Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
Bab 138. Hamil Lagi


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Baca alon-alon jangan di skip. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 138


      Alin cemberut saat suaminya meminta anak lagi yang mirip dengannya. Padahal putra mereka baru saja bisa belajar melangkah sendiri. 


"Sayang~! Mau, ya?" rayu Raihan dengan mata puppy eyes.


"Tidak!" tolak Alin dengan tegas.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau punya anak yang mukanya Indonesia banget? Aku sungguh ingin punya. Satu–saja!" Raihan tidak pantang menyerah terus merayu sang Ratu di hatinya.


"Mas, coba deh kali ini kamu yang hamil dan melahirkan. Aku akan dukung kamu punya anak lagi," ucap Alin dengan nada kesal. Matanya memicing dengan alis mengkerut.


"Mana ada laki-laki hamil dan melahirkan," balas Raihan.


     Mendengar ucapan suaminya, Alin baru sadar kalau laki-laki itu tidak punya rahim tempat bayi di dalam perut. Dia pun manggut-manggut sambil bibirnya monyong kesana-kemari. Menandakan Alin sedang berpikir dengan keras.


     Raihan yang gemas sama ekspresi istrinya, langsung saja memberikan kecupan di pipi mulus itu. Hal ini membuat Alin terkejut, lalu tersenyum tersipu malu.


"Baiklah, kalau itu keinginan kamu, Mas. Tapi, nanti setelah Aku berumur tiga tahun, ya?" kata Alin.


"Tiga tahun!" pekik Raihan, 'itu kelamaan. Keburu Raya punya anak lagi.'


"Iya. Kasihan Ali, Mas. Jika dia tumbuh kekurangan ASI. Aku tidak mau anak-anak aku tidak sehat tubuh dan otaknya," balas Alin.


'Hah, sudahlah! Aku kadang tidak sampai pada yang ada di otak istriku ini. Terserah dia saja. Semoga saja aku lebih duluan punya anak yang berkulit eksotis dibandingkan Raya.'


***


     Tidak terasa waktu terus bergulir, kini usia anak-anak Rania dan Rain sudah berumur 4 bulan. Ketiga bayi itu tumbuh dengan cepat. Kini tubuh mereka pun sudah memiliki berat normal, bahkan hampir sama dengan anaknya Chelsea.


"Sayang, kita mandi dulu," kata Cantika sambil membuka bayi cucunya.


"Aku bantu, Kak." Mentari pun membuka baju cucunya yang lain.


"Fahima, biar sama aku saja." Alex yang muncul belakangan ingin memandikan cucu perempuannya.


"Lalu, aku?" Fatih yang muncul paling belakang juga ingin memandikan cucunya juga.


"Kamu siapkan baju dan perlengkapan lainnya," kata Alex pada sepupunya itu.

__ADS_1


"Selalu saja begitu, aku yang kebagian menyiapkan baju. Pokoknya aku yang akan mendandani Fahima nanti," balas Fatih.


"Tidak perlu, aku juga bisa mendandani Fahima," sanggah Alex.


"Kamu jangan jadi kakek yang posesif sama  cucu perempuan. Aku juga kakeknya Fahima," ujar Fatih tidak mau kalah.


     Rania dan Rain yang menyaksikan itu, hanya bisa menghela napasnya. Hampir setiap hari selalu seperti ini.


"Sudah, akan Nia kasih jadwal saja kalau terus bertengkar seperti ini. Jadwal mandi pagi-pagi sama Mama dan Papa. Lalu, jadwal mandi sore sama Ayah dan Bunda. Nia rasa ini sudah adil," ujar Rania dan di setujui oleh semuanya.


***


"Beb, Queensa pipis lagi! Padahal baru saja selesai aku dandani," kata Mega mengadu. Putrinya malah tertawa senang.


"Senang, ya. Sudah bikin Ayah repot," Mega membuka kembali semua baju putrinya yang basah terkena ompolnya.


"Namanya juga bayi. Dia belum bisa bicara, Ay," ucap Chelsea sambil tersenyum geli.


"Kenapa kulit Queensa harus sensitif sama pampers?" gerutu Mega karena kulit putrinya selalu merah dan bikin Queensa menangis.


"Justru ini malah bagus, Ay. Kata mommy Bintang juga biar popok dan celana diganti terus jika Queensa pipis atau pup. Jadi, terjaga terus kebersihannya," jelas Chelsea.


"Iya, tapi akan repot kalau kita sedang pergi keluar rumah. Tiba-tiba di pipis atau pup, kita harus ganti secepatnya," kata Mega. Meski dia lebih cekatan dibandingkan Chelsea dalam mengurus putrinya.


"Tentu saja, Beb. Bukan hanya kita saja yang sayang sama Queensa, keluarga besar aku dan keluarga besar kita juga sayang sama Queensa." Perkataan Mega itu di setujui oleh Chelsea.


