Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Jeritan Hati Mentari


__ADS_3

    Yusuf dan dan Zulaikha berdiri di atas batu dan saling berpegangan tangan. Tatapan mata mereka saling beradu. 


"Aku ...."


"Hm, Apa?"


"Kalau mereka nggak mengijinkan kita menikah hari ini, aku akan menangis!" teriak Zulaikha, nggak peduli kalau ada yang mendengarkan mereka.


    Yusuf malah tertawa terkekeh. Dicubit gemas pipi gadis nakalnya itu. Harusnya dia sudah tahu dengan jalan pikiran calon istrinya ini.


"Kamu nggak benar-benar bisa bersabar menunggu satu bulan lagi?" tanya Yusuf sambil mengajak Zulaikha melanjutkan jalannya dan mengganti baju di balik batu-batu besar.


"Nggak! Aku akan tanya sama Abah di mana rumah Pak Amil dan Imam besar di wilayah ini," jawab Zulaikha.


"Memangnya mereka mau kamu suruh apa?" tanya Yusuf dibalik batu besar sedang berganti baju.


"Ya, buat menikahkan kita lah! Mumpung tidak ada Asiah dan Raya," jawab Zulaikha lagi.


"Apa hubungannya mereka berdua dengan pernikahan kita?" Yusuf sudah keluar dan telah selesai ganti baju.


"Ya, pastinya mereka nanti akan minta dinikahkan juga," gerutu Zulaikha.


"Kamu itu terlalu jauh berpikirnya," ucap Yusuf sambil mengulurkan tangannya agar Zulaikha tidak jatuh saat menginjak batu-batu itu.


"Aku nggak mengada-ada, Om. Apa Om tahu? Kalau Raya itu menghubungi Tante Mentari di hari pertunangan kita kemarin saat di Amerika. Dia meminta sama Bundanya itu untuk melamar kan Asiah saat pulang ke Indonesia," jelas Zulaikha.


"Astaghfirullahal'adzim. Benar kata orang tua dahulu, kalau punya anak perempuan itu kita akan cepat punya mantu. Tapi ini, putri aku baru berusia empat tahun lebih sudah ada yang mau melamarnya," ucap Yusuf.


"Kalau mereka melihat kita menikah nanti, bisa-bisa minta kawin gantung lagi," lanjut Zulaikha.


"Tidak! Putri aku masih kecil. Tidak pantas mereka menarik anak gadisku ke dalam dunia pernikahan," kata Yusuf dengan rasa takut merasuk ke dalam hatinya.


"Memangnya Om bisa menolak permintaan Opa Khalid dan Om Fatih?" Zulaikha ingin tahu nyali calon suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa dengan mereka? Aku rasa mereka juga berpikir kalau mereka itu masih bocah dan nggak akan membiarkan hal itu terjadi pada anak-anak itu." Yusuf menghentikan langkahnya karena sebentar lagi memasuki perumahan warga.


"Mereka nama bisa menolak ke inginan si Kembar. Apapun keinginan dua bocah itu pasti akan mereka turuti," kata Zulaikha.


    Keduanya terdiam. Mereka baru berpikir kalau mereka itu selama ini selalu melibatkan keluarga konglomerat itu karena si Kembar. Ada untung nggak untungnya berurusan dengan keluarga Hakim itu.


"Aku rasa mereka itu bukan orang-orang bodoh yang akan menikahkan bocah balita. Paling-paling bilang 'Jangan kasihkan Asiah jika sudah besar pada laki-laki lain. Karena akan di jodohkan dengan Raya' aku rasa mereka akan bicara begitu." Yusuf berpikir dan memikirkan kemungkinan kedepannya.


"Iya, seperti ini aku rasa lebih baik. Seperti Bintang. Tadinya Dia dan Om Aria mau tunangan saat ulang tahun ke tujuh belas dan menikah di ulang tahun ke delapan belas. Gara-gara ada undang-undang pernikahan minimal berusia sembilan belas tahun. Mereka jadi mengundurkan pertunangannya nanti saat usia Bintang berulang tahun."


"Tuh, Bintang juga baru akan bertunangan 'kan? Ini lebih wajar dan masuk akal. Daripada melakuakan pertunangan anak balita atau pernikahan dini mereka." Yusuf pun mengajak Zulaikha melanjutkan perjalanan mereka.


***


    Sementra itu di tempat lain, ketiga bocah itu sedang berenang di kolam renang yang ada di rumah Fatih yang dilengkapi papan meluncur dan ban-ban baret berbagai bentuk. Perahu karet atau kasur angin juga ada di sana. Suara canda tawa mereka memenuhi halaman bagian samping rumah. Khalid pun ikut menjaga mereka. Meski tubuhnya sudah tua, dia masih bugar.


