
Beberapa hari pun berlalu dan kini Rania, Alin, dan Chelsea sudah mulai masuk ajaran tahun baru. Mereka sekarang duduk di kelas 12. Hari pertama masuk sekolah disambut oleh mereka dengan malas-malasan karena sudah keenakan libur.
Alin yang malas-malasan pun butuh penyemangat agar bisa kembali beraktivitas di sekolah. Tentu saja Raihan membuatkan sarapan spesial untuknya. Cuma sereal dan susu lalu satu cup besar potongan buah pepaya yang dicampur dengan perasan jeruk nipis dan ditambah gula sedikit. Semua itu habis dimakan oleh Alin dan Raihan bersama-sama.
"Aku sudah buatkan sarapan untuk istriku tercinta, jadi semangat dalam mencari ilmu, ya!" kata Raihan sambil mengusap pucuk kepala Alin.
"Terima kasih, suamiku tercinta. Aku akan semakin giat belajar. Tambah imunnya, dong!" Alin memajukan bibirnya dan malah di comot oleh Raihan. Alin cemberut sedangkan Raihan tertawa
***
Sementara Chelsea, setelah subuh asik video call dengan Mega cuma untuk berbincang-bincang sampai waktunya mandi. Dia senang jika bisa bertatap muka dan berbicara dengan kekasih hatinya itu. Tidak jauh dengan Rayyan dan Asiah yang sejak kecil sudah saling suka. Begitu juga dengan Chelsea dan Mega. Mereka sudah bersama sejak kecil. Meski dilarang pacaran, mereka diam-diam menjalin hubungan saat Chelsea masuk SMP, dan itu pun pacaran jarak jauh. Sebab Mega sejak SD sudah masuk pesantren, tetapi berbeda tempat mondoknya dengan si Trio R. Hubungan mereka tidak lebih dari pegangan tangan, pelukan pun pernah hanya saja jarang sekali. Meski begitu, Mega sudah minta izin pada kedua orang tuanya untuk melamarkan Chelsea, saat gadis itu sudah lulus sekolah.
"Beb, semangat cari ilmu, ya!" kata Mega.
"Siap, Ayang!" balas Chelsea sambil tersenyum lebar.
***
Berbeda dengan Chelsea dan Alin, Rania pagi ini menyambut harinya dengan rasa bahagia. Alasannya dia bisa menikmati suasana ramai di kelasnya. Selama ini dia sering merasa kesepian jika sedang berada di apartemen. Rain selalu sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja jika sudah pulang. Makanya, Rania malah sering berkaraoke atau main game untuk menghilangkan kesepiannya.
Sambil membuat sarapan Rania bernyanyi dengan ceria dan itu membuat Rain bertanya-tanya dalam hatinya, hal apa yang membuat istrinya itu bahagia. Dia terus memperhatikan Rania dari belakang. Sepupunya yang manja, cerewet, dan centil itu, kini sudah besar dan semakin cantik. Meski hanya berdua saja di apartemen, Rania selalu memakai jilbab instan di kepalanya. Baru dua kali selama dia menikah dengannya, melihat Rania tanpa hijab. Pertama saat mereka awal menikah dan Rania bilang tidak ada mukena karena mau sholat dan yang kedua, saat dia menyusup ke dalam kamar Rania.
'Hubungan aku dan Nia ke depannya akan seperti apa, ya?' tanya Rain pada dirinya sendiri dalam hati.
"Kak Rain, ini sarapannya sudah jadi," kata Rania saat melihat ada suaminya sedang berdiri di dekat meja makan.
"Kamu membuat apa? Wangi sekali masakannya," tanya Rain sambil berjalan ke arah Rania yang baru mematikan kompor gasnya.
"Nasi goreng sederhana, tidak banyak campuran yang Nia masukan ke dalamnya," jawab Rania sambil meletakan dua piring kosong.
Rain memperhatikan istrinya yang sedang memasukan nasi goreng, telur ceplok, irisan mentimun, irisan tomat, dan kerupuk. Rania melakukan itu dengan gerakan cepat sehingga serasa dalam sekejap semua sudah selesai dihidangkan.
"Ayo, Kak! Kita makan," ajak Rania sambil membawa dua piring itu dan meletakkannya di atas meja makan.
__ADS_1
"Aku buat teh tawar sebagai minumannya, karena stok buah-buahan di kulkas ternyata sudah habis," kata Rania sambil menuangkan teh yang masih terlihat mengepul asapnya.
"Hn, nanti kita belanja," ucap Rain.
"Kak Rain, sekarang Nia sudah kelas dua belas. Pastinya akan banyak sekali jadwal tambahan belajar, mungkin akan sering pulang terlambat, jadi Kakak tidak perlu jemput ke rumah Bunda. Nia akan pulang naik taksi online saja dan langsung pulang ke sini," ucap Rania sambil menatap ke arah Rain.
