Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 48. Raihan Kesepian


__ADS_3

     Raihan makan malam sendiri, dia merasa asing dengan rumahnya sendiri. Suasananya sepi, tidak ada celoteh suara cempreng milik istrinya. Dia pun merasa tidak bersemangat untuk makan.


"Belum juga di tinggal satu hari, sudah terasa banget perbedaannya ini rumah." Raihan mengedarkan penglihatannya ke seluruh ruangan.


"Ternyata suara yang kayak blek kaleng jatuh itu kini sudah terbiasa ditelinga aku," kata Raihan bermonolog.


       Akhirnya, dia pun memilih berkutat mengerjakan pekerjaan kantornya agar tepat sebelum tanggal satu nanti semua sudah beres semuanya. Raihan pikir dengan melakukan pekerjaannya itu bisa mengurangi rasa ke khawatiran dirinya terhadap Alin.


"Ahk! Pekerjaan pun tidak bisa aku selesaikan dengan cepat seperti biasanya," geram Raihan sambil memukul meja kerjanya.


"Kenapa bocah ingusan itu belum menghubungi aku juga!" pekiknya.


     Raihan pun masuk ke kamarnya, mungkin dengan tidur dia bisa menangkan pikirannya.


***


"Alin."


"Akbar."


"Kamu cantik dan manis sekali," kata Akbar memuji sambil menatap wajah Alin dengan penuh ke kaguman.


"Kamu juga ganteng dan baik hati," balas Alin dengan senyum menawan.


"Aku menyukai kamu. Mau kah, kamu menjadi pacarku?" tanya Akbar.


"Tapi, aku sudah menikah," balas Alin dengan wajah sendu.


"Apa? Ja-di kamu su-dah punya su-ami?" tanya Akbar dengan tergagap.


"Iya, aku dan dia menikah karena terpaksa. Gara-gara ada insiden yang tidak di sengaja," jawab Alin dengan jujur.


"Katakan padaku, apa kamu, mencintai suamimu itu?" tanya Akbar lagi seakan dia mau mengorek kehidupan Alin.


"Tidak. Aku tidak mencintai dia. Suamiku itu galak, suka memberikan hukuman kepada aku kalau berbuat salah," jawab Alin.


"Kalau begitu tinggalkan dia. Aku akan selalu membuat kamu bahagia dengan berada di sisiku," lanjut Akbar.


"Benarkah? Kamu janji tidak akan memberikan hukuman kepada aku aku jika sudah berbuat salah?" tanya Alin sambil menatap dan membelai wajah Akbar.


"Iya, aku janji!" seru Akbar.


"Kalau begitu aku mau jadi pacar kamu. Tapi, jangan bilang siapa-siapa, ya! Terutama Rania dan Chelsea," ucap Alin.


"Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang kamu mau," bisik Akbar sambil menagkupkan kedua tangannya di pipi Alin.

__ADS_1


"Kalau begitu cium aku sekarang!" titah Alin dengan suara menggoda.


"Dengan senang hati akan aku lakukan," ucap Akbar, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Alin.


***


"Tidak! Jangan lakukan itu Alin!" Raihan terbangun dari tidurnya. 


     Badannya penuh dengan keringat dan debaran jantungnya bergemuruh. Dia melihat masih berada di dalam kamarnya. Dilihatnya jam weker yang ada di atas nakas yang menunjukan waktu saat ini.


"Baru jam sebelas malam," gumam Raihan sambil mengusap wajahnya.


     Dia pun mengambil handphone miliknya dan menghubungi nomor telepon istrinya. Ternyata hanya suara petugas operator yang memberitahu kalau nomor yang akan dia hubungi itu berada diluar jangkauan area jaringan.


"Apa dia menonaktifkan ponselnya?" Raihan bertanya-tanya.


"Ahk! Aku coba telepon Nia saja!"


     Raihan pun menghubungi adik perempuannya. Kali ini sambungannya terhubung.


"Assalamu'alaikum, Kak. Ada apa?" tanya Rania di seberang telepon.


"Kakak mau tanya … a-apa Alin … ada di dekat kamu? Karena ponsel dia tidak aktif," ucap Raihan dengan terputus-putus.


"Alin?" tanya Rania membeo.


"Alin, tadi aku lihat sedang bersama Akbar. Ada apa?" Terdengar suara Chelsea kali ini.


"Iya. Mereka kemana? Kenapa dia tidak ada ada di dalam tenda" tanya Rania pada Chelsea.


