
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
BAB 129
Malam ini Rain dan Rania pulang ke Jakarta. Mereka menaiki pesawat pribadi karena diburu oleh waktu. Begitu sampai di Jakarta mereka langsung menuju rumah Ja'far. Ternyata semua orang sudah berkumpul di sana. Baik itu keluarga besar dari Muchtar maupun keluarga dari Alin.
Kedatangan Rania disambut gembira oleh Ja'far. Dia merasa sangat senang karena cucu perempuan satu-satunya itu sudah datang dan dalam keadaan sehat. Ja'far selalu memanjakan Rania, bahkan ini dulu sering membuat cemburu cucu yang lainnya.
"Kak Rain, bawa istrimu sana," ucap salah seorang anak Fajar yang seusia dengannya tetapi belum menikah.
"Sudah biarkan saja kakek Ja'far sedang mengobati rindunya kepada Rania," balas Rain sambil tersenyum.
"Rania begitu banyak di sukai oleh orang, ya. Sehingga dimana-mana selalu diperlakukan layaknya seorang tuan putri, ya?" tanya Amira yang juga sudah sampai di sana.
"Eh, Kak Amira ... Kak Shine, makin mesra saja. Mana Osama?" tanya Rain.
"Kamu yang selalu mesra sama Rania di mana pun dan kapan pun. Osama sedang sama Papa Alex dan yang lainnya di halaman belakang. Katanya mau menangkap ikan," jawab Amira.
"Apaan sih, kamu! Iri bilang saja. Nanti aku bilangin sama Nia agar nempel terus sama kamu," balas Shine yang selalu merangkul tubuh istrinya.
"Kasihan selalu nasib kamu, Kak Amira. Menikah dengan laki-laki overprotektif dan mother complex, pastinya kamu sering beristigfar," ujar Rain.
Amira hanya bisa tersenyum saja saat mendengar ucapan adik iparnya itu. Memang benar kalau suaminya sangat overprotektif kepada dirinya dan juga mamanya. Bahkan pergi kerja pun kadang dirinya selalu harus ikut. Sama anaknya sendiri pun Shine sering cemburu.
"Enak saja kamu bilang, justru Amira sangat beruntung mempunyai suami seperti aku ini. Aku tampan, baik, penyayang, cerdas, dan selalu membuatnya bahagia, juga selalu merasa puas saat kami bercinta," kata Shine yang jiwa narsisnya mulai bangkit.
"Iya bener aku beruntung punya suami seperti kamu. Sehingga sangat sulit bagiku untuk lepas dari kungkungan dirimu," sahut Amira dengan muka yang memerah. Untungnya dia memakai niqob.
"Kak Amira, buat lagi anak perempuan. Insha Allah, Kak Shine tidak akan se-overprotektif ini lagi kepada kakak," ujar Rania sambil tertawa terkekeh.
"Ah, benar kata Nia! Honey, kamu harus punya bayi perempuan. Ayo, kita buat bayi perempuan yang sangat cantik! Lebih cantik dari anaknya Raya dan Ian," ajak Shine kepada Amira.
"Ingat, Sayang. Osama masih kecil. Tunggu sampai dia berusia lima tahun," ucap Amira sambil cemberut.
Putra sulung mereka baru juga berusia satu setengah tahun dan kini Shine menginginkan Amira untuk hamil anak kedua. Bahkan putranya belum juga disapih masih menyusu padanya.
__ADS_1
"Honey, itu masih terlalu lama. Aku ingin secepatnya punya bayi perempuan," rengek Shine kepada Amira.
"Jangan mau Kak Amira memangnya melahirkan itu tidak sakit," sanggah Chelsea dan Alin bersamaan.
Kali ini wajah Shine yang cemberut dan Amira tertawa senang karena ada yang mendukung dirinya. Untuk mengembalikan mood suaminya, Amira pun memeluk dan membelai wajahnya dengan penuh rasa sayang.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Sky datang bersama dengan istrinya.
"Kak Shine mau minta bayi perempuan kepada Kak Almira, tetapi Osama masih kecil dan Kak Amira meminta menangguhkan waktunya," balas Chelsea sambil tertawa terkekeh.
"Bee, aku juga mau bayi perempuan," pinta Sku kepada istrinya.
"Darling, aku ini baru lulus sekolah. Bukannya aku juga harus lanjut kuliah," balas istri Sky.
