Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 55. Alin Kabur


__ADS_3

    Menyadari kesalahan ucapannya barusan Raihan pun memukul mulutnya. Dia menggapai tangan Alin, tetapi istrinya dengan cepat menepis agar tangannya tidak dipegang.


"Bukan begitu maksud aku, Alin. Tadi itu hanya bercanda," kata Raihan.


"Bercanda, Kakak bilang! Pernikahan itu jangan jadikan bahan percandian, Kak!" bentak Alin dengan air matanya mengalir.


"Aku tahu itu. Dan aku tidak ada niatan untuk menceraikan kamu atau menikah lagi dengan wanita lain. Kecuali, kalau kamu yang pergi meninggalkan aku dan ingin berpisah dariku," kata Raihan.


     Alin tersenyum kecut, lalu pergi meninggalkan Raihan. Langkahnya terhenti saat tangan kekar suaminya mendekapnya dari belakang.


"Maafkan aku, jika sudah membuat kamu marah atau sakit hati. Tidak ada niatan aku membuat dirimu menjadi seperti ini," bisik Raihan.


"Aku sangat membencimu, Kak!" desis Alin sambil melepaskan kedua tangan Raihan yang memeluknya.


     Ada rasa nyeri yang dirasakan oleh Raihan. Dia tidak menyangka kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Jangan balasan cinta yang dia dapat, Alin bahkan membenci dirinya.


     Raihan pun membaringkan badannya dia atas ranjang yang dingin. Meski begitu dia tidak bisa tidur. Bayang-bayang wajah Alin tadi melihatnya dengan sorot mata yang sangat benci padanya.


***


     Pagi harinya Raihan membuat sarapan, setelah selesai dia pun pergi ke kamar Alin. Dia pun mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada reaksi atau jawaban dari dalam kamar.


"Alin, sarapan!" teriak Raihan lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


     Raihan berdiri di depan pintu itu sudah lebih dari sepuluh menit. Takut terjadi sesuatu pada istrinya, maka dia pun masuk ke kamar itu.


"Alin!" panggil Raihan karena dia tidak mendapati Alin di atas ranjangnya yang rapi. Dia pun mencari ke balkon dan kamar mandi. Namun, tidak ditemukan keberadaan istrinya itu.


"Alin ke mana, sih?" gumamnya.


     Lalu, Raihan pun mengecek GPS yang berada di cincin pernikahan mereka. Betapa terkejutnya dia saat menemukan titik lokasi berada sangat jauh dari posisinya saat ini.


"Dia pergi begitu saja tanpa pamit," geram Raihan sambil memukul meja sampai kacanya pecah dan pecahannya itu menggoreng tangan dia. Mengetahui Alin sudah kabur dari villa.


***


     Setelah pertengkaran dengan Raihan. Alin pergi meninggalkan villa dan mencari kendaraan yang melintas. Namun, tidak ada kendaraan umum yang melintas di kawasan itu. Dia beruntung bertemu dengan tetangga di kampungnya dulu. Lalu, meminta izin ikut mereka pulang ke rumah Opa dan Oma-nya.


      Semalaman dia menangis dan marah-marah pada suaminya. Boneka pemberian temannya jadi sasaran Alin, sampai isinya keluar semua. Setelah lelah dia baru bisa tidur.


"Cucu Oma, sudah bangun. Duduk, sana! Minum dulu susunya, Oma baru buatkan itu untuk kamu," kata Elina.


     Melihat segelas susu di atas meja makan, membuat Alin teringat pada suaminya. Dia selalu dipaksa minum susu penambah tinggi badan karena tubuhnya pendek. Padahal tinggi tubuh Alin dulu itu 150 sentimeter, kini sudah menjadi 155 sentimeter. Tetap saja masih dibilang pendek oleh suaminya yang tingginya 180 sentimeter.


"Kenapa tidak diminum susunya? Apa rasanya tidak suka?" tanya Elina.


"Tidak Oma. Alin baru akan meminumnya jika tidak terlalu panas," jawab Alin.

__ADS_1


     Elina tersenyum pada Alin. Semalam dia sangat terkejut ketika Alin datang tengah malam. Dia tidak banyak bertanya, saat melihat mata cucunya yang merah akibat menangis.


     Alin bisa melupakan sejenak permasalahan yang sedang terjadi padanya. Oma dan Opanya selalu memanjakan dia. Mereka pun bincang-bincang sambil ngemil dan menonton televisi.


     Terdengar suara bel rumah berbunyi, Diratama pun membukakan pintu untuk mengetahui siapa tamunya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat ada cucu menantunya sedang berdiri di sana.


"Assalamu'alaikum, Opa." Raihan mencium tangan Diratama dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam, Ian," balas Diratama dan menyuruh Raihan masuk ke rumah.


"Apa Alin datang ke sini, Opa?" tanya Raihan dengan mata menatap ke arah dalam ruangan sebelah.


"Iya, semalam dia datang ke sini. Ada apa, tumben dia begitu?" tanya Diratama. 


"Ada sedikit kesalahpahaman di antara kita, Opa," jawab Raihan.


"Sebaiknya cepat selesaikan masalah kalian itu," ujar Diratama sambil menepuk bahu Raihan.


"Iya, Opa. Ian juga inginnya begitu," balas Raihan.


***


Aduh 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️ mereka itu sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi. Sama-sama masih labil dan menuruti ego masing-masing. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk tambah penyemangat buat aku 🤗🤗.

__ADS_1


Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Aku punya karya yang rekomen banget buat teman-teman baca, nih. Yuk kepoin ceritanya.



__ADS_2