
Teman-teman baca sampai selesai dan kasih like sama komentar, ya. Aku doa kan kebaikan untuk kalian juga.
***
BAB 80
Asiah dan Hana berjalan kembali ke villa, mereka masing-masing membawa sekantung keresek strawberry segar. Asiah ingin memberikan strawberry itu untuk Rayyan sebagai oleh-oleh. Suaminya itu suka makan buah-buahan yang segar.
Membayangkan wajah Rayyan yang sedang memakan salad buah, terbayang oleh Asiah. Dia pun tersenyum ketika membayangkan itu.
"Tuh kan kamu sudah bisa tersenyum lagi," kata Hana saat melihat senyum terukir di wajah Asiah.
"Hn, aku membayangkan dia sedang memakan strawberry ini. Dia itu suka buah-buahan yang segar," balas Asiah dengan tersenyum tipis kepada Hana.
"Kamu pasti sangat mencintai dia," ucap Hana menggoda temannya itu.
"Hn, aku sangat mencintainya. Aku sampai merasa takut jika dia meninggalkan aku," lirih Asiah lagi-lagi kata-kata Rayyan semalam kembali terngiang di telinganya.
"Beruntung sekali laki-laki itu bisa dicintai oleh kamu," tutur Hana dengan senyum lebar.
"Salah. Justru aku yang harus bersyukur bisa dicintai olehnya. Dia itu laki-laki yang sempurna bagiku, mungkin banyak yang menilai kalau dia adalah orang yang hampir sempurna. Setiap hal yang diinginkan oleh orang, dia pasti memilikinya," jelas Asiah.
"Aku jadi ingin bertemu karena penasaran dengan laki-laki itu," seloroh Hana dan membuat Asiah cemberut.
"Tidak boleh! Nanti kamu juga ikutan suka padanya," ujar Asiah.
"Tenang saja, aku sudah punya orang yang aku sukai. Kamu tahu dosen baru yang bernama Rayyan? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada dia," jujur Hana dan itu membuat Asiah sangat terkejut.
"Ka-mu tidak boleh jatuh cinta kepadanya," tukas Asiah dengan tatapan tidak rela.
"Kenapa? Hak aku untuk menyukai seseorang. Dan aku benar-benar dibuat jatuh kepayang oleh dosen muda itu. Banyak mahasiswi dan dosen perempuan yang berlomba-lomba ingin merebut hati laki-laki dingin itu," balas Hana.
"Raya hanya milik aku. Hanya aku satu-satunya perempuan yang dicintai olehnya," teriak Asiah.
"Kamu ngomong apa sih, Asiah? Kenapa kamu berteriak begitu kepada aku?" tanya Hana tidak suka.
Saat Asiah dan Hana berbicara dalam ketegangan. Muncul sekelompok pemuda yang berpenampilan seperti berandalan.
"Wah, ada cewek cantik, nih!" seru laki-laki berjaket hitam sambil berjalan mendekati Asiah dan Hana.
"Mau apa kalian?" bentak Hana sambil mundur.
"Kita mau bersenang-senang dengan kalian berdua," balas laki-laki berbaju gambar tengkorak yang juga ikut mendekat kepada mereka berdua.
"Berhenti atau aku akan berteriak!" kata Asiah mengancam.
__ADS_1
"Coba saja berteriak. Tidak akan ada yang mendengar. Para pekerja di perkebunan sudah pulang untuk beristirahat," tukas laki-laki berbadan tinggi besar hendak menyentuh wajah Asiah. Namun, dengan cepat Asiah menepis tangan itu sebelum menyentuh wajahnya.
"Wah, galak juga nih cewek! Aku semakin suka," ujar laki-laki itu lagi.
"Aku juga suka kalau cantik begini," ucap laki-laki yang memakai baju singlet.
