
Saat perjalanan pulang Asiah diam saja. Hal ini membuat Yusuf bertanya-tanya dalam hatinya.
'Apa Raya dihukum itu ada hubungannya dengan Asiah?'
'Kenapa putriku jadi pendiam seperti ini?'
"Asiah mau es krim?" tanya Yusuf sambil melirik sekilas ke arah putrinya yang duduk di kursi belakang.
"Tidak mau, Yah," jawab Asiah.
Yusuf pun diam, tapi perhatiannya masih ke arah putrinya. Dia paling tidak suka jika Asiah diam saja seperti ini.
"Kamu sedang marahan sama Raya?" tanya Yusuf lagi.
"Tidak," jawab Asiah singkat.
"Lalu, kenapa kamu diam saja? Tidak bersemangat seperti biasanya." Yusuf menghentikan mobil dengan depan teras rumah istrinya. Dia membalikan badannya dan menatap Asiah.
"Sekarang kita tinggal di sini, Yah?" tanya Asiah sambil melihat ke sekelilingnya.
"Iya. Kita mulai sekarang akan tinggal di sini," jawab Yusuf.
"A~ang, Asiah Sa~yang! Kenapa kalian tidak turun-turun?" tanya Zulaikha berdiri di teras rumah.
Melihat Zulaikha yang berdiri menyambut mereka berdua. Asiah pun turun dan berlari ke arahnya.
"Asiah kangen Mama Zulaikha," kata Asiah sambil memeluk perut si mantan gadis nakal.
"Mama juga kangen sama Asiah," balas Zulaikha lalu berjongkok dan memeluk tubuh anak sambungan.
"Ayo, kita masuk ke dalam rumah. Melepas rasa rindunya di dalam rumah saja," ujar Yusuf.
__ADS_1
Yusuf mencolek pinggang Zulaikha dan memberi kode kalau Asiah sedang merajuk entah karena apa. Maka, Zulaikha pun langsung membawanya ke ruang makan. Dia memberikan satu cup kecil es krim. Mereka bertiga pun duduk di kursi halaman samping.
"Sayang, ada apa, sih? Kok mukanya cemberut gitu," ujar Zulaikha sambil membelai kepala Asiah.
"Asiah ingin bertemu dengan Raya. Tapi tidak bisa karena Raya sedang di hukum," balas Asiah dengan pelan.
'pantas saja Asiah diam saja dari tadi,' kata Yusuf dalam hati.
"Kenapa Raya di hukum?" tanya Zulaikha lagi.
'Tuh bocah bisa juga, ya, kena hukuman! Aku jadi penasaran,' kata Zulaikha dalam hatinya.
"Itu ... karena ...." Asiah menunduk. Dia ragu-ragu untuk menceritakannya.
"Karena apa?" tanya Zulaikha lagi sambil memegang pipi chubby milik Asiah.
"Karena ... a–ku dan Ra-ya ... ber-ciuman," jawab Asiah dengan pelan dan terputus-putus.
"Apa?" Yusuf dan Zulaikha membelalakkan mereka tidak percaya dengan yang mereka.
"Ber–ciuman? I–tu ... di pipi atau kening 'kan?" tanya Yusuf sambil menatap putrinya.
Asih menggelengkan kepala. Dia tidak berani bilang secara langsung.
"Jangan kamu bilang kalau Raya sudah ... mencium bi–bir kamu, Asiah!" Yusuf bicara dengan terbata.
Asiah hanya diam dan menundukkan kepala. Dia yakin kalau Ayahnya juga akan marah.
"Jawab Ayah, Asiah. Apa Raya sudah mencium bibir kamu?" Yusuf pun munduk menyamakan tinggi dengan putrinya.
Gadis kecil itu mengangguk satu kali. Dia benar-benar takut kalau kali ini giliran Ayahnya yang marah.
__ADS_1
"Astaghfirullahal'adzim, Asiah!" Yusuf menjambak rambutnya sendiri kemudian dia menggendong tubuh mungil itu.
"Sayang, kamar untuk Asiah di mana?" tanya Yusuf.
"Aang, mau apa di kamar Asiah?" Zulaikha balik bertanya.
"Aku harus menjalankan tugas aku sebagai seorang Ayah," jawab Yusuf.
"Tapi, Aang tidak akan berbuat nekad pada Asiah 'kan?" tanya Zulaikha dengan tatapan simpatik.
"Tidak paling aku omeli berjam-jam," jawab Yusuf.
***
Zulaikha pun akhirnya mengantarkan mereka ke kamar untuk Asiah. Kamar bernuansa pink muda dan biru langit, tempat yang dulu jadi kamar tidur Zulaikha saat masih kecil.
Ada sofa berukuran sedang yang mengarah pada kaca jendela sehingga dapat melihat pemandangan dari luar. Yusuf memutuskan duduk di sana.
"Asiah dengar kan Ayah! Kamu itu anak perempuan dan Raya anak laki-laki. Ada batasan yang harus kalian jaga. Ayah tidak melarang kamu berteman dengan siapa saja. Asal teman itu tidak membawa pengaruh buruk kepada kamu. Seorang perempuan dan laki-laki yang bukan mahram kamu, maksudnya laki-laki selain, opa, kakek, dan abah tidak boleh menyentuh kamu. Laki-laki yang lainnya nanti ada suamimu dan anak-anaknya yang kamu kandung dan lahirkan."
Yusuf bicara sambil mengusap kepala dan pipi Asiah. Dia tidak mau putrinya jadi salah pergaulan.
"Meski itu Raya. Kamu jangan mau dipeluk apalagi sampai dicium olehnya." Yusuf menasehati Asiah dengan pelan-pelan agar putrinya mengerti.
"Iya, Ayah. Asiah sudah mengerti. Di rumah Bunda juga selalu menasehati Asiah. Mana yang boleh Asiah lakukan dan mana yang boleh dia lakukan," kata Asiah mengulangi apa yang sudah di nasehatkan oleh Mentari dan Fatih padanya.
"Kamu jangan mau di peluk-peluk atau disuruh-suruh sama Raya lagi," ucap Zulaikha.
Asiah diam karena dia juga suka memeluk Raya. Menggandeng tangannya juga sering dia yang memulai.
"Lebih baik Asiah pindah sekolah saja," kata Zulaikha.
__ADS_1
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih.