
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 98
Seorang gadis tergeletak lemah di atas bankar. Wajahnya pucat dan pipinya tirus. Ada Kiai Samsul dan Ummu Habibah juga di sana. Rain merasa kasihan melihat keadaan gadis yang pernah menjadi rekannya di OSIS saat SMP.
"Rain, kamu datang," kata Kiai Samsul yang terlihat lebih kurus dari terakhir Rain melihatnya.
"Iya, Pak Kiai. Tadi Rain bertemu dengan Aminah. Dia bilang kalau Kak Amara sedang dirawat di sini," ucap Rain.
"Amira itu keras kepala. Untuk melupakan dirimu, dia mengambil kerja di dua rumah sakit. Akibatnya dia kelelahan karena banyak sekali pasien akibat perubahan cuaca saat ini," ujar Ummu Habibah.
Rain merasa tercubit hatinya. Dia berpikir gara-gara dirinya, Amira sampai sakit seperti ini.
"Ummu, jangan bilang begitu. Sakit itu sudah menjadi garis takdir dari Allah," sanggah Kiai Samsul.
"Bukannya sesuatu itu pasti ada sebab asal muasalnya, sehingga menjadi akibatnya. Karena Amira kelelahan kerja, akibatnya dia jatuh sakit," balas Ummu Habibah.
Diam, itulah yang dipilih Rain. Semua sudah terjadi, dia hanya menjalani dengan mengikuti arusnya. Sekarang dia sudah menjadi suami Rania. Istrinya juga tidak mau di poligami. Jika, dia ingin menikahi Amira, maka dia harus melepas Rania. Hal ini sudah dipastikan dirinya akan di benci oleh saudara-saudaranya yang lain. Dia tidak mau hal itu terjadi padanya.
"Rain hanya bisa mendoakan semoga Kak Amira cepat sembuh dan menemukan laki-laki yang lebih baik dari Rain. Kak Amira pasti akan menemukan jodoh yang baik," ucap Rain.
***
Rania dengan cepat mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ibrahim untuknya. Bahkan makanan dan minuman pun tidak dia sentuh sama sekali. Keinginannya saat ini adalah cepat pulang. Untuk mempersiapkan diri untuk acara spesial dengan suaminya. Meski dia tidak tahu apa itu. Menurutnya pasti akan sangat menyenangkan.
"Pak, ini sudah selesai." Rania dengan cepat membereskan peralatan nulisnya.
"Ini belum," tunjuk Ibrahim pada tumpukan buku milik kelas lain.
"Maaf, tadi Bapak bilang memeriksa hasil kerja teman aku. Dan ini tumpukan kerja milik teman aku." Rania masa bodo dengan tatapan tajam dari gurunya itu saat dia beranjak dari kursinya.
"Nia, tunggu!" Ibrahim pun berjalan ke arah Rania.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Rania dengan menahan kekesalan.
"Ini, kamu lupa. Makannya!" titahnya.
"Terima kasih, Pak." Rania pun bergegas berlari takut suaminya terlalu lama menunggu.
__ADS_1
Rania melihat di seberang jalan belum ada mobil Rain. Dia pun melihat jam dan sudah terlambat 15 menit dari biasanya. Dia pun hendak menghubungi suaminya, terapi sebuah klakson mobil mengejutkan dirinya.
"Ayo, aku antar kamu pulang!" Ajak Ibrahim.
"Tidak perlu, Pak. Terima kasih, aku sudah janjian dengan kekasihku," jawab Rania.
"Janjian, kok belum datang menjemput," sindir laki-laki berseragam guru itu.
"Kekasihku masih di dalam perjalanan," balas Rania.
"Nia," panggil suara yang familiar di telinga Rania.
Senyum cantik pun mengembang di wajah cantik itu. Tiba-tiba saja mata Rania terbelalak karena Rain tiba-tiba memeluknya. Apalagi di depan gurunya dan masih dilingkungan sekolah. Meski sudah sedikit orang yang ada di sana.
"Kak," lirih Rania.
"Sebentar saja, tetaplah seperti ini," bisik Rain.
Betapa terkejut dan rasa marah tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya saat melihat Rania sedang bicara dengan laki-laki yang selalu mendekati istrinya itu. Namun, hatinya yang panas tiba-tiba terasa sejuk saat mendengar kata 'Kekasihku' dari mulut istrinya. Dia tahu kalau Rania sedang menunggu dirinya.
Getaran hatinya masih bisa dia rasakan. Sengatan-sengatan listrik dalam tubuhnya juga begitu sangat terasa. Dia yakin kalau hatinya, cintanya, semua perasaan itu hanya untuk istriny seorang. Hanya Rania yang mampu membuat dirinya seperti ini. Inilah perasaan Rain yang sebenarnya.
