinta sama kamu," ucap Raihan.


     Alin melepaskan pelukannya pada Aruna. Lalu, dia melihat ke arah Raihan. Mata, hidung, bibir, dan pipi Alin sudah memerah.

__ADS_1


"Kak Ian, cinta sama Alin?" tanya Alin dengan polos tanpa beban seakan lupa kejadian sebelumnya.


"Ya, aku mencintaimu, Alin. Apa kamu juga mencintaiku?" tanya Raihan balik.


"Ya, Alin cinta sama Kakak," balas Alin dengan seulas senyuman miliknya.


"So sweet banget kalian berdua, mengungkapkan cinta di depan kedua orang tua," kata Rania yang tiba-tiba muncul di sana.


"Nia," panggil Alin dan Raihan bersama.


"Assalamu'alaikum, semuanya." Rania tersenyum lebar.


"Wa'alaikumsalam," balas mereka yang ada di sana.


     Alin berlari ke arah Rania lalu memeluknya. Kedua gadis itu saling berpelukan dan tersenyum.


"Kangen," kata keduanya.


     Raihan hanya bisa cengo melihat istrinya malah memeluk Rania bukan dirinya yang baru saja mengungkapkan cinta padanya. Sekarang ini dia entah harus merasa senang atau enggak karena baru saja mengumumkan perasaannya di depan orang banyak. Namun, reaksi Alin di luar perkiraan dia.


"Sabar, ya, Ian. Alin masih butuh bimbingan dan pengertian. Kamu sebagai suami harus ekstra sabar dalam membimbing istrimu. Alin itu kadang jalan pikirannya sulit kita tebak," ucap Abimanyu.


"Kalau sama Alin jangan berpikiran jauh. Cukup berpikir sederhana saja," lanjut Aruna sambil tersenyum pada Raihan. 


     Alin langsung melepaskan pelukan pada sahabatnya itu. Lalu dia jalan malu-malu mendekat pada Raihan.


"Kak Ian, yang peluk duluan." Alin berdiri di depan suaminya.


"Dasar bocah ingusan, bisa-bisanya buat aku ketar-ketir," bisik Raihan lalu memeluk Alin. Senyum simpul pun tercipta di wajahnya yang tampan.


     Alin pun membalas pelukan Raihan dan menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan. Lalu berkata, "Kangen."


     Wangi tubuh dan pelukan hangat suaminya langsung bisa dirasakan oleh Alin. Dia juga berbisik, "Kak, ciumannya mana?"


"Kamu ingin aku cium?" tanya Raihan sambil berbisik.


"He-eh," jawab Alin sambil mendongakkan wajahnya.


     Raihan membungkuk dan Alin berjinjit dengan sebelah kaki kanan sedangkan kaki kirinya ditekuk ke belakang. Kedua tangan Alin ada di bahu Raihan sedangkan tangan pemuda itu di pinggang dan di tengkuk istrinya. Bibir keduanya bertemu walau sebentar. Keduanya saling melempar senyum.


"I love you, Alin," bisik Raihan.


"I love you too, Kak Ian," balas Alin dan mereka berciuman kembali.


     Orang-orang yang ada di sana merasa malu saat melihat langsung adegan itu di depan mereka. Rain sampai menutup mata Rania. Dia tidak mau mata istrinya tercemar.

__ADS_1


"Kak Rain, apa yang sedang Kakak lakukan?" Rania ingin menurunkan tangan yang menutupi matanya.


"Jangan dilihat! Kamu masih di bawah umur," balas Rain dan itu membuat Rania kesal.


"Nia sudah sering melihat orang berciuman," ucap Rania sambil membalikan badannya dan menatap wajah suaminya.


"Nakal kamu, ya." Rain memencet hidung istrinya dengan gemas.


"Banyak adegan ciuman di drakor sama di dracin yang sering Nia dan yang lainnya tonton," pungkas Rania dengan senyum lebarnya yang nakal.


"Jangan tonton yang begituan lagi!" titah Rain dan mengajak istrinya duduk di sofa.


"Kenapa kalian sudah pulang liburannya?" tanya Mentari pada putri dan menantunya.


"Alin tadi kirim pesan, kalau Kak Ian berubah jadi monster," bisik Rania pada ibunya.


"Hah. Monster? Apa maksudnya?" tanya Mentari.


Percakapan Rania dan Mentari dapat didengar oleh Raihan yang masih memeluk Alin. Dia pun langsung melepaskan pelukannya.


"Alin, apa maksudnya aku berubah jadi monster?" tanya Raihan sambil menatap wajah istrinya.


"Itu ... habis Kak Ian tadi tiba-tiba saja berubah seperti orang lain," jawab Alin dengan gugup.


"Sepertinya kamu senang sekali diberi hukuman," bisik Raihan lalu menggendong Alin.


"Kak Ian—"


"Sttt, diam," bisik Raihan.


"Ayah ... Bunda ... semuanya Alin ngantuk mau bobo. Kita undur diri mau ke kamar," ucap Raihan sambil menggendong Alin yang menyembunyikan wajahnya karena sangat malu.


"Iya. Kamu jangan macam-macam dulu, Ian!" Fatih memberi peringatan.


"Tenang, Yah. Paling cuma satu macam," balas Raihan yang masuk ke dalam lift.


***


Hubungan Raihan dan Alin lagi manis-manisnya. Bagaimana dengan Rayyan dan Asiah? Tunggu kelanjutannya, ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk menjadi penyemangat buat aku 🤗🤗.


Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Kepoin karya teman aku, nih. Yuk baca karyanya.



     

__ADS_1


__ADS_2