Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 120. Rania Hamil?


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.


***


Bab 120


      Rania melihat suaminya sedang memasak. Dia pun memeluk tubuh atletis itu dari belakang. Belakangan ini dia suka sekali bermanja-manja kepada suaminya.


"Ya Habibi, sedang masak apa?" tanya Rania.


"Humairaku, sudah cantik sekali pagi ini. Aku sedang membuat nasi goreng," jawab Rain dan memberikan satu kecupan di kening istrinya.


"Wangi sekali! Aku tidak sabar ingin mencicipinya," ucap Rania yang masih memeluk tubuh Rain dari belakang.


"Ini, A~." Rain menyuapkan satu sendok makan nasi goreng kepada Rania.


"Hmmm, enak sekali. Senangnya punya suami yang jago masak. Makin sayang deh, sama suami," ucap Rania dan memberikan kecupan di pipi suaminya.


"Rania …." Rain mematikan kompornya. Lalu, dia pun membalikan tubuh dan saling berhadapan dengan Rania.


"Ya," balas Rania dengan tatapan bola mata beningnya.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintai dirimu," kata Rain dengan tatapan sungguh-sungguh.


      Dia baru sadar kalau Rania itu belum pernah bilang dengan sungguh-sungguh ungkapan cinta untuk dirinya. Rania itu seperti ikut-ikutan saja. Saat dia bilang sayang, maka Rania juga akan bilang 'Aku juga sayang sama Kakak.' Saat dia bilang cinta, maka dia akan bilang 'Aku juga cinta Kakak.' Rain ingin Rania bilang duluan kalau dia cinta dan sayang padanya.


      Rania pun tersenyum manis kepada Rain. Dia yang masih memeluk tubuh Rain, malah menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Aku tahu kalau Kakak sangat mencintaiku. Terima kasih," balas Rania.


"A-Apa kamu juga mencintai aku?" tanya Rain.


"Iya, aku juga cinta sama Kakak," jawab  Rania dan mengeratkan pelukannya.


'Selalu saja aku yang harus mulai duluan,' kata Rain dalam hatinya.


'Sudahlah, dia itu masih remaja. Suka ikut-ikutan, semoga saja itu memang benar perasaannya.'


     Rania dan Rain pun sarapan dengan perasaan senang. Begitu selesai makan, Rania pun mencuci piring bekas makan tadi. Kali ini giliran Rain yang memeluk Rania dari belakang.

__ADS_1


"Ya Humaira, kapan perpisahan sekolah dilaksanankan?" tanya Rain.


"Awal bulan depan," jawab Rania dengan tangan yang masih sibuk membersihkan busa dari peralatan makan.


***


     Rania tidak ikut pergi dengan Rain ke kantor. Dia sudah punya janjian dengan Alin dan Chelsea, mau pergi nonton bioskop dan mencari hadiah untuk wali kelas mereka, sebagai kado perpisahan.


      Rania melihat cara berjalan Alin yang agak berbeda dari biasanya. Dia bisa menyimpulkan kalau Alin dan Kakaknya sudah menyempurnakan ibadah suami istri. Dia hanya menahan tawanya. Dia juga teringat dulu saat pertama kali melakukan hal itu dengan suaminya juga ke sakitan dan besoknya saat berjalan pun merasa tidak nyaman.


"Kita makan dulu, yuk!" ajak Rania yang sudah merasa lapar lagi padahal sebelum berangkat tadi dia makan satu cup salad buah di rumah bundanya.


"Ayo!" teriak Alin dengan penuh semangat.


      Saat mereka sedang asik makan ketiga gadis itu di datangi oleh teman-teman sekolah yang kebetulan masuk ke sana.


"Rania," panggil seseorang yang tidak asing suaranya bagi Rania.


"Hai, Charles," balas Rania dengan senyuman tipisnya.


"Hai, Alin." Akbar duduk di samping Alin.


"Hai, Akbar." Alin hanya melirik, lalu melanjutkan lagi makan.


***


     Dugaan Chelsea salah karena Mega saat ini sedang bersama Ghazali sedang menginterogasi ketiga orang yang membuntuti Chelsea dulu. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan informasi ketiga orang asing itu.


"Mister Andreas, apa tujuan Anda sebenarnya?" tanya Ghazali.