    Keluarga Hakim, Green, Mochtar, dan Andersson semuanya menyayangi Queensa. Bahkan si Trio K dan dou M juga rela bela-belain pulang ke Indonesia untuk melihat Queensa yang dia lahirkan. Mereka juga mengakui putrinya juga sebagai keponakan mereka dan mengenalkannya kepada teman-teman dan rekan bisnis mereka. Sehingga Queensa selain dikenal sebagai buyut keluarga Mochtar dan Lazuardi, semua orang pun tahu putrinya merupakan keluarga dari Hakim.


"Ay, kenapa belakangan ini aku sering merasa mengantuk, ya?" Chelsea bersandar pada bahu suaminya.


"Kalau begitu tidurkan saja dulu. Biar Queensa bersama aku. Iya 'kan, Sayang. Yuk, mandi lagi sama Ayah. Biarkan Ibun bobo dulu," ajak Mega dan bayi itu malah menjerit-jerit senang. Mandi adalah salah satu kegiatan yang di sukai oleh Queensa selain jalan-jalan.


***


     Zulaikha merasa kalau saat ini tubuhnya terasa berat dan kepalanya juga terasa pusing. Dia kembali tidur setelah mengantarkan suaminya pergi ke kantor. Saat dia tertidur dalam mimpinya dia bertemu dengan Abah dan Aisah. Zulaikha senang bisa bertemu mereka.


"Abah sekarang terlihat segar tubuhnya," kata Zulaikha sambil tersenyum.


"Tentu saja, Nak. Penyakit abah sudah diangkat oleh Allah, jadi sudah tidak sakit lagi," balas Abah.


"Justru kamu yang sekarang terlihat tidak sehat. Kenapa?" tanya Aisah.


"Tidak tahu, belakangan ini tubuhku terasa lemas dan perut aku terasa panas. Sampai pinggang juga ikutan sakit. Rasanya aku itu ingin tidur terus atau rebahan," jawab Zulaikha dengan nada manja. Dia menganggap kalau Aisah itu adalah kakak perempuannya.

__ADS_1


"Apa kamu sedang hamil, Zulaikha? Aku juga dulu saat hamil Asiah seperti itu. Namun, aku selalu melawan rasa kantuk dan malas yang ada di dalam diriku itu. Alhamdulillah, aku pun tidak jadi istri yang suka bermalas-malasan. Meski sedang hamil maupun setelah melahirkan," ujar Aisah.


"Apa aku sedang hamil, ya?" gumam Zulaikha.


"Kenapa?" tanya Aisah lagi.


"Aku sebenarnya ingin punya anak lagi. Dan sekarang sedang melakukan program kehamilan. Tapi, sampai saat ini belum terlihat ada bayi di perut aku," jawab Zulaikha.


"Semoga Allah memberikan keturunan untuk kamu dan Yusuf," kata Abah mendoakan.


"Aamiin. Terima kasih, Abah." Air mata Zulaikha jatuh, dia berharap doa barusan di kabulkan oleh Allah.


"Yakinlah kalau Allah itu tahu apa yang kita inginkan. Tetapi dia akan memberikan apa yang kita butuhkan. Semoga kamu dan Abang diberikan keturunan yang Sholeh dan Sholehah agar kelak di akhirat menjadi ladang investasi untuk masuk ke surga," ujar Aisah.


"Terima kasih," kata Zulaikha sambil memeluk tubuh Aisah.


"Aku titip Asiah dan sampaikan salam rindu kepadanya," bisik Aisah.


"Ya, akan aku sampaikan. Dia kini sudah menjadi istri dan ibu. Dia wanita hebat seperti dirimu," balas Zulaikha.


"Terima kasih, kamu dan abang sudah menjaga dan membesarkan Asiah." Aisah melepaskan pelukannya dan menatap pada Zulaikha.


"Itu sudah kewajiban bagi kami," ucap Zulaikha dengan tersenyum manis.


"Kembalilah, Nak. Di sini bukan tempat kamu," ucap Abah Taha.


"Iya, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."


Zulaikha pun terbangun dari mimpinya. Dia melihat jam di dinding, ternyata dia sudah tertidur selama 1 jam 15 menit. Mata dia memicing pada kalender yang ada di atas nakas.


"Tunggu. Seharusnya aku sudah datang bulan untuk bulan ini. Apa ... jangan-jangan—" Zulaikha memegang perutnya dengan air mata yang berkaca-kaca.


"Ya Allah, semoga saja sekarang ini aku beneran bisa hamil," gumam Zulaikha dengan seulas senyum di bibirnya yang pucat.


***


Apakah Zulaikha hamil saat ini dan akan memiliki bayi sesuai dengan apa yang dia harapkan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Aku sedang mempersiapkan karya baru untuk mengantikan novel ini. Mohon dukungannya, ya! 😍



__ADS_1


__ADS_2