
"Dengar Ian, meski kamu terpaksa menjalani pernikahan ini. Niatkan lagi kalau kamu menikah untuk menyempurnakan agama. Jangan ada keraguan dan keterpaksaan dalam menjalani ini, agar pernikahan ini sah di mata Allah," kata Fatih saat menasehati putranya.
"Ian, mungkin ini takdir yang harus kamu jalani. Pasti akan ada hikmah di balik semua ini. Mungkin saja Alin adalah sumber kebahagian kamu di masa depan," lanjut Khalid.
"Iya, Yah ... Opa. Hanya saja sungguh Ian tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak tahu sama sekali ada orang masuk ke kamar," ucap Raihan.
"Kami percaya padamu, kalau kamu tidak akan melakukan hal yang dilarang agama. Hanya saja, siapa tahu saat kalian tidur, itu tangan gerayangan ke mana-mana," ujar Rayyan.
"Memangnya aku seperti kamu! Yang suka ...." Raihan ragu-ragu untuk mengucapkan perkataannya saat melihat tatapan kembarannya itu.
"Memangnya apa yang suka di perbuat oleh Raya?" tanya Fatih dan Khalid bersamaan.
"Bukan apa-apa, Yah ... Opa. Ian saja jilid," balas Rayyan.
Raihan cuma bisa menyeringai jahil. Dia sebenarnya sudah beberapa kali melihat Rayyan dan Asiah berciuman. Walau saat di interogasi olehnya, Rayyan mengaku Asiah yang suka memulai duluan.
"Awas kalau kamu ngadu sama mereka!" ancam Rayyan.
***
Sementara itu, di kamar Rania. Mentari dan Aruna mendandani Alin menjadi seorang calon pengantin. Meski dengan memasang wajah cemberut dan tatapan memelas pada Bunda dan calon mertuanya.
"Sudah jangan cemberut. Kamu itu harusnya bersyukur punya calon suami yang soleh, ganteng, pinter, dan penyayang seperti Ian," kata Elina, sang Oma dari pihak Ayahnya.
"Tapi, Oma. Masa nggak kasihan sama cucu Oma yang cantik ini harus menikah muda. Bagaimana masa depan aku? Pastinya nggak asik, nggak bisa main sama teman-teman, nggak bisa nongkrong, kemping juga kayaknya nggak akan bisa," kata Alin meracau meski di depan calon mertuanya.
"Siapa bilang Alin nggak akan bisa melakukan itu semua?" tanya Mentari sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih bisa kok melakukan itu ...." Belum juga Aruna selesai bicara Alin sudah memotongnya.
"Beneran, Bunda! Aku masih bisa melakukan itu?" tanya Alin dengan perasaan bahagia.
"Tentu saja. Kamu lakukan semua itu bersama Ian, nantinya," jawab Aruna dan membuat senyum Alin hilang dari wajahnya.
"Aduh, calon mantu Bunda sudah cantik sekarang," kata Mentari.
Alin pun mendapat nasehat dari para orang tua dan ustadzah. Mereka memberi tahu keutamaan menikah. Apa itu hak dan kewajiban seorang istri. Meski waktunya singkat, mereka berusaha memberikan pemahaman kepada calon pengantin wanita, agar rumah tangga mereka bisa menjadi shakinah, mawadah, warahmah.
***
"Rain ke mana, ya? Kenapa sulit sekali dihubungi?" gumam Rayyan.
"Aa~!" terdengar suara Asiah. Begitu Rayyan membalikan badannya, kekasihnya itu sudah main terjang dan memeluk tubuh tingginya.
"Oops, lupa. Habis kangen, seharian ini baru bertemu," kata Asiah sambil menutup mulutnya.
"Astaghfirullahal'adzim, harusnya kita yang menikah sekarang, bukan Ian dan Alin," gerutu Rayyan karena tidak tahu harus menasehati bagaimana lagi agar kekasihnya itu jangan suka main peluk dan cium dirinya. Meski dia juga menyukai itu.
"Kita minta mereka sekalian menikahkan kita saja!" seru Asiah dengan mata berbinar.
"Dengar, Sayang. Kan ada peraturan dari universitas, kalau dosen baru dilarang menjalin hubungan dengan mahasiswi-nya," kata Rayyan.
"Pernikahan ini tidak di publikasikan kepada umum. Kita juga lakukan hal yang sama saja," ucap Asiah sambil tersenyum jahil.
"Belum menikah saja kamu suka nyosor duluan. Gimana kalau sudah nikah," gumam Rayyan.
__ADS_1
"Apa, A. Aku nggak dengar?" tanya Asiah.
"Tanya Ayah Yusuf dulu. Dikasih izin nggak buat nikah, kalau di kasih izin, ayo kita minta nikah sekalian," balas Rayyan.
'Sudah jelas-jelas tidak akan dikasih izin menikah sebelum usia dua puluh tahun. Ini ngebet ingin menikah,' kata Rayyan dalam hati.
"Oke, aku minta izin dulu sama Ayah dan Mama!" Asiah berlari mencari kedua orang tuanya.
***
Karena Alin terlahir dari hasil diluar nikah, maka walinya adalah wali hakim. Saat Alin meminta wali hakim untuk menikahkan dirinya dengan Raihan, itu membuat Abimanyu sedih, bahkan menangis. Anak gadis satu-satunya, saat menikah yang menjadi wali nikahnya bukan dia.
Kini Raihan menjabat tangan yang menjadi wali nikahnya Alin. Jantungnya berdebar dengan kencang, dia takut melakukan kesalahan dalam pengucapan nama calon istrinya. Maka, dalam hati Raihan berdoa semoga diberi kelancaran dan kemudahan, sebelum ijab qobul di mulai.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan memohon Rahmat dan berkat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Saya nikahkan dan kawinkan Alin Adya Arkatama binti Aruna Adya Abinawa dengan engkau Muhammad Raihan Muchtar Hakim dengan wali hakim dengan mas kawin uang sebesar 17 Miliar rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alin Adya Arkatama binti Aruna Adya Abinawa untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!"
"Sah."
***
🎉🎉 Yey akhirnya Raihan sudah sold out. Bagaimana kisah mereka menjalani kehidupan rumah tangga? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga 🤗🤗. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
NB: Author lupa nama lengkap Raihan 🙈🙈
__ADS_1