"Suit … suit! Rania pelukan nih dengan seorang cowok." Siulan keras dari salah seorang murid laki-laki.
"Rania, cowok kamu ganteng banget. Kenalkan dong sama kita-kita," ujar salah seorang siswi seangkatan dengannya.
Baik Rain maupun Rania kini mukanya merona merah karena malu. Rania hanya meleletkan lidahnya pada kenalannya itu.
"Tidak boleh. Dia hanya milik Nia saja. Nggak akan dikenalkan sama kalian," ujar Rania sambil menarik Rain menuju mobilnya.
Sorakan pun terjadi pada anak-anak muda itu. Mereka kesal karena Rania tidak mengenalkan laki-laki tampan yang jarang mereka lihat.
Apa Ibrahim tahu siapa laki-laki yang di sebut kekasih oleh Rania. Jawabannya adalah tahu. Dia senyelidiki Rania dan Rain sejak pertama kali bertemu dengan Rania dulu. Dia juga tahu kalau mereka itu sepupuan. Sehingga, ada keinginan untuk merebut Rania dari Rain. Selain mengajar pekerjaan Ibrahim sebenarnya adalah direktur keuangan dari perusahaan milik keluarganya.
***
Rain membawa Rania ke butik milik Gaya. Dia meminta gaun yang pantas untuk dikenakan oleh istrinya saat malam makan nanti.
Rania mencoba beberapa baju keluaran terbaru yang dirancang langsung oleh sahabat baik ibunya itu. Setiap baju yang dikenakan olehnya terlihat pantas. Sampai Rain selalu bilang bagus setiap diminta pendapatnya. Sehingga membuat Rania bingung sendiri.
"Kak, mana yang bagus dan cocok untuk Nia pakai nanti?" tanya Rania dengan memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"Semuanya bagus saat kamu, pakai. Mau pakai yang mana saja pastinya bagus," jawab Rain.
"Sudah, pilih ini saja! Pasangan untuk Rain juga bagus modelnya," ucap Gaya sambil menyerahkan gamis berwarna navy yang hiasannya sederhana tidak terlalu glamor. Hanya di bagian ujung tangan dan bagian bawah gamis.
"Iya, Nia ambil ini saja," ucap Rania karena sudah lelah.
"Lalu, make up artist akan datang ke apartemen nanti malam. Semua sudah terencana dengan baik," kata Gaya.
"Tentu saja Tante," kata Rain.
"Kalau nggak begitu, bukan anak Alex namanya," tukas Gaya sambil tertawa.
***
Rain terpesona akan kecantikan Rania setelah seorang MUA mendandani dirinya. Saat ini Rania terlihat lebih dewasa, tidak terlihat gadis belia yang berusia 16 tahun.
"Humaira, sepertinya kita tidak jadi pergi makan di luar. Makan di apartemen saja, ya?" Rain melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rania.
Rania mencebikan bibirnya. Dia sungguh merasa kesal pada suaminya itu. Dia sudah berdandan dan memakai pakaian bagus. Lalu, apa katanya tadi? Tidak jadi pergi makan malam di luar. Sungguh membuat mood Rania menjadi buruk.
"Aku takut ada banyak orang yang melihat kecantikan dirimu ini. Apalagi laki-laki yang pastinya akan terpesona melihat kecantikan yang seperti bidadari ini," puji Rain dan itu membuat perasaan Rania melambung ke angkasa. Senyum tersipu malu pun menghiasi wajahnya.
"Tapi, Nia penasaran dengan makan malam itu," cicit Rania dengan tatapan puppy eyes.
"Baiklah. Tapi, berikan aku satu ciuman dulu," bisik Rain.
Malu tapi mau, itu yang dirasakan oleh Rania saat ini. Terasa ribuan kupu-kupu sedang menari di dalam perutnya. Dengan menjinjitkan kakinya, Rania mencium pipi Rain.
"Kenapa tidak di bibir?" tanya Rain.
"Itu untuk tujuh belas tahun ke atas," jawab Rania polos.
Rasanya Rain ingin langsung nyosor saja bibir istrinya itu. Namun, dia menahannya karena takut Rania marah padanya.
"Ya, sudah. Apa sudah siap untuk berangkat, Ya Humaira?" tanya Rain menangkup kedua pipi Rania.
"Insha Allah, siap, Ya Habibi." Senyum cantik Rania tercipta dan Rain mencium keningnya untuk mengganti keinginan mencium bibir ranum istrinya.
***
Bagaimana acara makan malam Rain dan Rania? Apakah akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1