"Entahlah. Aku sudah mengantuk. Tanya pada yang lain saja," jawab Chelsea.


"Nia nggak tahu Alin ke mana? Badan Nia capek banget dan ngantuk," ucap Rania di seberang telepon sana.


"Ya, sudah. Kamu istirahat saja," kata Raihan dan mereka mengakhiri panggilan itu.


     Mendengar hal itu membuat Raihan semakin panik. Bahkan dia pun langsung bangun dari atas ranjangnya. Diambilnya kunci mobil yang ada di atas meja. Raihan bergegas pergi sambil memakai mantel miliknya.


***


     Seperti orang gila, Raihan mengendari mobil dengan kecepatan tinggi di tengah malam menuju bumi perkemahan, tempat Alin berkemah. Malam yang sepi dari kendaraan menguntungkan dirinya. Jarak tempuh yang normalnya 2 jam, Raihan mampu sampai tidak sampai 1 jam, mungkin lebih tepatnya 50 menit. Dia parkiran mobilnya di dekat gapura.


     Dia pun masuk ke lingkungan murid-murid mendirikan tenda. Raihan mencari Alin lewat GPS. Dia berjalan cepat ke arah sebuah tenda. Dia agak tenang sekarang karena Alin sudah masuk ke tendanya.


"Alin," bisik Raihan, tetapi tidak ada tanggapan atau sahutan dari dalam.

__ADS_1


     Keberuntungan menghampiri Raihan. Dia melihat kalau tenda itu kuncinya tidak terpasang dan posisi Alin di depan pintu masuk. Senyum mengembang tercipta dari wajahnya. 


"Kamu sudah membuat aku khawatir," gumam Raihan sambil mencubit pipi Alin dengan gemas.


"Kayaknya kamu harus mendapat tripel hukuman," gumamnya lagi.


"Kenapa ada Kak Ian?" gumam Alin dengan mata terbuka lalu menutup lagi.


"Alin bangun," lirih Raihan sambil menggoyangkan bahu Alin. Namun, istrinya itu tetap bergeming di tempatnya.


"Aku culik kamu, baru tahu rasa!" 


     Kemudian tiba-tiba terlintas ide jahil Raihan pada Alin. Dia mengeluarkan Alin dari dalam tenda. Lali di gendongnya tubuh istrinya oleh Raihan dan membawanya pergi dari sana.


 ***


     Raihan memasukan tubuh istrinya dalam mobil dan membaringkan tubuh Alin di sana. Diselimuti tubuh gadis itu dengan mantel panjang miliknya. Dia pun ikut membaringkan tubuhnya di kursi mobil yang sudah diturunkan sandarannya.


"Belum juga satu hari, kenapa aku merasa ingin melihat wajah ini?"


      Raihan menyentuh pipi Alin kemudian bibirnya. Senyumnya pun tercipta karena teringat akan perkataan Alin tentang kapan mereka akan berciuman.


     Muka Raihan berubah masam karena teringat kembali akan mimpinya. Alin berciuman dengan Akbar dan itu membuatnya marah dan kesal.


"Alin bangun! Kalau nggak bangun aku akan cium kamu," kata Raihan. Meski di tunggu beberapa saat dan dia menggoyangkan bahunya, Alin tetap tidak membuka matanya.


"Ini bocah kalau sudah tidur kayak mayat saja. Tidak bangun meski sudah dicubit begini juga," kata Raihan bermonolog.


"Alin beneran loh, aku akan cium kamu kalau nggak bangun juga!" ujar Raihan sambil menyentuh bibir lembut milik Alin.


***


     Alin mengerjapkan matanya, dia merasa sangat nyenyak tidurnya. Betapa terkejutnya dia saat menyadari kalau dirinya sedang berada di dalam mobil.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Alin sambil bangun.


"Ini," kata Alin sambil memegang mantel milik Raihan.


"Tidak mungkin! Masa Kak Ian datang ke sini?" Alin bermonolog sambil memegang kedua pipinya.


"Tapi, ini benaran mobil milik Kak Ian," ucap Alin saat dia yakin kalau dia sedang berada di mobil suaminya.


***


Nah Raihan pergi ke mana? Apa yang akan terjadi di bumi perkemahan itu? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar yang membangun agar karya aku lebih baik lagi. 🤗🤗.

__ADS_1


Sambil menunggu up Raihan dan Alin selanjutnya. Aku punya karya yang rekomen buat kalian baca. Pastinya nggak kalah seru ceritanya. Cus meluncur ke karya Kak Bhebz.



__ADS_2