"Mereka itu tidak ada capeknya? Padahal baru kemarin sampai dari perjalanan jauh," kata Mentari kepada mertuanya.


"Mama, tahu nggak? Kalau Raya minta kita untuk melamar Asiah pada Ayahnya," bisik Mentari dan malah membuat Aurora tertawa terkekeh.


"Ini kebalikan dari Fatih. Dia itu malah nggak dekat dengan anak perempuan. Dulu juga kami paksa jodohkan dia. Untungnya langsung merasa cocok saat dikenalkan pada Zahra. Ini Raya lebih hebat karena sudah punya calonnya sendiri. Lalu Ian, apa juga sudah menemukan calonnya juga?" Aurora bertanya dengan penuh antusias.


"Kok, Mama senang banget cucunya pingin melamar anak orang, padahal mereka masih bocah," ujar Mentari terkejut akan reaksi mertuanya. Padahal dia berharap mertuanya itu membantu dia untuk menasehati Rayyan.


"Berarti Raya sudah tahu, kalau dia ingin mengekspresikan perasaan dia pada lawan jenis itu harus di halalin dulu. Tuh lihat Ghaza dia malah sibuk sama rumah sakit. Acara tunangannya di undur terus," ucap Aurora.


'Hah, aku nggak mengerti harus melakukan apa lagi? Agar putraku nggak punya pikiran seperti ini lagi. Aku ingin pikiran anak-anak aku tumbuh normal sesuai umur mereka.' Mentari hanya memendam dalam hatinya.


***


"Raya, kata Bunda kita ini masih kecil jadi jangan main cinta-cintaan. Itu urusan orang dewasa. Jadi, kita cuma temanan saja seperti yang lain," kata Asiah.


"Aku nggak mau. Aku maunya kamu itu cinta sama aku. Tidak boleh dekat-dekat dengan laki-laki lain pegangan tangan, berpelukan, apalagi ciuman. Hanya sama aku saja kamu boleh lakukan itu." Rayyan ngambek. Dia memalingkan wajahnya dari Asiah. Dia selalu begitu kalau lagi merajuk.

__ADS_1


"Iya. Asiah tidak akan dekat dengan laki-laki lain. Asiah juga akan menikah sama Raya jika sudah besar nanti. Tapi sekarang tidak boleh main cinta-cintaan dulu, ya?" Asiah memegang tangan Rayyan mencoba merayunya.


"Nggak mau! Aku nanti tidak boleh pegang kamu, peluk kamu atau cium kamu," ucap Rayyan.


"Boleh kok, mau pegang tangan Asiah, atau peluk juga. Cium pipi juga boleh kalau Raya mau," lanjut Asiah dan membuat Rayyan tersenyum senang lagi.


    Mentari yang mendengarkan pembicaraan kedua anak itu, hanya beristighfar dan menepuk jidatnya. Dia semalam menasehati Asiah agar menasehati Rayyan. Cukup mereka berteman saja. Harapan Mentari itu tinggal Asiah. Tapi ternyata sama saja. 


'Ini mah ternyata sama saja, Asiah juga ternyata suka diperlakukan begitu oleh Raya. Ya Allah apa yang harus aku lakukan lagi?' jerit suara hati Mentari.


"Iya terima kasih Asiah! Aku janji kalau cinta aku hanya sama kamu saja. Seumur hidupku akan selalu mencintaimu!" ucap Rayyan.


"Aku juga janji. Kalau aku juga cintanya hanya sama Raya saja," balas Asiah. Keduanya pun tersenyum.


    Mentari membelalakkan matanya. Dia tahu betul itu kata-kata yang selalu diucapkan oleh suaminya. Apalagi kalau sedang merayu padanya.


"Mas Fatih!" geram Mentari mengingat suaminya yang mesumnya semakin bertambah dari hari ke hari padanya.


"Iya, Sayang." Suara pelan, lembut dan merdu menyapa Mentari dari belakang tubuhbya.


'Kamu harus di hukum, Mas!' Mentari memejamkan matanya dan menarik napasnya dulu.


'Gara-gara Mas, Raya jadi tukang menggombal.'


"Raya!" Teriak Fatih dan mengagetkan Mentari sehingga membelalakkan matanya.


***


Kenapa Fatih berteriak? Apakah Zulaikha dan Yusuf akan jadi menikah? Tunggu kelanjutannya ya! Yuk kirim Bunga, Kopi, sama Vote buat aku eh, Like dan Komen juga biar semakin semangat nih. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih.


Sambil menunggu Abang Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Yuk intip karya punya teman aku. Bagus ceritanya, kepoin novelnya.


__ADS_1


__ADS_2