Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Mendapatkan Restu


__ADS_3

     Mata Hajar melebar mendengar perkataan dari cucunya kalau anak laki-lakinya itu sudah berpelukan dan berciuman dengan anak gadis orang. Anak semata wayangnya yang dulu pemalu jika berhadapan dengan seorang gadis, kini telah berubah menjadi laki-laki yang tidak tahu malu.


"Jadi, kalian ber–ciuman di depan ... Asiah?" tanya Hajar terkejut.


"I–Itu ... kejadiannya tidak seperti yang Ibu bayangkan," balas Yusuf dengan nada rendah.


"Lalu ... bagaimana?" lanjut Hajar masih menatap tajam pada putranya.


     Zulaikha tidak mau kalau hanya Yusuf saja yang disalahkan atas kejadian itu. Maka, dia pun melakukan pembelaan terhadap pujaan hatinya.


"Bu, itu salahnya setan!" jawab Zulaikha tiba-tiba.


     Semua orang langsung melihat ke arah Zulaikha. Gadis itu malah menjadi gugup dipandangi oleh semua orang seperti itu.


"I–Itu ... maksudnya ... saat itu kita tidak sengaja melakukannya karena terhasut bisikan setan," jelas Zulaikha dengan pelan dan bingung harus menjelaskan seperti apa.


     Mang Sholeh yang tadinya terkejut malah tertawa terbahak, setelah mendengar perkataan Zulaikha yang gugup dan malu. Dia tahu maksud dari gadis muda itu.


     Sementara Yusuf menahan napasnya ketika Zulaikha bicara. Dia masih ingat kejadian pertama saat mereka berciuman dulu. Meski Zulaikha yang memulainya, tetapi dia juga menginginkan itu dan menikmatinya.

__ADS_1


      Abah Taha hanya beristigfar mendengar ucapan Zulaikha. Dia tahu kalau kebanyakan dari orang-orang yang sedang jatuh cinta itu kadang mudah terhasut oleh bisikan setan untuk berbuat yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.


"Yusuf, lebih baik secepatnya kamu nikahi saja Zulaikha. Jika, kamu sudah tidak bisa menahan diri darinya. Dari pada kalian jatuh dalam kubangan dosa. Toh tadi Zulaikha juga bilang sudah siap menjadi istri kamu," kata Hajar. Dia tidak menyangka kalau perbuatan mereka sudah sampai sejauh itu.


"Benarkah itu, Ibu!" pekik Zulaikha sangat senang dan memegang tangan Hajar dengan kuat.


"Ibu merestui hubungan kami?" lanjut Zulaikha.


"Iya. Lebih baik kalian menikah secepatnya," ucap Hajar dengan senyum mengembang.


"Terima kasih, Ibu!" Zulaikha langsung memeluk tubuh Hajar.


"Belajarlah terus agar kamu bisa menjadi istri sholehah dan Ibu yang terbaik untuk anak-anak nanti," kata Hajar memberikan wejangan pada calon menantunya itu.


"Iya, Bu. Tenang saja. Pastinya Zulaikha akan terus belajar dan berkarya. Ibu ingin cucu berapa banyak? Dua, tiga, empat, atau lima lagi?" tanya Zulaikha dengan penuh semangat.


"Emangnya kamu mau sanggup melahirkan banyak anak?" tanya Hajar sambil tersenyum.


"Zulaikha ingin punya banyak anak nanti. Selama ini Zulaikha selalu merasa kesepian karena tidak punya saudara," jawab Zulaikha.

__ADS_1


"Yusuf, dengar apa kata calon istri kamu ini. Dia sudah siap juga punya anak banyak. Sana datangi orang tuanya! Ibu sudah tidak sabar ingin cepat punya mantu lagi," perintah Hajar.


"Baik, Bu. Yusuf harus minta cuti dulu ke kantor kalau mau menemui orang tua Zulaikha," balas Yusuf dengan muka yang terlihat bahagia. Dia tadinya takut kalau Ibunya tidak setuju karena Zulaikha itu masih muda dan masih sekolah.


"Abah juga setuju. Sebaiknya kalian secepatnya menikah agar terjauh dari perbuatan dosa. Cara memandang kalian berdua satu sama lainnya itu sudah selayaknya suami istri saja," ujar Abah Taha.


"Abah juga setuju kalau aku menikah dengan Zulaikha?" tanya Yusuf senang.


"Iya, dia mampu menjadi Ibu sambung yang baik untuk Asiah," jawab Abah Taha untuk menantunya itu. Dia memahami bagaimana keadaan Yusuf saat ini. Dia tidak marah karena hati menantunya sudah mempunyai tambatan baru pengganti putrinya. Selama Yusuf menjadi suami Aisha, dia sosok suami yang setia dan bertanggung jawab. Perhatian dan kasih sayangnya selalu di curahkan untuk Aisha dan Asiah. 


"Terima kasih Abah," ucap Yusuf lalu mencium tangan mertuanya itu.


"Ayah sama Mama Zulaikha kapan akan menikah? Nanti Asiah akan punya adik 'kan? Apa di dalam perut Mama Zulaikha, bayinya sudah ada?" tanya Asiah bertubi-tubi sambil menyentuh perut Zulaikha.


"I–Itu ...." Zulaikha dan Yusuf lagi-lagi merasa jantungnya akan jatuh saat mendengar ucapan Asiah. Apalagi mata para sesepuh terbelalak karena mendengar ucapan Asiah.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2