"Tidak. Aku akan jemput kamu langsung ke sekolah. Jam berapa pun itu," balas Rain.
"Nanti Kak Rain lelah," ujar Rania.
"Itu sudah kewajiban aku," balas Rain lagi. Kedua netra mereka saling beradu dan lewat tatapan mata itu masing-masing sudah tahu apa yang ada dalam hati mereka.
Rania pun diam lalu memakan sarapannya. Meski dia tidak mau merepotkan suaminya yang belakangan ini semakin sibuk, dia pun mengalah.
***
Aksi Rayyan dan Asiah yang sedang marahan bisa dirasakan oleh para penghuni rumah. Tidak ada keceriaan dari wajah keduanya. Bahkan wajah Asiah terus dia tekuk.
Zulaikha ingin bertanya ada masalah apa, tetapi dia urungkan saat suaminya menggelengkan kepala. Dia pun menahan diri, tentu saja nanti dia akan diam-diam bertanya pada Asiah.
Asiah merasa kalau sekarang Rayyan sudah keterlaluan. Suka bertindak seenaknya pada dirinya. Dia merasa Rayyan adalah suami yang otoriter. Apapun perkataannya adalah mutlak dan wajib dia turuti. Membatasi dirinya untuk bergaul dengan orang lain, terutama teman laki-laki.
Selain itu sifat Rayyan yang posesif semakin menjadi-jadi. Asiah merasa sangat sesak karena merasa selalu di awasi dan apa-apa harus sepengetahuan dan persetujuan suaminya.
'A, kenapa kamu berubah jadi begini?' tanya Asiah dalam hati.
'Kamu ini sebenarnya cinta atau hanya obsesi kepadaku?' Asiah melirik diam-diam kepada Rayyan yang sedang menyetir.
'Kenapa sekarang aku merasa tidak bahagia atau senang saat berada di dekat kamu? Apa kamu terlalu mengekang kepadaku sehingga membuat aku terpenjara?' tanya Asiah masih dalam hatinya. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin dia ketahui jawabannya.
Perasaan Asiah juga sering goyah belakang ini. Apa cinta untuk Rayyan masih seperti dulu atau berkurang. Belakangan ini mereka berdua sering tidak sejalan dalam segala hal.
Tanpa terasa mereka pun sudah sampai ke kampus. Asiah pun dengan cepat keluar dari mobil dan bergegas ke kelas.
__ADS_1
Rayyan yang kesal pun menutup pintu mobil dengan keras sambil berkata, "Berani sekali dia tidak pamit padaku!"
"Asiah, kenapa kamu jadi begini? Sepenting itu kah, teman-teman kamu dibandingkan aku yang merupakan suamimu," gumam Rayyan.
Langkah kaki Rayyan memasuki ruang kerjanya. Hari ini dia mengajar di pagi hari, setelah itu baru ke salah satu perusahaan keluarga Hakim yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Sebagai dosen baru, Rayyan sudah menjadi idola para mahasiswanya karena ketampanan dan kecerdasannya. Meski dia terbilang dingin, tetapi cara mengajarnya membuat mahasiswa didikannya merasa puas akan cara menjelaskan materi pelajarannya.
"Pak Rayyan, pagi-pagi sudah ada di kampus, memangnya ada jadwal pagi ini?" tanya seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai, saat mereka bertemu di koridor.
"Ya, Bu Angela. Ada jam mengajar pagi ini," jawab Rayyan.
"Senangnya jika jadwal kita sering bersamaan," kata dosen bernama Angela itu.
"Permisi, Bu. Sebentar lagi sudah mau masuk," ucap Rayyan sambil melihat ke arah jam tangannya. Lalu dia pun pergi meninggalkan Angela.
"Rayyan, kenapa kamu dingin sekali? Apa aku kurang seksi di matanya?" gumam Angela sambil terus melihat pada Rayyan yang menjauh.
***
Wajah Asiah bisa cerah saat melihat Sulaiman. Dia adalah salah satu-satunya teman setia kawan miliknya yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.
"Sulaiman!" panggil Asiah dengan senyum tipisnya.
"Hai, Asiah!" Sulaiman pun tersenyum manis pada perempuan yang kini berjalan ke arahnya.
"Apa mereka itu pasangan kekasih atau sedang masa pendekatan?" bisik sekelompok mahasiswi saat melihat interaksi antara Asiah dan Sulaiman.
***
Asiah mulai goyah nih, apakah mereka akan bertahan atau pisah? Rain mulai menunjukan keposesifannya pada Rania gara-gara ada laki-laki yang secara terang-terangan menyukainya 🤭. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk baca karya teman aku ini. Cerita bagus loh.
__ADS_1