Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Ancaman Zulaikha vs Ancaman Raya


__ADS_3

     Setelah pembicaraan antara Yusuf dan Clive semalam itu. Membuat keduanya semakin akrab. Yusuf juga mulai belajar ilmu beladiri dari Michael. Selain Yusuf dan Zulaikha yang senang bisa menghabiskan liburan bersama di sana. Yunus juga merasakan hal yang sama. Meski cintanya bertepuk sebelah tangan, tetapi hanya melihat dan berbicara dengannya saja sudah membuatnya bahagia.


"Ayah, Raya dan Ian hari ini kok belum datang?" tanya Asiah dengan memasang wajah cemberut. Dia tidak ada teman bermain. Jika bersama Clive, Asiah akan duduk terus dipangkuannya seperti boneka. Jika bersama Maharani, dia akan didandani layaknya seorang putri dengan costum baju yang berwarna-warni.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Yusuf.


"Aku mau pulang ke Indonesia! Di sini bosan, nggak seru!" Asiah melipat kedua tangannya dengan bibir mengerucut bulat.


"Asiah, kenapa?" tanya Bintang yang baru saja datang bersama Yunus habis mencoba senjata baru buatan Langit.


"Raya dan Ian nggak datang," jawab Asiah dengan matanya yang mulai berembun.


"Oh, Raya dan Ian main ke rumah Kakak. Mereka main sama Rain," ucap Bintang.


"Mereka nggak ngajak Asiah. Apa sekarang sudah nggak mau berteman dengan Asiah lagi?" Pipi dan hidung Asiah mulai memerah, air matanya sudah meluncur jatuh.


"Wah, si Kembar sudah buat anak gadisku menangis. Awas kau, Raya! Aku nggak akan memberikan restu nanti," kata Zulaikha sewot.


     Yusuf hanya menghela napas. Dia takut kalau putrinya terlalu menempel pada si Kembar.


"Tunggu, Mama Zulaikha akan telepon kediaman Andersson. Akan marahi si Kembar karena sudah buat kamu sedih." Zulaikha pun melakukan video call pada Cantika.


"Assalamu'alaikum, Mama Cantika," salam Zulaikha.


"Wa'alaikumsalam, Zulaikha, Sayang," balas Cantika.


"Mama Cantika ada Raya dan Ian nggak?" tanya Zulaikha to the point.


"Oh, ada. Mereka sedang mencoba barang baru buatan Uncle Alex," jawab Cantika sambil mengarahkan kamera pada ketiga bocah laki-laki sedang mencoba mainan sejenis othopet. Tawa ketiganya terdengar riang.


"Mereka senang-senang di sana, di sini anak gadisku menangis. Raya kamu di blacklist dari calon menantu!" teriak Zulaikha. 


     Rayyan yang sedang bermain mendengar suara teriakan Zulaikha karena suara video dalam volume tinggi. Bocah laki-laki itu mendekati kamera video.

__ADS_1


"Tante Cantika, pinjam dulu ponselnya." Cantika pun menyerahkan handphone miliknya.


"Kakak Zulaikha, awas kalau kamu berani ngancam aku lagi! Akan aku pastikan juga Kak Zul juga nggak jadi menikah dengan Ayah Yusuf!" Rayyan balik berteriak.


     Zulaikha terperanjat mendengar ancaman balik dari bocah yang belum genap 5 tahun itu. Terlihat wajah Rayyan yang sangat marah.


"Bintang! Lihat kelakuan adik sepupu kamu!" Zulaikha menunjuk ponselnya.


"Salah kamu sendiri yang ngancam duluan," balas Bintang. Zulaikha malah cemberut.


"Raya, kamu tega sama Asiah. Dia menangis, tuh!" 


"Asiah, kamu mau ke sini nggak? Kita sedang coba mainan baru. Seru, loh! Aku sudah minta satu untuk kamu. Nanti kita bisa main bersama saat pulang ke Indonesia."


"Iya, mau. Aku menunggu kamu dari tadi. Kenapa nggak bilang kalau nggak akan main ke sini hari ini."


"Aku sudah minta Daddy untuk kirim pesan sama Ayah Yusuf, tadi."


    Yusuf yang duduk di samping Asiah, terkejut namanya disebut. Dia pun melirik ke arah putrinya.


"Itu karena Ayah sibuk pacaran sama Mama Zulaikha," balas Asiah dengan kesal.


"I–Itu ...." Zulaikha dan Yusuf tidak bisa bicara untuk menjelaskan pada Asiah.


'Mampus, kau Zulaikha!' teriak Zulaikha dalam hati.


'Aku kan sedang mengurus surat-surat untuk persiapan nikah nanti.' Yusuf melirik ke Zulaikha agar dia bantu bicara pada Asiah.


"Asiah akan adukan sama Nenek dan Abah," ujar Asiah masih cemberut.


"Jangan!" teriak keduanya.


"Nah, loh. Orang dewasa kalah sama bocah balita." Bintang terkekeh bersama Yunus.

__ADS_1


"Ini gara-gara Zulaikha," kata Yunus ikut-ikutan menyalahkan si Anak Perawan yang kini gelagapan menghadapi calon anak sambungnya.


***


     Zulaikha dan Yusuf sedang merayu Asaih agar tidak marah lagi. Bahkan anak kecil itu malah mengurung diri di kamar.


"Om, ini gimana? Asiah marahnya nggak reda-reda."


"Aku juga belum pernah menghadapi mode marah Asiah yang seperti ini. Biasanya dia dirayu dan dituruti keinginannya, marahnya akan hilang."


     Keduanya terdiam dalam pikirannya masing-masing. Kemudian mereka saling memandang.


"Raya!" Keduanya berteriak memanggil nama bocah laki-laki yang ngeklaim calon suami Asiah.


    Yusuf pun menghubungi William dan menceritakan kejadian hari ini. Pria bule itu malah tertawa saat mendengar apa yang sudah terjadi di vila milik Clive.


"Si Kembar rencananya mau menginap di rumah Alex. Aku pun nanti mau ke sana setelah pulang dari kantor. Kalau gitu tanya sama Asiah mau ikut menginap di rumah Rain bersama si Kembar, nggak?" 


"Asiah kan anak perempuan. Masa dia tidur bersama anak laki-laki. Apalagi itu ada tiga bocah laki-laki."


"Suruh saja Bintang untuk menemaninya. Nanti aku jemput sekalian!"


***


     Wajah berseri milik Asiah sudah kembali. Dia ikut bersama William ke rumah Alex. Bintang pun ikut bersama mereka.


"Daddynya si Kembar, apa Raya dan Ian tahu aku mau ke sana?"


"Panggil saja Daddy. Tidak. Mereka tidak tahu kamu mau ke sana. Biar buat kejutan!"


    Membayangkan wajah terkejut si Kembar membuat Asiah senang. Bintang yang duduk disampingnya pun ikut tersenyum.


***

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2