
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia.
***
Bab 87
Suasana apartemen Rain kini terasa sepi. Laki-laki itu pun hanya bisa mondar-mandir di depan pintu kamar istrinya. Sejak sampai tadi sore, Rania belum menunjukan batang hidungnya.
Pintu kamar Rania sudah dia ketuk beberapa kali. Namun, si pemilik kamar tidak juga membukanya. Rain awalnya berpikir kalau Rania sedang mandi. Maka dia tunggu 30 menit, tetapi saat dia ketuk pintunya lagi, masih tidak ada balasan dari dalam. Akhirnya, Rain memutuskan akan menunggunya 30 menit lagi. Ternyata masih tetap saja sama. Rania tidak membuka pintu kamarnya.
"Nia, buka pintunya. Aku mau bicara sesuatu!" panggil Rain dengan agak keras. Rain pun kembali mengetuk pintu itu.
Rain yang merasa kesal pun akhirnya masuk ke dalam kamar istrinya. Terlihat kalau Rania sedang tidur cantik. Hal ini membuat Rain bertambah kesal. Dia mendengus kasar dan ingin menggigit istrinya itu karena gemas.
"Nia, bangun! Kamu belum makan malam," ucap Rain karena tidak mau nanti istrinya kelaparan saat tengah malam.
Pipi mulus Rania di cubit-cubit dengan gemas oleh Rain. Melihat bibir merah alami milik Rania membuat Rain menahan napasnya. Dia tergoda untuk merasakan lagi lembutnya bibir milik istrinya itu.
"Nia bangun! Kalau kamu tidak bangun aku cium kamu, loh!" ancam Rian dengan berbisik di dekat telinga Rania berharap istrinya itu dengan cepat bangun.
BRUG!
Bukan ciuman yang didapat oleh Rain, tetapi tinjuan pada pipinya, yang dilakukan oleh Rania. Rain pun mengaduh karena tonjokan kuat barusan kena sudut bibirnya juga. Sehingga mengalami luka karena tergigit tadi.
"Awww, sakit! Awas, ya. Aku akan balas nanti," gerutu Rain sambil memencet hidung mancung Rania dengan gemas lalu pergi meninggalkan kamar istrinya itu.
Rania yang hidungnya di pencet oleh Rain merasa terganggu tidurnya. Dia pun terbangun. Tentu saja dengan rasa kesal dan rasanya dia juga ingin memarahinya.
"Siapa sih, yang sudah ganggu tidur aku," gerutu Rania lalu melanjutkan tidurnya lagi.
***
Berbeda dengan Alin yang sedang makan sambil di suapi oleh Raihan. Kedua insan yang sedang jatuh cinta ini, lebih suka melakukan hal bersama dalam kegiatan yang mereka lakukan. Seperti tadi saat masak. Alin memasak dan Raihan menjadi asistennya atau lebih tepatnya orang yang disuruh-suruh oleh Alin untuk ini itu. Tentu saja Raihan setelah melakukan apa yang disuruh oleh istrinya itu minta imbalan.
__ADS_1
"Besok kita masak apa lagi, ya?" tanya Alin sambil memandang wajah tampan suaminya.
"Apapun makanannya asal itu masakan kamu, pasti akan aku makan," jawab Raihan sambil menggelitik dagu Alin.
Sudah sebulanan ini, Alin yang memasak untuk makan malam dia dan suaminya. Bi Mar sudah disuruh istirahat mulai dari Magrib. Meski kadang asisten rumah tangga itu bersikukuh membantu Alin. Namun, sejak Raihan memintanya sambil membisikan sesuatu, wanita paruh baya itu tidak membantu Alin lagi.
"Uh, manisnya suami aku," balas Alin sambil menggelitik dagu Raihan dengan bibirnya yang manyun. Tak jarang Raihan suka mencuri kesempatan untuk mencium Alin. Mau itu di pipi, kening, atau bibirnya.
"Kak Ian, suka sekali mencium Alin," gerutunya karena barusan Raihan mencuri kecupan singkat ke bibir Alin yang sedang monyong.
"Ya, sudah besok aku ciumnya Mbak Regina saja. Pasti dia suka," ujar Raihan sambil mengerlingkan matanya ke arah Alin.