Ada 10 orang laki-laki yang mengelilingi Asiah dan Hana. Kedua gadis itu ketakutan. Tidak ada orang yang lewat sana sedangkan villa tempat mereka tadi masih sangat jauh.
'Ya Allah, tolong kami!' batin Asiah menjerit ketakutan.
'Raya, tolong aku!' lanjut Asiah berharap bisikan hatinya sampai kepada orang yang dicintainya itu.
"Asiah apa kamu bisa lari?" gumam Hana, tetapi masih bisa didengar oleh Asiah.
"Bisa," jawab Asiah di paham maksud Hana. Yaitu mereka akan kabur dari kelompok laki-laki yang menatap lapar kepadanya.
"Kita lari berpencar dan cari bantuan," ucap Hana.
"Apa lebih baik kalau kita bernegosiasi dulu kepada mereka, atau kita lawan mereka langsung saja," balas Asiah.
"Jangan bodoh! Kamu pikir bisa mengalahkan mereka yang jumlahnya sangat banyak itu," desis Hana mengalihkan perhatiannya pada Asiah.
Para berandalan itu tersenyum melihat dua orang wanita didepannya sedang melakukan strategi menyelamatkan diri. Mau bagaimanapun cara yang akan mereka lakukan. Mereka tidak akan pernah melepaskan keduanya.
"Hei, Nona. Lebih baik menyerah saja. Kita bersenang-senang bersama," ajak laki-laki bertubuh tinggi besar tadi dengan tawa terkekeh.
'Raya, tolong aku!' teriak Asiah ketakutan. Dia tidak mau kalau sampai sekelompok berandalan itu melecehkan dirinya.
"Abang-abang bagaimana jika kalian lepaskan kami, nanti kami ganti dengan uang yang sangat banyak," ucap Asiah mengajak bernegosiasi.
"Tidak. Kami memang suka uang dan butuh uang. Tapi saat ini yang kami inginkan adalah kamu, Cantik." Laki-laki itu pun mulai mengelilingi Asiah dan Hana.
"Aku beritahu kepada kalian. Jangan sampai berurusan dengan keluarga Hakim. Karena akibatnya akan fatal bagi kalian," ucap Asiah terpaksa menggunakan nama keluarga suaminya.
"Keluarga Hakim?" tanya salah seorang dari laki-laki lainnya.
"Bukannya mereka itu penguasa tanpa kursi jabatan," jawab temannya yang lain.
"Kamu tahu dari mana soal keluarga Hakim ini?" tanya yang lainnya.
"Mereka itu pengusaha kaya raya yang sangat terkenal itu. Khalid yang terkenal itu," jawab temannya lagi.
"Apa? Si sang Legenda Khalid!" teriak teman yang lainnya lagi.
"Lalu apa hubungannya kamu sama keluarga Hakim?" tanya si laki-laki tinggi besar itu kepada Asiah.
__ADS_1
"Aku, cucu menantunya Opa Khalid," jawab Asiah.
"Mana mungkin gadis seperti kamu sudah menikah?" Asiah dan Hana sudah dikepung oleh para berandalan itu.
"Hana kamu bisa berkelahi nggak?" bisik Asiah.
"Tidak. Aku ini anak perempuan, nggak baik kalau suka berkelahi," balas Hana dengan berbisik juga.
"Aku nggak akan bisa melawan mereka semua. Kalau satu orang nggak apa-apa, ini ada sepuluh orang," desah Asiah karena yakin tidak akan mampu bisa mengalahkan mereka.
"Ayo, kita bersenang-senang manis!" Si laki-laki bertubuh tinggi besar itu hendak memeluk Asiah.
Tangan Asiah mendorong dan kakinya menendang perut laki-laki itu sampai jatuh terjengkang ke tanah. Teman yang lainnya pun mulai mengeroyok Asiah dan Hana. Kedua gadis itu pun berteriak minta tolong.
"Tolong!"
"Tolong, kami!"
