
Begitu keluar mobil, Alin merasakan dingin yang menusuk ke kulitnya. Dia pun memakai mantel milik Raihan. Kalau dilihat dia seperti memakai gamis dengan lengan kepanjangan. Alin berkeliling di sekitar sana untuk mencari keberadaan suaminya.
"Aku kira ada orang-orang sawah. Eh, tahunya istri sendiri," kata Raihan dari arah belakang Alin.
"Kyaaaak!" teriak Alin dan Raihan langsung membekap mulutnya.
Alin melihat ada suaminya yang tiba-tiba muncul. Penampilan Raihan terlihat segar dan wangi. Sampai-sampai Alin mencubit tangannya sendiri dan terasa sakit.
"Bisa diam nggak! Orang lain masih tidur," ucap Raihan dan Alin pun mengangguk.
Raihan pun mengajak Alin masuk ke dalam mobil karena di luar suhu udara sangat dingin. Dia juga merasakan kulit pipi Alin sangat dingin. Lalu ditangkupkan kedua tangannya ke pipi Alin.
"Hangat?" kata Raihan dan Alin pun mengangguk.
"Kenapa tidak mengubungi aku begitu sudah sampai di sini?" tanya Raihan dengan lembut.
"Lupa," kata Alin terbelalak matanya karena baru sadar akan keteledorannya.
"Kamu harus mendapatkan hu—." Raihan tidak jadi melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba kata Alin dalam mimpinya terngiang-ngiang kembali.
"Maaf, Kak. Nanti aku tidak akan lupa lagi, deh!" seru Alin sambil tersenyum manis dengan sebelah matanya berkedip.
"Sepertinya kamu ini benar-benar ingin membuat aku cemas setengah mati," gumam Raihan.
"Apa, Kak?" Alin mendekatkan kepalanya ke arah Raihan dan di waktu yang bersamaan suaminya itu memalingkan wajahnya.
DUK
"Awww!" Alin mengusap keningnya sedangkan Raihan memegang dagu dan bibi yang tergigit oleh gigi akibat dari benturan barusan.
"Alin, kamu sudah membuat bibir aku berdarah!" pekik Raihan sambil melihat ke arah kaca spion.
"Maaf, Kak. Mana, sini aku lihat!" pinta Alin sambil memegang wajah suaminya dan dia memegang bibir Raihan untuk melihat lukanya.
Otak Alin malah berpikir yang enggak-enggak saat menyentuh kulit lembut dan hangat itu. Dia menelan salivanya karena bibir itu, begitu terlihat menggoda.
Alin sangat penasaran dengan rasa bibir suaminya. Dia pun memajukan wajahnya dan memiringkan kepala sedikit karena ingin menggapai benda berwarna merah muda segar dan lembut itu.
"Mau apa kamu?" Raihan menahan mulut Alin yang sedikit lagi sampai ke bibirnya.
"Cium. Penasaran rasanya seperti apa? Kata Kak Asiah itu sangat menyenangkan dan membuatnya ketagihan," jawab Alin polos dengan matanya yang bening beradu pandang dengan Raihan.
__ADS_1
"Makanya jangan ciuman dulu. Nanti kamu ketagihan. Sulit berhenti jika sudah ketagihan," kata Raihan.
"Kita kan sudah jadi suami istri. Jadi, bebas kalau mau berciuman kapanpun dan dimanapun," balas Alin sambil melingkarkan sebelah tangan ke belakang leher Raihan.
"Aku ini laki-laki dewasa yang normal, Alin. Pastinya tidak akan cukup kalau cuma satu kali kecupan atau ciuman," kata Raihan sambil menatap ke arah mata Alin.
"Kakak boleh mencium Alin sehari lebih dari satu kali setiap harinya. Alin ridho … pasrah, dan rela pokoknya," balas Alin dengan sungguh-sungguh.
"Beneran, nih?" tanya Raihan sambil menahan senyumnya.
"Tentu saja bener," jawab Alin diikuti senyum manisnya.
"Kalau kamu hamil bagaimana?" Raihan menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah istrinya yang tiba-tiba berubah pucat.
"Tidak! Aku tidak mau hamil dulu," kata Alin dengan terlihat gugup dan menjauhkan dirinya dari Raihan.
"Kan ada aku, suami kamu yang akan bertanggung jawab," ujar Raihan sambil mendekat pada Alin.