"Kak Ian jahat! Alin bilangin sama Bunda kalau Kak Ian sudah selingkuh sama tetangga seksi di depan rumah," teriak Alin sambil berkaca-kaca.
"Lalu aku harus cium siapa?" tanya Raihan dengan nada kesal karena dia sedang berpura-pura.
"Eh, sama … sama pemilik meong saja," jawab Alin dengan gugup dan malu.
"Nggak ah, pemilik meong itu masih bocah ABG, mana suka bergelantungan lagi di pohon," ujar Raihan sambil menahan senyumnya melihat ekspresi Alin yang sudah siap menumpahkan air mata.
Saat hendak Alin melangkah, Raihan sudah menarik tubuhnya dan gadis itu jatuh di pangkuannya. Dilingkarkan kedua tangannya di perut sang istri.
"Kamu marah? Ngambek? Kesal?" tanya Raihan sambil memandang wajah Alin yang sedang masam.
"Kak Ian nakal," bisik Alin dengan menahan isak tangisnya. Hanya air mata saja yang jatuh di pipi.
"Aku punya hak untuk menyentuh kamu Alin. Mau itu memeluk seperti ini atau mencium seperti ini," kata Raihan sambil memberikan ciumannya di kening.
"Aku malu," balas Alin mencicit.
"Malu sama siapa?" tanya Raihan sambil melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada siapa-siapa.
"Sama Nia dan Chelsea. Mereka kan tidak pernah ciuman. Sementara Alin, tiap hari sering ciuman sama Kak Ian," jawab Alin dan Raihan malah memasang wajah menganga.
__ADS_1
"Nia, tadi pagi sudah ciuman sama suaminya," jawab Raihan mengingatkan Alin akan kejadian tadi pagi.
"Eh, iya, ya. Soalnya aku membicarakan ini malam kemarin. Mereka bilang jangan sering berciuman, nanti bibirnya memble," ucap Alin dan membuat Raihan tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Kamu bisa aja dikibuli. Nggak lah. Lihat saja, bibir kamu nggak memble. Justru bibir kamu ini seksi," puji Raihan sambil menyentuh bibir istrinya dan itu membuat Alin tersipu malu.
'Aduh gara-gara ngomongin hal beginian, kepala aku jadi pusing,' batin Raihan merana.
"Sudahlah, Sayang. Mulai besok kita cukup dua kali saja ciumannya," lanjut Raihan sambil menurunkan Alin dan dia pun berdiri.
"Ini sudah malam, cepat tidur," titah Raihan.
"Eh, kayaknya jam delapan malam saja belum," gumam Alin sambil melihat jam di dinding untuk memastikan.
***
Rayyan hampir saja kepergok oleh Asiah, saat sedang berdiri di balkon kamar sambil mengerjakan tugas kantornya. Untungnya dia mendengar saat suara kunci pintu sebelah di buka. Rayyan langsung berlari masuk ke kamar. Dia lupa meninggalkan gelas berisi air lemon madu miliknya di meja luar.
"Semoga saja Asiah tidak melihat gelas itu," gumam Rayyan.
Harapan Rayyan tidak terkabul. Asiah melihat gelas itu dan memanggil nama saudara kembar suaminya.
"Ian! Ian … kamu menginap di sini juga? Apa Alin ikut menginap?" panggil Asiah dan bertanya dengan berteriak.
'Aku harus cepat ke luar dari kamar ini. Bisa-bisa Asiah mendatangi kamar ini,' batin Rayyan sambil membereskan jejak dia di kamar itu dengan cepat.
"Ian, ini aku, Asiah!" teriak Asiah sambil mengetuk pintu.
"Ian, apa kamu baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab aku?" teriak Asiah dari balik pintu.
'Gawat, gawat, gawat! Aku harus bagaimana sekarang?' Rayyan bertanya dalam hatinya. Dia mulai panik karena bisa ketahuan oleh istrinya.
***
__ADS_1
Akankah Rayyan ketahuan oleh Asiah? Bisakah Rain meluluhkan Rania yang sedang ngambek? Kuatkan Raihan menahan dirinya dari Alin? Tunggu kelanjutannya ya!