***
Rain tahu kalau dirinya sudah membuat hati keluarga gurunya terluka. Namun, apa boleh buat, dia sudah terlanjur menikah dengan Rania. Jika dia kasihan kepada Amira dan nekad menikahinya, maka dia harus melepaskan Rania. Istrinya itu lebih memilih bercerai dari pada dipoligami. Serta, bisa dipastikan Rania akan membenci dirinya. Ini yang tidak mau dirasakan oleh Rain. Bukan hanya Rania yang akan membenci dan menjauhi dirinya, tetapi saudara dan keluarga lainnya juga akan melakukan hal yang sama kepadanya.
"Aku tahu pastinya Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan Kak Amira, marah dan kecewa kepadaku saat ini. Aku tiba-tiba datang dan membawa kabar yang mengejutkan bagi kalian. Aku hanyalah hamba yang lemah dan menerima takdirku dengan ikhlas. Pastinya Allah punya rencana tersendiri kenapa semua ini bisa terjadi. Aku yakin kedepannya Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan Kak Amira bisa menerima dengan lapang akan keputusan saya ini. Semoga Allah segera mendatangkan jodoh untuk Kak Amira," kata Rain dengan suara yang lembut dan tulus.
"Aamiin," kata Alin, Chelsea, dan Rania bersamaan.
Mega menahan tawanya saat mendengar ketiga gadis itu menjadikan kata-kata Rain sebagai doa. Sementara itu, Raihan menepuk keningnya karena merasa istrinya berbuat sesuatu yang memalukan. Rain sendiri terkejut saat mendengar suara Rania mengaminkan ucapannya. Dia hanya tersenyum sangat tipis sekali sehingga tidak terlihat oleh siapa pun.
Amira menatap ke arah Rania. Gadis cantik yang berhasil merebut pujaan hatinya. Dilihat dari segi wajah dan penampilan Rania memiliki kelebihan dari perempuan pada umumnya. Paras yang cantik jelita, kulitnya putih mulus merona, dan memiliki tubuh tinggi semampai. Pastinya dibalik gamis longgarnya itu tersembunyi lekuk tubuh yang indah. Terlahir dari keluarga terpandang dan kaya raya merupakan nilai lebih lainnya. Amira sendiri merasa sudah kalah bersaing dengan gadis yang usianya terpaut 9 tahun di bawah darinya. Sifatnya yang periang dan ramah membuat orang-orang suka padanya, begitu juga dengan dirinya langsung suka kepada Rania saat baru pertama kali mengenalnya.
"Ya, aku tidak mau menyalahkan takdir Allah yang sudah digariskan kepada diriku, dirimu, maupun dirinya. Karena sesuai itu adalah Kuasanya," balas Amira dengan suaranya yang lembut dan terdengar oleh semua orang di sana.
"Eh~ Kak Amira, lembut banget suaranya," celetuk Alin terpesona.
'Astaghfirullahal'adzim, Alin kamu malu-maluin terus,' batin Raihan serasa dia ingin membungkam mulut istrinya itu karena geregetan.
"Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kepada kita, kedepannya. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua," lanjut Amira.
"Yakinlah, kalau Allah itu selalu sayang kepada hamba-Nya. Dia pasti akan memberikan yang terbaik," ucap Rain.
"Kak Amira pasti bisa mendapatkan laki-laki yang hebat. Kalau Kak Rain itu, laki-laki yang menyebalkan, jangan mau!" sosor Alin tiba-tiba dan itu membuat semua orang membelalakkan matanya dan menatap ke arahnya.
"Eh, ada apa? Kenapa kalian semua melihat ke arah aku?" tanya Alin dengan wajahnya yang polos.
***
__ADS_1
Bagaimana nasib Asiah dan Hana? Akankah mereka kalah dan jadi pelampiasan kesenangan berandalan itu? Atau akan ada yang menolong? Bagaimana hubungan Rain dan Amira kedepannya? Tunggu kelanjutannya ya!