
Fatih membawa mereka semua ke restoran tempat biasa mereka makan bersama. Mentari melihat ke arah anak-anak yang sibuk membuka hadiah untuk Asiah. Ketiganya terlihat senang dan saling berceloteh.
"Asiah, bagus 'kan kado dari aku ini?" tanya Raihan dengan bangga.
"Iya, bagus. Aku suka!" seru Asiah sambil tersenyum senang.
Raihan memberikan kado tempat pensil 3D bergambar Asiah. Gambar itu bisa berubah-ubah ekspresi wajahnya. Begitu juga dengan beserta isinya semua bergambar wajah Asiah. Semua barang ini adalah pesanan khusus untuk kado ulang tahun Asiah.
"Sekarang buka kado dari aku!" Rayyan meminta Asiah membuka kadonya.
"Ini apa?" tanya Asiah sambil membulak-balikan kado berbentuk segi panjang.
"Buka saja!" titah Rayyan.
Asiah pun membuka kadonya. Ternyata sepasang jam tangan berwarna pink dan biru, dengan desain berbentuk kepala yang berwajah mirip Asiah. Jika, dibuka akan ada jam digital yang menunjukan waktu sekarang. Begitu juga dengan jam satunya lagi hanya saja beda ekspresi.
"Lucu ... sekali! Apa ini juga wajah aku?" Asiah melihat ke arah Rayyan.
"Iya. Itu kamu. Kalau lagi tersenyum sama lagi memarahi kita-kita," jawab Rayyan sambil menunjuk ekspresi di kedua jam itu.
"Terima kasih. Aku suka dengan kado dari kalian berdua," ucap Asiah. Ketiganya kembali berceloteh riang.
Baik Mentari maupun Fatih merasa senang karena melihat ketiga bocah itu. Wajah Asiah juga kini sudah ceria kembali.
"Mas, sebaiknya kita hubungi Ayahnya Asiah. Kasihan, dia pasti sedang cemas mencari anaknya," kata Mentari.
"Sayang, tolong yang hubungi. Aku tanggung lagi menyetir."
Mentari pun mencoba menghubungi Yusuf, tetapi tidak di angkat. Dia mencoba beberapa kali, tetap saja nggak diangkat.
"Mas, kok nggak diangkat?" Mentari melirik ke arah Fatih.
"Coba hubungi nomor Zulaikha!" suruh Fatih.
__ADS_1
"Zulaikha? Kayak nama temannya Bintang."
"Memang benar dia temannya Bintang."
"Apa? Jadi, Mama Zulaikha yang dimaksud oleh Asiah itu, si Zul?" Mentari shock mengetahui itu.
"Iya, kayaknya begitu." Fatih menampilkan gigi rapinya.
Mentari pun mencoba menghubungi Zulaikha. Hal yang sama juga terjadi. Panggilannya tidak diangkat.
"Sama nggak diangkat, Mas."
"Masa mereka masih bertengkar, sampai-sampai panggilan telepon nggak di angkat-angkat," ucap Fatih.
"Bagaimana, jika mereka sekarang sedang mencari Asiah dan mereka melupakan handphone miliknya," tukas Mentari.
"Bisa jadi. Kirim pesan saja, Yang. Biar mereka tahu saat buka ponsel mereka," titah Fatih.
***
Yunus memberi kode kepada Zulaikha dengan menunjuk ke arah cctv. Dia pun paham maksudnya.
"Om, kita minta tim keamanan untuk memeriksa cctv ke mana Asiah pergi setelah keluar dari apartemen," kata Zulaikha.
"Benar juga. Kenapa tidak sampai kepikiran oleh aku tadi," gumam Yusuf.
Kedua orang itu pun meminta bantuan kepada tim keamanan di apartemen itu untuk melacak keberadaan Asiah. Mereka mulai memeriksa kamera di waktu perkiraan Asiah menghilang.
"Lihat Asiah berlari dan masuk ke dalam lift!" Yusuf melihat putrinya lewat salah satu layar di sana.
"Eh, ada si Kembar dan kedua orang tuanya," ucap Zulaikha sambil menunjuk kelima orang yang berada di area parkir.
"Apa Asiah sedang bersama mereka?" Tanya Yusuf.
__ADS_1
"Wow ...." Zulaikha melihat Mentari dan Fatih sedang berciuman dia area parkir setelah anak-anak masuk ke dalam mobil.
Bukan hanya Zulaikha yang melihat itu. Yusuf juga melihatnya dan merasa malu karena mengingat kejadian dia dengan Zulaikha.
"Kita hubungi orang tua si Kembar," kata Zulaikha.
"Iya, sebaiknya begitu."
Yusuf baru menyadari kalau dia tidak membawa handphone miliknya. "Sepertinya ponsel aku ketinggalan di kamar."
"Sepertinya punya aku juga sama," lanjut Zulaikha.
***
Yusuf melihat banyak panggilan tak terjawab dan ada pesan masuk yang mengatakan kalau Asiah ikut makan malam bersama. Dia pun berniat untuk menjemputnya.
Mengetahui Yusuf mau pergi ke tempat Asiah. Zulaikha juga ingin ikut. Jadinya mereka pergi ke restoran tempat keluarga si Kembar makan malam.
***
Sementara itu, di rumah Bilqis. Gadis itu sedang menanti kedatangan laki-laki yang hendak menemui orang tuanya. Namun, sudah lebih beberapa jam dari jadwal yang di rencanakan, pria itu belum datang juga. Ada rasa takut telah terjadi sesuatu kepada calon laki-laki yang ingin meminangnya.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi sesuatu kepada Pak Yusuf." Bilqis berdoa dengan penuh harap.
"Bilqis, mana laki-laki itu? Kenapa sampai jam segini belum juga datang?" tanya Pak Daud, ayahnya Bilqis.
"Mungkin, Pak Yusuf masih dalam perjalanan. Bilqis telepon juga nggak diangkat-angkat," jawab Bilqis dengan nada lembut.
"Laki-laki macam apa yang nggak bisa menepati janjinya!" gerutu Pak Daud. Bilqis hanya diam dan menundukkan kepala.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1