
Raihan menggandeng tangan Alin sambil sebelah tangannya membawa perbekalan untuk kemah. Banyak murid-murid yang memperhatikan mereka berdua.
"Alin, di mana bangku kamu?" tanya Raihan.
"Di situ, Kak!" tunjuk Alin ke arah pojok meja di dekat jendela.
"Kamu sebangku dengan siapa, sekarang?" tanya Raihan sambil meletakan tas istrinya di meja.
"Masih, sama Chelsea," jawab Alin.
Murid-murid lainnya menyoraki Alin yang diantarkan oleh Raihan. Hal ini membuat Alin malu dan tidak berkutik.
"Wah, si Gadis Bar-bar di antar sama siapa, nih?" tanya salah seorang teman sekelas Alin.
"Yang lagi senang karena di antar sama Yayangnya masuk ke kelas," goda murid perempuan yang duduk di meja yang dekat meja milik Alin.
"Om, jangan mau sama dia! Dia itu cewek yang galaknya minta ampun. Suka berkelahi sama cowok," sahut yang lainnya.
Raihan baru tahu kalau istrinya itu punya julukan gadis bar-bar. Bahkan suka berkelahi dengan murid laki-laki. Sebab, yang dia tahu itu Alin anak yang manja dan polos serta menggemaskan karena sering buat dia tersenyum. Selain itu Alin adalah anak gadis yanh labil dan sering membuatnya khawatir dan kesal.
"Adik-adik sekalian aku titip kekasih aku, ya! Jangan sampai ada apa-apa padanya. Karena bagi aku, Alin itu tidak ada lagi gantinya," teriak Raihan meminta sama murid-murid di sekolah itu.
__ADS_1
"Siap Om!" teriak mereka semua dengan penuh semangat.
"Lalu, jangan panggil aku Om! Aku ini masih berumur dua puluh tahun," ujar Raihan dan membuat gaduh kelas Alin kembali.
"Alin, Kakak ini buat aku saja, ya?"
"Jangan! Kakak mau nggak pacaran sama aku."
"Hei, kamu sudah punya pacar. Kakak sama aku saja."
Teman-temannya Alin malah meminta Raihan untuk jadi kekasihnya. Tentu saja hal ini membuat Alin marah dan kesal.
"Hei, kalian! Aku kasih tahu, ya. Kalau Kak Ian itu milik Alin, sekarang, besok, dan selamanya," jelas Alin dengan berteriak.
Melihat wajah kesal dan marah dari wajah istrinya, membuat Raihan kasihan juga. Dia pun memeluk tubuh Alin dan mengusap kepalanya.
"Maaf, ya. Karena bagi aku cuma Alin satu-satunya gadis yang boleh dekat sama aku. Kita akan selalu bersama sekarang, besok, atau nanti sampai maut memisahkan kita. Benar nggak, Honey?" kata-kata Raihan seakan menghipnotis semua orang yang ada di sana. Apalagi bagi Alin.
"Iya, Bee. Kita akan selalu bersama selamanya," balas Alin dengan mata yang berbinar-binar.
'Kak Ian manggil aku Honey dan aku panggil dia dengan kata Bee!' Alin memekik girang dalam otaknya.
__ADS_1
"Sekali lagi, aku titip Alin, ya!" Raihan pun tersenyum pada Alin sebelum pergi.
***
Semua murid sudah berkumpul dan akan menaiki bus menuju bumi perkemahan. Terlihat Alin begitu bahagia, senyum dia tidak hilang dari wajahnya. Semenjak Raihan menggandeng dia dan masuk ke kelasnya juga berteriak dengan nyaring pada teman-temannya di kelas tadi.
"Lihat yang lagi senang dan sudah meninggalkan kita dengan masuk ke kelas duluan. Senyum terus," ucap Chelsea yang kesal karena dia dan Rania menunggu sahabatnya itu di depan gerbang sambil berjemur.
"Iya, maaf. Itu karena Kak Ian yang tiba-tiba menuntun aku masuk ke kelas," kilah Alin.
"Ya, seenggaknya menghubungi kita, kalau kamu sudah di dalam kelas," sahut Rania dengan wajah cemberutnya.
***
Bukan hanya Alin yang sedang bahagia. Raihan pun juga sama. Dia sejak pagi senyam-senyum sendiri. Dia selalu teringat akan tingkah Alin saat di goda sama teman-temannya.
"Ada yang sedang berbahagia, nih!" kata Amar sang asisten Raihan.
"Apaan, sih!" Raihan kembali memasang wajah datarnya.
"Kayak yang lagi falling in love," balas Amar sambil tersenyum.
__ADS_1
***
Wikwiw 😍 Ada yang sudah falling in love, nih. Bagaimana perasaan Raihan saat Alin nggak ada di rumah? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.