Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 78. Bertemu Dengan Keluarga Kiai Samsul


__ADS_3

     Asiah mengirim pesan kepada Rayyan, tetapi nomornya tidak aktif. Dia mencoba menghubungi telepon rumah, tidak ada juga yang mengangkat panggilannya itu. Hal ini membuat Asiah merasa cemas. Hati dan pikirannya mulai tidak tenang. Bayang-bayang kalau Rayyan tidak akan mempedulikan dirinya lagi kini terlintas dalam pikirannya.


"Masa Aa, beneran tega nggak peduli lagi padaku," gumam Asiah masih mencoba menghubungi Rayyan.


"Bagaimana?" tanya Sulaiman.


"Tidak dibalas," jawab Asiah.


"Ya, sudah. Besok aku akan antar kamu pulang dan bicara langsung dengan Raya. Aku akan bilang kalau aku yang memaksa kamu agar ikut ke sini," ucap Sulaiman.


"Jangan. Kamu tidak perlu berbohong. Raya pasti akan mengerti, kok. Asal aku pulang dalam keadaan baik-baik saja," kata Asiah.


"Iya, karena dia begitu mencintai kamu. Sehingga, takut kalau terjadi apa-apa kepada kamu. Tapi, jika Raya memarahi kamu, bilang saja kepadaku, ya?" Sulaiman tersenyum jahil.


"Ish, kamu tidak tahu marahnya Raya bagaimana," balas Asiah dengan menyipitkan matanya.


"Ya, keluarga dia semuanya mengerikan," ujar Sulaiman sambil tertawa kecil dan diikuti oleh Asiah.


"Yuk, kita gabung bersama teman-teman. Mereka sedang membakar jagung dan barbeque," kata Sulaiman sambil menarik tangan Asiah menuju halaman samping.


***


     Rain dan yang lainnya kini sudah sampai ke rumah Kiai Samsul. Kedatangan mereka di sambut dengan suka cita oleh keluarga Kiai Samsul dan beberapa anak Tahfiz yang sudah kenal kepada Rain dan Rania.


     Setelah itu mereka masuk ke dalam ruang yang lumayan besar dan kosong. Hanya ada hamparan karpet di sana. Keenam pemuda dan pemudi itu duduk memanjang dan berhadapan dengan Kiai Samsul dan Ummu Habibah.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian bisa menginjakkan kaki di sini juga," kata Kiai Samsul.


"Raya kemana? Kenapa dia tidak ikut?" tanya Ummu Habibah berturut-turut.

__ADS_1


"Raya tidak bisa ikut karena ada keperluan dengan istrinya, Ummu," jawab Raihan.


"Raya sudah menikah?" tanya Kiai Samsul terkejut.


"Iya, Kiai. Bukan hanya Raya yang sudah menikah kita juga sudah menikah," kata Raihan sambil menunjuk dirinya and Rain.


"Apa maksudnya Rain juga sudah menikah?" tanya Kiai Samsul sangat terkejut. Raut mukanya berubah dengan cepat. Senyum ramah yang selalu terukir di wajahnya yang sudah tua itu, tiba-tiba menghilang.


"Iya, Kiai. Maaf aku terlambat memberitahukan hal ini," jawab Rain dengan hati-hati.


"Tunggu Rain, bukannya kamu bilang akan mengkhitbah Amira!" pekik Ummu Habibah.


     Terlihat Amira juga sangat terkejut saat mendengar ucapan Rain barusan. Hatinya sakit terasa diremat dengan kuat, sampai dadanya terasa sesak. Matanya pun terlihat sudah berkaca-kaca. Dia memilih menundukkan kepalanya dengan cepat takut air matanya keluar dengan cepat tanpa sempat dia cegah.


"Maaf, Ummu. Kejadiannya begitu cepat waktu itu," balas Rain. Lalu dia pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya saat pulang dari sana dulu.


"Lalu, sekarang apa kamu akan melakukan poligami?" tanya Kiai Samsul.


     Bagaikan tersambar petir, Rania langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. Ini yang paling tidak diinginkan oleh dia. Lalu, dia mengalihkan penglihatannya ke arah Rain. Dia ingin tahu jawaban yang akan diberikan oleh suaminya itu.


"Tidak, Kiai. Maaf, aku tidak pernah punya niatan untuk berpoligami," jawab Rain dengan tegas dan bersungguh-sungguh.


"Lalu, bagaimana dengan Amira? Dia selalu menunggu kamu selama ini," ujar Ummu Habibah.


"Benar. Kamu sudah menyakiti hatinya. Menghancurkan harapan dan penantiannya," lanjut Kiai Samsul.


"Maaf, kita tidak tahu dengan takdir yang diberikan oleh Allah kepada semua makhluknya. Kita hanya bisa berencana dan Allah 'lah yang menentukan. Dan takdir jodoh aku adalah Rania. Sungguh, tidak pernah terlintas dalam hati atau pikiran aku akan beristri sepupu aku sendiri," jelas Rain.


"Bukannya seorang laki-laki bisa memiliki istri lebih dari satu. Kalau kamu memang benar-benar memegang akan janji kamu, maka nikahilah Amira!" titah Kiai Samsul.

__ADS_1


     Rain, Raihan, Mega, Rania, Alin, Chelsea, dan Amira sangat terkejut mendengar ucapan Kiai Samsul barusan. Rania sudah ingin bicara, tetapi dia urungkan saat melihat Kakaknya memberi isyarat untuk diam.


"Maaf Kiai Samsul, kurasa kurang tepat jika ucapan aku dulu disebut janji. Aku tidak pernah mengucapkan janji. Aku bilang insya Allah waktu itu. Jika takdir menyatukan kita, aku ingin beristrikan Amira. Namun, pada nyatanya takdir yang diberikan oleh Allah kepada aku adalah Rania," balas Rain.


     Ada rasa senang dan tenang dari hati Rania saat ini. Suaminya itu memegang ucapannya kalau dia tidak mau berpoligami.


"Lalu apa maksudnya kamu juga memberikan buku pada Amira tentang hak dan kewajiban seorang istri," ucap Ummu Habibah.


"Aku rasa itu buku yang sangat bagus untuk dibaca oleh para perempuan. Baik yang belum menikah atau yang baru menikah. Banyak ilmu dan hikmah yang bisa diambil dari sana," balas Rain.


"Kamu sudah mempermainkan perasaan seorang wanita baik-baik. Allah pasti akan membalas perbuatan kamu ini, Rain," kata Ummu Habibah.


"Benar Ummu, semua perbuatan kita mau baik atau buruk pasti akan mendapat balasan dari Allah. Oleh karena itu, aku ingin minta maaf sekali lagi kepada Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan terutama kepada Kak Amira. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik buat Kakak. Bukan hanya jodoh di dunia saja, tetapi jodoh sampai ke akhirat," pungkas Rain sambil melihat ke arah mereka satu persatu.


     Hati Rain pun sangat sakit semenjak melihat gadis bercadar hitam itu. Dia juga berharap kalau gadis itu kelak akan menemukan kebahagiaannya. Setiap kata-kata yang dia keluar dari mulutnya terasa menghujam dada sampai ke ulu hati.


     Selama ini Rain sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Hari dimana akan menorehkan luka kepada orang-orang yang disayangi dan dicintai olehnya. Cinta? Kadang dia sendiri bingung akan rasa itu? Jika arti cinta itu suka, pastinya akan jatuh kepada Amira. Namun, jika arti cinta ingin memiliki dan tidak mau kehilangan dari sisinya. Maka, Rania adalah jawabannya.


     Rain tahu sejak dulu kalau dirinya tidak suka jika diabaikan oleh Rania. Dijauhi oleh gadis itu membuatnya merasa kehilangan. Dan baru-baru ini di sudut hatinya juga kalau dia merasa nyaman saat tinggal bersama dengan Rania. Dia menikmati waktu tinggal bersama dengan gadis yang hobi bernyanyi dan makan cemilan ini.


Air mata Amira jatuh menetes membasahi cadarnya. Rain melihat itu dan hatinya pun ikut merasa sedih. Dia juga merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat seorang perempuan baik-baik menangis karenanya.


Seandainya tidak pernah ada kejadian malam itu. Dia tidak akan menikah dengan Rania dan pastinya menikahi Amira sesuai rencana.


"Kak Amira, maukan kamu memaafkan aku?" tanya Rain dengan nada memohon.


***


Jawab apa yang akan diberikan oleh Amira? Bagaimana perasaan Amira dan Rania saat ini? Apa yang sedang dilakukan oleh Rayyan? Tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2