Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
# Kesedihan Hati


__ADS_3

     William merasa kasihan saat melihat kedua anak remaja yang dipaksa berpisah. Meski itu demi kebaikan mereka. Alex yang turut hadir di sana juga merasa kasihan. Dia tahu saat ini baik Rayyan maupun Fatih sedang dalam keadaan tidak baik.


    Pancaran mata Fatih agak meredup, dia sedang bersedih saat ini. Perbuatan putra kebanggaan dia menorehkan luka di hatinya. Pelukan istrinya pun belum langsung bisa mengobati rasa sakitnya.


"Sayang, aku telah memukul anak kita," cicit Fatih sambil memeluk erat tubuh Mentari.


"Mas melakukan itu demi kebaikan Raya," balas Mentari meski air mata berlinang. Seandainya saja tadi dia bisa mencegah itu, dan mengingatkan ada cara lain untuk menegur putranya.


"Masih ada cara lainnya, tapi emosi menutupi hatiku saat itu," ucap Fatih lagi.


"Mentari, ajaklah Fatih ke kamar. Biarkan dia istirahat. Kelelahan yang dia rasakan saat ini membuat emosinya labil," titah Alex.


    Mentari pun tahu kalau 2 minggu ini suaminya sering lembur agar bisa mengambil cuti selama 2 minggu juga. Apalagi perjalanan kemarin menguras fisiknya yang kurang tidur.


***


    Rayyan mengurung diri di kamarnya. Dia tidak marah karena sudah di tampar oleh ayahnya. Hal yang membuatnya marah adalah dia dipaksa untuk berpisah lagi padahal baru saja beberapa jam mereka bertemu. Belum ada sehari dirinya melepas rindu pada Asiah, kini harus menunggu bertahun-tahun lagi, agar dia bisa berjumpa lagi dengannya.


"Raya, buka pintunya!" Suara Bilqis terdengar di balik pintu.


    Rayyan pun membuka pintu dan wanita yang sedang hamil tua itu pun masuk ke kamar Rayyan. Mereka duduk di sofa dekat jendela.


"Mommy, tahu saat ini kamu sedang bersedih karena harus berpisah kembali dengan Asiah. Tapi, kalian masih bisa bicara dan saling melihat." Bilqis menyerahkan handphone miliknya pada Rayyan. Layar datar itu menampilkan sosok gadis yang berwajah sembab dan tersenyum padanya. 


"Mommy, ini …." Rayyan tidak mampu berkata-kata lagi saat melihat gadisnya meletakan kedua tangannya dibatas kepala membentuk hati yang besar.

__ADS_1


"Ya, dia gadis yang kamu rindukan saat ini 'kan?" Bilqis tersenyum dan mengelus punggung Rayyan.


"Terima kasih, Mommy." Rayyan memeluk Bilqis. 


"Sudah. Kasihan Asiah dianggurin. Mommy tinggal dulu. Puas-puaskan rasa rindu kalian meski lewat video call," bisik Bilqis dan beranjak ke luar ruangan.


    Beberapa anak remaja sedang menunggu di depan pintu kamar Rayyan. Rania langsung memeluk Bilqis dari samping saat melihat senyum wanita itu.


"Raya sudah baikan?" tanya Raihan.


"Iya. Ini berkat ide kalian. Terima kasih, ya." Bilqis memeluk satu persatu anak-anak yang selama hampir 5 tahun belakangan ini selalu di jaga olehnya.


"Kami yang seharusnya berterima kasih pada Mommy," kata Raihan dan Rain bersamaan.


***


"Bunny, makan yang banyak agar kamu dan anak-anak kita tidak kelaparan," ucap William yang sangat posesif pada istrinya. 


    Bilqis sulit sekali untuk hamil berbagai cara sudah mereka lakukan. Program bayi tabung juga untuk yang kedua kalinya baru berhasil. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya Bilqis bisa hamil. Para dokter takut beresiko jika Bilqis hamil lagi nanti.


"Iya, Mas. Lihat mereka juga ikut memberikan respon," kata Bilqis yang merasakan perutnya bergerak-gerak.


"Dia ingin ditengok sama Daddy-nya," bisik William dan mendapat cubitan gemas dari Bilqis.


Sementara itu, anak-anak remaja punya agenda tersendiri. Mereka tidak mau kegiatan yang sudah direncanakan gagal.

__ADS_1


"Besok kita jadi jalan-jalan 'kan?" tanya Rania.


"Tentu saja jadi, iya 'kan?" Raihan melirik pada Rayyan dan Rain. Keduanya pun mengangguk.


    Tiba-tiba terdengar suara sendok jatuh menimpa piring. Membuat semua orang mengalihkan perhatiannya pada Bilqis.


"Bunny, ada apa?" tanya William panik karena tiba-tiba Bilqis menundukkan wajahnya.


"Mas, perutku sakit!" lirih Bilqis.


"Apa ini sudah waktunya Bilqis melahirkan?" tanya Cantika.


"Ada seminggu lagi kalau perkiraan dokter," jawab William sambil membentulkan posisi istrinya.


"Bawa ke rumah sakit, sekarang!" titah Alex sambil berdiri dan berlari menyiapkan mobilnya.


    Semua orang yang sedang berada di sana menjadi panik dan tegang saat mendengar Bilqis berteriak kesakitan. William pun dengan cepat membawa istrinya ke dalam mobil.


"Apa Mommy mau melahirkan?" tanya Rania dengan wajah tegangnya.


"Iya. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," jawab Rain. Dia tahu kalau kondisi rahim ibu asuhnya itu sangat lemah.


'Semoga saja Bilqis dan bayi-bayinya itu bisa selamat.' Cantika berdoa dalam hatinya.


***

__ADS_1


Bilqis mau melahirkan! Semoga saja bisa berjalan lancar. Kasihan mereka menunggu lama ingin punya anak. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2