"Jangan macam-macam, Kak. Atau aku akan teriak dengan keras," kata Alin mengancam.
"Kalau kamu berteriak, nanti kita akan digerebek sama warga, loh!" Raihan tersenyum jahil. Dia merasa kehampaan dalam dirinya tadi kini sudah tidak ada lagi. Hanya melihat Alin di depannya, menjahilinya, dan menyentuhnya, sudah membuatnya bahagia.
"Kak, jangan nakut-nakutin! Gimana kalau kita nanti di giring ke kantor desa. Bisa malu orang tua kita," ucap Alin dengan wajah ketakutan.
"Iya. Aku mengerti," jawab Alin.
"Sana mandi! Setengah jam lagi masuk Subuh," kata Raihan.
"Nanti siang, sekarang dingin, Kak." Alin menggelengkan kepalanya.
"Siang nggak akan keburu. Nanti keburu banyak kegiatan. Masa kamu nggak akan mandi seharian," ucap Raihan sambil mengerlingkan matanya.
"Tapi, air di sini sangat dingin," balas Alin.
"Setelah mandi nanti aku peluk biar hangat," kata Raihan dan membuat Alin merona.
"Sana cepat! Aku juga sudah mandi, nggak dingin-dingin amat kok," tambah Raihan. Sehingga mau nggak mau Alin menurutinya.
"Nih, pakai ini saja!" Raihan memberikan handuk kecil dan perlengkapan mandi miliknya yang disimpan dalam tas kecil.
***
__ADS_1
Alin mandi kilat cuma 5 menit sudah selesai dan beneran dia menagih di peluk sama Raihan karena merasa kedinginan. Padahal ini modus mereka berdua saja. Ingin berpelukan saja harus mencari alasan. Suhu udara memang dingin, tetapi air di sana terasa hangat karena banyak air yang keluar dari mata air langsung.
Kedua anak manusia yang berbeda gender itu kini berpelukan di kursi belakang. Sambil menunggu waktunya kumandang adzan Subuh. Tidak ada percakapan dari keduanya. Mereka sedang menikmati saat-saat intim seperti ini.
Raihan memeluk tubuh Alin tidak terlalu erat. Dia juga membelai kepala istrinya dengan pelan. Hal ini malah membuat Alin jatuh tertidur kembali lagi.
***
Raihan pun kembali ke Jakarta setelah sholat subuh karena harus menyelesaikan sisa tugasnya. Demi menjalankan rencana kencan melihat bintang. Dia rela harus lembur terus. Niat libur cuma 2 hari. Dia ubah menjadi satu Minggu karena saat itu Alin libur sekolah selama satu Minggu.
Pemuda tampan itu melewati harinya dengan perasaan riang dan senang. Semua tugas di kantornya juga dapat dia selesaikan dengan baik.
"Apa aku datang lagi ke bumi perkemahan, ya?" gumamnya.
"Ahk, ajak Rain dan Mega!" Raihan pun lalu menghubungi saudaranya itu.
Senyum lebar tercipta di wajahnya. Saat kedua sepupunya itu mau ikutan ke sana, dengan dalih menjenguk sambil membawa makanan untuk mereka.
***
Sekarang ketiga pemuda itu sudah siap ke laju ke bumi perkemahan dengan membawa banyak makanan dan minuman. Mereka membawa mobil Van milik keluarga Fatih.
"Semua sudah siap 'kan?" tanya Mega.
"Sudah," jawab Rain singkat.
"Ayo, berangkat!" ajak Raihan dengan penuh semangat.
"Mau ke mana mereka?" tanya Asiah pada Rayyan yang berdiri mematung melihat saudara-saudara pergi.
"Biasa, para pria kesepian karena tidak ada penambah imun dan energi dalam hidupnya karena mereka sedang berkemah," jawab Rayyan dan bikin Asiah mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kalau penambah imun dan energi milik aku 'kan kamu, Sayang." Rayyan memeluk tubuh Asiah.
"Aku juga begitu. Sehari tidak bersama Aa, rasanya ada yang hilang," balas Asiah.
"Aku berharap mereka tidak berbuat kekacauan di sana," ujar Rayyan.
***
Kira-kira apa yang akan terjadi di bumi perkemahan itu? Rayyan dan Asiah masih sayang-sayangan. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.
__ADS_1
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Aku punya karya yang rekomen banget buat kalian baca. Ceritanya nggak kalah bagus dan seru, loh. Yuk kepoin karya Author Tyatul.