"Sky, Apa nanti kamu nggak keburu tua kalau menunggu istrimu lulus kuliah," ejek Raihan kepada sepupunya.
"Benar apa kata Ian, kamu keburu tua untuk punya anak jika harus menunggu lulus istrimu kuliah," sambung Rayyan sambil menerima lebar.
"Hanya kak Sky yang belum punya anak, nih!" godaan Rain sambil tersenyum menggoda kakaknya.
"Tenang saja Darling, kita buat sekaligus tiga anak," balas istri Sky sambil mengusap dagu suaminya.
"Tentu saja aku hebat. Buktinya aku mampu menaklukkan hati Tuan arogan yang punya sifat mother complex ini," akunya sambil mengacungkan jempol.
***
Acara syukuran atas kehamilan Chelsea dan Rania serta selamatan atas lahirnya bayi Alin diselenggarakan di rumah Ja'far setelah waktu salat Ashar. Suasana ramai menghiasi rumah peninggalan leluhur Rania dan Rain. Selain keluarga mereka, para tetangga juga datang untuk memberikan doa dan mengucapkan selamat.
Rain dan Rania pun banyak mengabadikan kegiatan di sana saat bersama keluarga besarnya, baik berupa video maupun foto. Terlukis wajah bahagia yang tersenyum lebar dari orang-orang yang hadir.
***
"Ya Humaira, aku berharap bayi kita ini lebih dari satu," ucap Rain sambil mengelus perut Rania.
"Aamiin," balas Rania dan mengecup pipi suaminya.
"Nia," panggil Chelsea dari balik pintu.
__ADS_1
Rania yang sedang dalam dekapan suaminya pun melepaskan diri. Lalu, membukakan pintu dan ternyata ada Chelsea dan yang lainnya.
"Ayo, kita tidur bersama di satu kamar!" ajak Chelsea sambil berbisik.
"Sepertinya kak Rain tidak akan setuju, jika aku tidur tidak bersama dengannya malam ini," bisik Rania.
"Ada apa ini? Tumben kalian berkumpul semua di depan pintu kamar," tanya Rain yang tiba-tiba berdiri di belakang Rania.
Rania hanya meringis kaku saat mengetahui suaminya sudah berdiri di belakangnya. Dia yakin kalau suaminya tidak akan membiarkan dirinya jauh darinya.
"Kak Rain, aku mau ajak Nia tidur bersama kami," jawab Chelsea dengan senyum manis terpasang di wajahnya.
"Tidak bisa. Besok pagi Nia harus sudah kembali ke Yogyakarta. Kalau ikut gabung bersama kalian yang ada malah asik bercerita bukannya tidur," ucap Rain sambil memeluk tubuh Rania dari belakang.
"Ih, Kak Rain pelit," ujar Chelsea dengan memasang wajah cemberut.
"Tuh, lihat suami kamu sudah melotot begitu!" tunjuk Rain kepada Mega yang sudah berdiri di belakang para wanita itu.
"Chelsea, ayo tidur!" Mega langsung menggotong tubuh istrinya.
Begitu juga dengan Shine tanpa bicara langsung menggendong Amira. Hal yang sama dengan Asiah yang perutnya sudah besar, Rayyan langsung merangkul istrinya dan membawanya pergi.
"Sayang, malam ini dingin, loh!" bisik Rayyan.
"Inilah kenapa kami tidak mau tidur dengan suami kami malam ini," gumam para istri-istri itu.
Rumah Ja'far itu model zaman dahulu yang tidak memakai peredam suara. Pastinya mereka tidak boleh mengeluarkan suara-suara indah mereka karena malu ketahuan oleh yang lain. Apalagi, saat ini keluarga besar mereka sedang berkumpul.
"Ayo, Humaira malam ini dingin, loh," bisik Rain.
"Kak Rain jangan macam-macam, ya!" kata Rania mengancam.
"Tidak akan macam-macam, tetapi mau macam saja," balas Rain menggoda Rania.
Malam itu mereka hanya tidur sambil memeluk istri masing-masing. Kecuali pasangan Sky yang merupakan pengantin paling terakhir di antara mereka dan belum punya anak. Dia sedang mengarungi surga dunia bersama istri kecilnya itu.
"Sky ... awas, ya!" gerutu para papa muda itu mengumpat karena para istrinya tidak memberikan izin.
__ADS_1
***
Lagi tidak mood nulis ðŸ˜. Semoga kalian suka untuk bab ini.