
"Aku tidak mau jadi janda," gumam Alin.
"Sejak kapan kamu janda?" tiba-tiba Raihan sudah jongkok di sampingnya.
"Kyaaaak!" teriak Alin saking terkejutnya karena tiba-tiba saja ada suaminya di dekat dia. Apalagi wajah mereka begitu sangat dekat.
Raihan langsung membekap mulut Alin yang sangat suka berteriak itu. Jarak wajah mereka kurang dari 10 sentimeter. Untuk sesaat keduanya saling melihat warna lensa satu sama lain. Raihan bisa melihat warna lensa mata coklat tua milik Alin dan bulu matanya panjang. Meski tidak seindah bulu mata Rania yang panjang dan lentik mirip punya Bintang.
Alin melihat sorot mata suaminya begitu hangat tapi menggoda. Ditambah warna hazel untuk lensa matanya. Seakan selalu menghipnotis dirinya ke dunia lain.
"Bisa tidak ke depannya kamu nggak perlu teriak-teriak seperti barusan," kata Raihan.
"Hmmmp." Alin pun mengangguk.
Raihan pun melepaskan tangannya dari bibir Alin. Dia bisa merasakan betapa lembut bibir istrinya itu.
Alin yang melihat tempat tidur dalam ke adaan kosong. Langsung terbesit sebuah ide. Dia tanpa aba-aba langsung berlari ke arah kasur dan langsung tidur di tengah-tengah.
Raihan sangat terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba dan cepat dari Alin. Apalagi ternyata istri kecilnya itu kini sudah berbaring di tengah-tengah ranjang. Dengan langkah kesal, Raihan pun mendatangi tempat tidurnya.
"Hei, Alin minggir! Malam ini giliran aku tidur di kasur," kata Raihan sambil menatap Alin yang pura-pura tidur sambil terlentang.
"Aku hitung sampai tiga. Jika kamu belum juga menyingkir dari sana, aku pastikan akan menarik kamu agar sini. Cepat pergi dan tidur di sofa." Raihan bicara panjang begitu, tetapi Alin pura-pura tidak mendengarkan.
"Sa–tu."
"Du–a."
__ADS_1
"Ti–ga!"
Alin masih saja betah di atas kasur yang empuk itu. Maka, Raihan pun menarik kedua kaki Alin.
"Kyaaaak! Kakak apa-apaan, sih. Main tarik begini," ucap Alin sambil mencengkram seprai dengan kuat meski itu sia-sia.
"Sudah aku bilang untuk turun dari kasur," balas Raihan dengan kuat menarik Alin.
Seprai pun ikut terangkat seiring dengan ditariknya Alin oleh Raihan. Alin tidak mau kalah, saat dirinya sudah ditarik dan jatuh ke lantai. Dia pun menerjang Raihan yang hendak tidur dan sedang membenarkan posisi bantal. Lalu berguling bersamanya, sehingga keduanya jatuh dari kasur.
"Awww, Alin apa-apaan, kamu! Bahaya tahu," bentak Raihan yang kini berbaring di lantai dengan posisi Alin yang ada di atas tubuhnya.
"Aku tidak bisa tidur kalau di sofa," balas Alin dengan memasang wajah cemberut.
"Aku juga sama. Tubuh aku sakit semua karena sofa-nya kurang panjang. Kalau tidut lurus kaki aku menggantung. Kalau tidur meringkuk semua badan sakit," ujar Raihan.
"Kalau begitu kita berdua tidur di atas kasur tapi pakai pembatas dan jangan melewatinya," kata Alin memberikan solusi untuk mereka.
Mau tidak mau Raihan pun setuju. Apalagi ini sudah larut malam. Keduanya pun tidur di atas kasur dengan guling sebagai pembatas. Mereka tidur saling memunggungi.
Satu jam kemudian ….
Alin mengambil gulingnya dan dia peluk erat. Tidak lama kemudian dia membalikan badannya dan memeluk tubuh Raihan.
Sepuluh menit kemudian ….
Raihan yang merasa ada yang menempel di punggungnya pun terbangun. Dia mendorong tubuh Alin agar menjauh.
__ADS_1
Lima menit kemudian ….
Lagi-lagi Alin menjadikan Raihan sebagai guling. Dia memeluk tubuh suaminya dengan melingkarkan kaki dan tangannya.
Raihan lagi-lagi terbangun karena merasa ada yang membelit dirinya. Ternyata ada tangan dan kaki milik Alin. Dia pun harus tahan napas saat merasakan ada yang empuk menekan punggungnya. Tangan Alin juga berada di dada Raihan. Sementara kakinya membelit pinggang dan nyaris mengenai inti tubuhnya.
Raihan ingin marah, tapi dia menahannya. Lalu dilepaskannya tangan dan kaki Alin. Lalu dia membalut tubuh istrinya pakai selimut layaknya bayi mungil.
"Nah, kalau begini kamu tidak akan menganggu aku lagi," kata Raihan dengan tersenyum puas.
***
Saat Raihan sedang di kamar mandi mau ambil wudhu, terdengar suara teriakan Alin. Maka dia pun mendatangi istri kecilnya yang suka berteriak itu.
"Ada apa?" tanya Raihan dengan gusar.
"Kakak, kenapa aku jadi seperti ini?" tanya Alin yang masih dalam keadaan kayak bayi di bedong.
Raihan ingin tertawa, tetapi dia menahannya. Jangan sampai Alin banyak tanya nantinya. Dia pun membuka selimut yang membungkus tubuh Alin.
"Ini aneh, kenapa tubuh aku jadi terbungkus selimut yang di belit-belit begini?" Alin memasang wajah bertanya-tanya.
"Mungkin kamu tidur terlalu banyak bergerak, jadinya begitu," kata Raihan. Namun, Alin merasa sangsi akan penjelasan suaminya itu.
***
Raihan dan Alin saling tidak mau mengalah 🤦🏼♀️🤦🏼♀️. Bagaimana kisah rumah tangga mereka nantinya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote (Mumpung hari Senin BESTie 🥰) Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.
__ADS_1
PENGUMUMAN:
Giveaway setelah novel ini TAMAT. Jangan lupa kirim Vote dan poin kalian.