
Sehari sebelumnya ….
Sepulang dari kantor, Rain cepat-cepat membersihkan dirinya. Dia tidak mau kalau salah satu guru mengajinya saat di pondok pesantren dulu menunggu lama. Dia menyanggupi permintaan Kiai Samsul untuk menemuinya saat datang ke Jakarta.
Untungnya jalanan lancar tidak macet. Rain mengendari motor kesayangannya, agar mudah menyalip jika terjadi kepadatan kendaraan saat bubar jam kerja. Dia berpacu dengan waktu karena selepas isya, Kiai Samsul akan pulang ke kampung halamannya. Beliau ingin menghabiskan masa tuanya di sana dan membuka rumah Tahfiz untuk anak-anak di desanya.
Langkah Rain semakin cepat saat melihat ada 3 orang yang dikenalinya sedang duduk di meja paling dekat dengan pintu masuk. Mereka adalah Kiai Samsul dan Ummu Habibah serta putri mereka, Amira.
"Assalamu'alaikum, Kiai … Ummu, dan Kak Amira," sapa Rain begitu sampai di sana.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang.
Netra Rain dan Amira saling bertemu, menghantarkan getaran di dada mereka. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Terakhir adalah saat ada acara Reuni Akbar di pondok pesantren.
"Duduk, Nak Rain!" titah Kiai Samsul.
"Terima kasih, Kiai." Rain pun duduk di samping Kiai Samsul dan berhadapan dengan Amira. Lagi-lagi mata mereka bersimborok kemudian keduanya menunduk secara bersamaan.
"Nak Rain, apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu," kata Ummu Habibah sambil tersenyum lembut.
"Alhamdulillah, baik, Ummu. Saya baru kembali ke Indonesia sekitar satu bulan yang lalu," balas Rain.
__ADS_1
"Apa kamu sudah selesai mengenyam pendidikan?" tanya Kiai Samsul sambil melihat ke arah pemuda tampan dan beralis tebal yang ada di sampingnya.
"Alhamdulillah, sudah selesai, Kiai. Berkat doa semua orang, saya bisa menyelesaikannya sesuai harapan," jawab Rain.
"Kalau begitu sekarang sudah tidak ada kendala apa-apa lagi buat kamu memikirkan masa depan?" Kiai Samsul tertawa sambil menepuk bahu pemuda itu.
Amira sesekali melihat ke arah Abah dan Ummu-nya. Dia sedang merasa gugup saat ini. Kedua tangannya tidak berhenti mengeluarkan keringat.
"Kalau Amira baru menyelesaikan S2-nya. Katanya dia mau melanjutkan S3 setelah menikah. Takut keburu nggak laku," ucap Ummu Habibah sambil tersenyum dan melirik pada putrinya.
"Iya, usia Amira hari Minggu kemarin sudah genap dua puluh lima tahun. Sudah pantas untuk membina rumah tangga," lanjut Kiai Samsul memberi kode pada Rain.
Rain bisa memahami maksud guru mengajinya itu. Dia juga menaruh hati pada gadis muslimah yang cerdas ini. Hatinya mulai terpaut saat 3 tahun yang lalu. Saat mereka bertemu kembali setelah sekian lama tidak bertemu.
Amira yang merupakan calon seorang dokter pun menjalankan tugasnya untuk menolong nyawa para korban. Melihat Amira yang cekatan dan kesabaran dia dalam menenangkan para korban membuat Rain kagum padanya. Tidak panik, tetap sabar, dan tidak takut akan darah yang keluar banyak dari para korban. Mulai dari sana mereka menjadi dekat dan sering bertukar kabar.
"Insya Allah, Kiai kalau Kak Amira pasti banyak pemuda yang mau untuk menjadikan-nya seorang istri," balas Rain.
"Amira itu terlalu banyak kekurangan dalam dirinya. Pastinya mereka juga akan banyak berpikir untuk menjadikan dia seorang istri," ucap Ummu Habibah.
"Tidak, Ummu. Kak Amira itu muslimah yang sholehah, baik hati, cerdas, berakhlak baik, tutur katanya juga sopan. Pastinya akan banyak laki-laki yang mengharapkan bisa meminang dirinya," pungkas Rain sambil melirik pada gadis yang masih menunduk di depannya.
__ADS_1
"Kalau Nak Rain sendiri, bagaimana? Apa punya keinginan untuk menjadikan Amira calon pendamping hidup dalam menyempurnakan agama?" tanya Kiai Samsul dengan tatapan yang melekat.
Jantung Rain seakan jatuh karena terkejut tiba-tiba ditanya seperti itu. Dia merasa sangat senang karena memiliki harapan bisa bersama dengan gadis yang disukainya.
"Saat ini saya belum kepikiran untuk menikah. Hanya saja memiliki calon pendamping seperti Kak Amira adalah harapan kebanyakan semua pemuda, termasuk saya salah satunya." Rain baru sadar dan merutuki mulutnya kenapa tidak langsung jawab mau.
Kiai Samsul pun tertawa renyah begitu juga dengan Ummu Habibah yang tersenyum dan mencolek lengan putrinya. Amira sempat mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Rain.
"Kalau begitu kapan kamu ingin menikah? Kasihan Amira jika menunggu terlalu lama," ucap lelaki yang sudah mulai masuk ke usia senja.
"Itu …, saat ini saya baru saja mulai bekerja. Setidaknya setelah merasa sudah mapan secara hati, materi, dan tentunya kesiapan diri ini untuk menjadi seorang imam untuk istriku nanti," balas Rain.
"Akan aku tunggu! Sampai kapan pun aku akan menunggu waktu dimana kamu datang untuk meminang," kata Amira dan membuat semua orang terkejut dan senang.
"Kamu yakin, Amira?" tanya Kiai Samsul pada putrinya.
"Insya Allah, Abah. Aku ingin laki-laki seperti Rain yang akan menjadi imam aku kelak," jawab Amira dan menatap pada ayahnya dengan tatapan memohon.
"Nak Rain, kamu dengar sendiri 'kan, apa yang diucapkan oleh Amira. Dia ingin kamu yang menjadi suaminya nanti. Dia juga akan menunggu kamu untuk dijadikan seorang istri," ucap Kiai Samsul.
"Insya Allah, jika kita berjodoh maka semuanya akan dipermudah. Dan jika sudah waktunya semua itu pasti akan terjadi," balas Rain yang menahan eforia dalam hatinya.
__ADS_1
***
Amira calon istri yang 👍👍. Akan kah author berbaik hati nantinya 😎😎. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.