Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 89. Membuat Rain Cemburu (2)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga kalian semua diberikan kesehatan.


***


BAB 89


      Rain langsung berlari keluar dari ruang rapat begitu acara ditutup. Dia pun berlari menuju lift khusus dan menuju parkiran tempat mobilnya berada. Dia mengemudikan kendaraannya dengan cepat. Untungnya jalanan tidak macet karena belum waktunya pulang jam kantor.


      Begitu sampai ke pintu gerbang sekolah, ternyata sudah di kunci. Rain pun menghubungi Rania, tetapi tidak diangkatnya juga. Dia juga mencoba menghubungi Chelsea dan Alin. Nomor kedua gadis itu malah tidak aktif. Perasaan dia mulai gusar dan meninggalkan sekolah tempat istrinya menimba ilmu.


       Rumah mertuanya yang kini menjadi tujuan Rain. Dia yakin kalau Rania sedang berada di sana. Rain tidak tahu kalau tadi dia berselisih jalan dengan Rania yang berada di dalam mobil Ibrahim. 


"Assalamu'alaikum," salam Rain begitu sampai ke rumah keluarga Fatih.


"Wa'alaikumsalam," balas Mentari dan Asiah.


"Rain ada apa?" tanya Mentari saat melihat napas menatunya ngos-ngosan dan wajah yang panik.


"Bun, apa Nia sudah sampai rumah?" tanya Rain.


"Sudah barusan," jawab Mentari sambil menunjuk ke lantai atas.


      Rain pun berlari menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Menurutnya kalau naik lift akan lama. Dia lupa kalau lift rumah itu beda dengan lift di kantornya yang harus menunggu.


"Menurut aku, akan lebih cepat naik lift," kata Asiah sambil menatap Rain yang sedang berlari di anak tangga.


"Ya, menurut Bunda juga begitu," balas Mentari.


***


"Nia," panggil Rain dengan napas terputus-putus.


"Kyaaak!"


      Rania yang baru selesai mandi dikejutkan dengan suaminya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Dia pun berteriak kencang sampai Rayyan yang berada di kamar depannya berlari menghampirinya. Rain yang panik langsung mendorong tubuh Rayyan ajar enggak melihat tubuh Rania dan langsung menutup pintu kamar Rania.


"Kak Rain, kenapa tiba-tiba masuk seenaknya?" teriak Rania di dalam kamar mandi. Tadi dia masuk kembali ke kamar mandi karena saat ini dia hanya memakai handuk. Tadi dia lupa bawa baju ganti.


"Maaf, aku panik tadi. Takut terjadi sesuatu kepada kamu karena aku tidak menemukan kamu saat ke sekolah tadi," ujar Rain sambil memegang dadanya yang sedang berdetak kencang. Dia juga merasa napasnya sesak. Saat ini dia memunggungi Rania.


     Setelah lelah berlari menaiki anak tangga sampai ke lantai 3. Lalu, saat masuk ke kamar istrinya juga baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Lagi-lagi matanya terkontaminasi oleh kemolekan tubuh istrinya.


"Sudah Kakak keluar dulu, aku mau pakai baju," kata Rania dari balik pintu.


"Ya, aku keluar dulu," ujar Rain sambil keluar dari kamar Rania.


     Dia pun bertemu dengan Asiah yang akan masuk ke dalam kamarnya. Rain pun ingin menanyakan keberadaan Rayyan. Baru saja dia membuka mulutnya. Sayup-sayup dia mendengar teriakan Rayyan jangan bicara apapun dengan Asiah.


"Ya, ada apa, Rain?" tanya Asiah sambil menatap ke arah Rain.


"Tidak, hanya kepikiran tentang Raya saja saat melihat kamu," jawab Rain 

__ADS_1


"Apa kamu dapat kabar dari Raya? Kenapa aku sulit sekali mengubungi dirinya?" Asiah memasang wajah sendu.


"Aku yakin kalau dia dalam keadaan baik-baik saja," balas Rain.


     Setelah Asiah masuk ke dalam kamarnya. Maka, Rayyan pun membuka sedikit pintunya agar Rain masuk ke sama.


"Kenapa Asiah bilang kalau kamu sulit dihubungi?" tanya Rain begitu menutup pintu kamar Raihan.


     Rayyan pun menceritakan awal muasal kejadian yang terjadi saat ini. Rain pun mendengarkan dengan seksama. Dia juga saat ini sedang punya sedikit masalah dengan istrinya.


"Kemarin saja aku hampir ketahuan oleh Asiah saat dia masuk ke dalam kamar ini," ujar Rayyan.


"Lalu bagaimana cara kamu meloloskan diri?" tanya Rain penasaran. 


"Aku pakai baju milik Ian dan mengubah gaya rambutku dan duduk menunggunginya," jawab Rayyan.


"Masa Asiah tidak bisa membedakan kamu dan Ian?" tanya Rain.


"Aku menutup sedikit wajahku hanya bagian mata yang terlihat. Untungnya Bunda datang saat itu," jawab Rayyan sambil terkekeh karena mengingat kejadian waktu itu.


"Aku ke kamar Nia dulu. Sepertinya dia sudah selesai dandan," kata Rain.


***


     Rain masuk ke kamar Rania setelah mendapat izin dari si pemiliknya. Masih dengan jantung berdebar-debar, dia pun menatap istrinya yang sudah rapi.


"Apa yang kamu lakukan tadi di sekolah?" tanya Rain begitu duduk di sofa.


"Aku kan sudah bilang kalau aku mendapat hukuman karena buku tugas aku ketinggalan tadi," kata Rania.


      Rania terkejut saat melihat foto-foto dirinya saat bersama dengan guru magangnya itu. Dia tidak yakin kalau itu ulah Chelsea dan Alin.


"Aku di suruh memeriksa hasil ulangan teman-teman," jawab Rania.


"Memeriksa hasil ulangan kok pegang-pegang tangan, saling tatap-tapan, bahkan apa ini? Kamu, berciuman dengan guru kamu?" Rain melotot ke pada Rania.


      Otak cerdas Rania sedang berjalan. Dia yakin itu ulah Chelsea. Entah bagaimana caranya, bisa terlihat seperti berciuman.


"Aku pernah bilang sama Kak Rain, kalau aku itu mau berciuman dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintai aku," Rania menatap balik suaminya.


      Rasa marah dan kesal langsung menguasai hati Rain. Takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia memilih pergi ke kamar mandi. Mengguyur kepala dan tubuhnya itu lebih baik saat ini daripada berbicara dengan Rania.


      Melihat suaminya masuk ke kamar mandi, Rania dengan cepat menghubungi Chelsea. Dia ingin menanyakan masalah foto-foto tadi.


"Jadi, itu ulah kamu?" tanya Rania sambil berbisik.


"Lalu, bagaimana reaksi Kak Rain?" Chelsea bertanya karena penasaran.


"Dia langsung pergi ke kamar mandi setelah aku bilang. Aku mau berciuman dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintai aku," jawab Rania.


"Bagus. Buat Kak Rain cemburu," ujar Chelsea.

__ADS_1


"Gimana mau cemburu? Dia kan nggak cinta sama aku," tukas Rania.


"Ya, kita lihat saja nanti. Kalau kamu dekat dengan laki-laki lain di marah dan nggak terima, berarti dia itu cinta sama kamu, Nia. Hanya saja dia belum sadar. Dia selalu bilang suka sama kamu itu karena sudah bersama-sama sejak kecil. Kita uji Kak Rain, beneran nggak rasa suka dia itu hanya sebatas adik perempuan atau sebagai perempuan dewasa," ujar Chelsea.


"Oke, deh kalau begitu!" seru Rania ikut permainan saudaranya.


***


      Hampir 30 menit Rain berada di kamar mandi. Saat dia keluar dari sana, sudah ada baju untuknya di atas tempat tidur. 


"Kak Rain mau sholat di masjid atau di rumah?" tanya Rania.


"Di masjid," jawab Rain singkat.


"Kalau begitu, ini payungnya." Rania memberikan payung lipat miliknya.


"Di luar hujan?" tanya Rain.


"Iya, hanya gerimis, tetapi temannya banyak sekali," jawab Rania dan membuat Rain mengerutkan keningnya. 


      Rain pun berjalan ke arah balkon untuk melihat hujan. Dia melihat hujan gerimis yang lumayan lebat bisa bikin orang basah.


"Tuh, gerimisnya banyak temannya, 'kan?" Rania tahu-tahu sudah berdiri di belakang Rain.


"Gerimis apanya? Ini sudah termasuk kategori hujan," ujar Rain hendak memencet hidung Rania, tetapi tidak jadi.


"Ya beda dong kalau hujan itu ada suaranya dan jatuhnya air itu besar-besaran. Kalau gerimis tidak bersuara dan airnya juga kecil-kecil," jelas Rania sambil tersenyum nakal.


      Rain sangat gemas melihat istrinya itu. Rasanya dia ingin mengigit Rania.


"Ya, sudah di rumah saja sholatnya. Kita berjamaah," ucap Rain. 


      Sorak gembira Rania dalam hatinya. Dia suka saat Rain menjadi imamnya saat sholat. Maka dengan semangat Rania pun berwudhu dan menggelar sajadah di belakang Rain. Saat-saat seperti inilah yang membuat Rania berasa bahagia. Apalagi saat selesai sholat dia mencium tangan suaminya dan Rain akan mencium pucuk kepalanya.


"Nia, kita menginap di sini saja, ya?" ajak Rain ketika selesai sholat.


"Kalau begitu Kak Rain tidur di kamar tamu yang di lantai bawah?" tanya Rania.


"Nggak, aku akan tidur bersama kamu di sini," jawab Rain.


"Kalau begitu kita pulang saja," lanjut Rania.


"Kenapa?" tanya Rain.


"Aku takut nanti Kak Rain tiba-tiba memeluk aku atau mencium aku," jawab Rania dan membuat Rain kembali berdecak kesal.


"Aku berhak melakukan itu terhadap kamu," bisik Rain sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


***


Teman-teman kalau ada typo atau kalimat terputus atau rancu. Tolong tandai. Aku tertidur saat mengedit tulisan. Biar nanti aku edit.

__ADS_1


Teman-teman aku punya karya yang rekomen buat kalian baca nih. Yuk kepoin ceritanya.



__ADS_2