"Ingin melindungi Nona kami," jawab Andreas dengan tenang.


"Kalau kamu berada di sekitar Chelsea, itu justru malah membuat dia dalam bahaya. Musuh-musuh kalian akan menyadari keberadaan Chelsea," lanjut Mega geram. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu.


"Ini sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Nona Chelsea," ucap Mister Andreas.


"Hei, memangnya kalian punya kekuatan sebesar apa?" tanya Ghazali sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.


      Mister Andreas diam, dia memang tidak punya kekuatan sebesar keluarga Hakim. Apalagi kekuatan keluarga Andersson yang akan mengambil alih perlindungan terhadap Chelsea saat dia mulai kuliah nanti.

__ADS_1


"Itu sudah janji kami kepada ketua kami dulu. Meski nyawa kami taruhannya," ucap Mister Andreas.


"Kalau kamu tidak bisa melindungi nyawa Chelsea. Biarkan kami saja yang melindungi dirinya. Kalian urus saja kelompok kalian jika ingin jaya lagi. Jangan libatkan Chelsea! Biarkan dia hidup tenang menjadi gadis biasa," ucap Mega.


"Apa pun yang terjadi kami akan selalu berada di dekat Nona Chelsea," ujar Mister Andreas bersikukuh.


"Seharusnya kalian juga memikirkan keadaan dan keinginan Chelsea," kata Ghazali.


"Apa kalian tahu, kalau keberadaan kalian malah membuat Chelsea tidak merasa nyaman dan aman?" ucap Mega memberi tahu.


      Laki-laki bule yang dipanggil Mister Andreas itu hanya diam saja. Dia ingin yang terbaik untuk Nona mereka. 


"Kembalilah kalian ke negara kalian dan biarkan Chelsea bersama kami. Anggap saja Nona kalian itu sudah meninggal saat masih bayi dulu," ujar Ghazali. 


     Dia begitu menyayangi anak angkatnya itu karena sudah mengurus sejak masih bayi. Sudah tujuh belas tahun Chelsea berada dalam asuhannya bersama Bintang. Dia membesarkan Chelsea dan Rania bersamaan, setahun kemudian anak kandung kembar tiga lahir. Dia dan Bintang pun membesarkan lima batita bersamaan.


"Apa jaminan kalian kalau kalian bisa menjaga Chelsea?" tanya Mister Andreas.


"Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana selama tujuh belas tahun ini Chelsea tinggal bersama kami," ucap Ghazali.


"Aku juga akan menikahi Chelsea tidak akan lama lagi," kata Mega.


***


      Setelah makan, Rania dan teman-temannya menonton bioskop. Selama menonton di dalam bioskop Rania merasa pusing dengan bau parfum orang yang duduk di sampingnya. Meski film baru di putar selama 20 menit, dia memilih keluar. 


      Takut terjadi apa-apa pada kesehatannya, Rania pun pergi ke rumah sakit milik keluarganya. Niatnya mau mendatangi Ghazali, tetapi daddynya itu sedang tidak ada di tempat, maka dia pun meminta diperiksa oleh dokter umum yang berjenis kelamin wanita. Rania, tidak mau jika laki-laki yang memeriksa tubuhnya, kecuali om sekaligus daddynya bisa juga kakak iparnya itu.


"Hallo, Nona Rania," sapa wanita berparas bule.


"Hai, Miss Angela," balas Rania saat masuk ke dalam ruangan dokter umum itu.


"Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya wanita itu sambil tersenyum lembut ke arah Rania.


"Aku merasa ada yang aneh dengan tubuh aku ini. Tapi, aku tidak merasa sakit," jawab Rania sambil mengerutkan alisnya.


"Tubuh Anda merasa tidak sakit, tetapi merasa tidak aneh dan tidak nyaman?" ulang si dokter itu.


"Iya. Dan saat ini saya juga merasa tidak nyaman dengan bau parfum Anda, Miss Angela. Ini membuat aku pusing sekarang," ucap Rania sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


***


Rania hamil, nih, kayaknya? Iyalah, Rain sering menyirami biar subur 🙈🙈. Bagaimana reaksi Rain jika tahu istrinya menunjukan gejala kehamilan? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2