Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Celotehan Asiah


__ADS_3

     Keluarga Zulaikha menyambut kedatangan Yusuf dan lainnya. Laki-laki berusia 40-an itu menyambut baik semua tamunya. Dia melihat gadis kecil yang berdiri di samping calon menantunya.


"Apa dia Asiah?" tanya Clive sambil melirik ke arah putrinya.


"Iya, Papi. Dia Asiah anaknya Om Yusuf," jawab Zulaikha dengan bangga.


"Lucu dan cantik!" Maharani langsung menyentuh pipi Asiah yang chubby.


"Assalamu'alaikum, Oma Cantik," sapa Asiah dan mengambil tangan Maharani lalu menciumnya dengan takzim.


"Eh, Wa'alaikumsalam, Asiah."


"Opa juga mau Salim!" pinta Clive sambil menyodorkan tangan kanannya sama Asiah.


"Belum juga sah sudah ingin dipanggil Oma ... Opa!" Zulaikha merasa cemburu karena kini perhatian kedua orang tuanya malah sama Asiah. Mereka memeluk dan menciumi pipi mulut dan montok milik calon anak sambungnya.


"Untung nggak ada Raya di sini. Bisa-bisa ngamuk dia, Asiah di ciumi pipinya seperti itu," ucap Bintang sambil berbisik.


"Kamu bilang seperti itu kesannya aku akan cepat punya menantu nanti," balas Zulaikha.


"Bagus, dong! Kayak kamu nikah sama Om Yusuf langsung punya anak dan punya calon menantu," ujar Bintang dengan kekehan tawanya.


     Yusuf senang kalau kedua orang tua Zulaikha sangat senang dengan keberadaan Asiah. Dia takutnya status duda dan punya anak akan menyulitkan dirinya mendapatkan restu dari calon mertuanya.

__ADS_1


"Papi ... Mami, kita masuk dan duduk. Kaki aku pegal," kata Zulaikha sambil merangkul tangan Yusuf. Hal itu malah membuat Yusuf malu.


"Ah, maaf karena keasikan jadi lupa. Ayo, kita masuk! Kita sudah menyiapkan jamuan untuk kalian," ajak Maharani dan terlebih dahulu berjalan masuk ke dalam rumah diikuti para pelayannya.


"Sayang terima kasih. Berkat kamu Mami jadi semangat untuk tetap bertahan hidup," ucap Clive pada putrinya. Zulaikha hanya menganggukkan kepala.


     Selama beberapa bulan ini kesehatan Maharani dalam kondisi buruk. Penyakit komplikasi yang dideritanya kambuh secara bersamaan. Namun, ketika dia mendengar kalau putrinya sedang jatuh cinta kepada seorang membuatnya semangat untuk hidup. Dia ingin melihat wajah dan senyum kebahagiaan milik Zulaikha. Sudah satu tahun lebih dia terus berusaha membuat kondisi tubuhnya sehat kembali. Meski harus rela menerima suntikan tiap hari dan mengonsumsi obat yang banyak.


      Apalagi saat mendengar kalau laki-laki yang dicintai putrinya itu ternyata menyambut perasaan cinta Zulaikha. Dia begitu bahagia meski cuma mendengar dari Bintang dan dari orang suruhannya.


     Maharani kembali bisa tertawa ketika Zulaikha dengan malu-malu minta restu kepadanya karena ingin menikah dengan sang pujaan hati. Dia sebenarnya tidak setuju kalau putrinya itu menikah di usia yang masih belia. Namun, dia juga tidak mau membuat anak semata wayangnya itu bersedih. Selain itu dari pada terjerumus dalam dosa lebih baik mereka dinikahkan saja.


     Suasana Vila di sana kini ramai karena celotehan Asiah, Zulaikha, dan Bintang. Asiah yang menggemaskan sering membuat Clive senang menggodanya. Bahkan pria bule itu meminta agar anaknya Yusuf itu tinggal bersamanya saja di Amerika.


"Asiah, mau 'kan tinggal di sini dengan Opa Clive?" tanya Papinya Zulaikha dengan penuh harap.


'Apa begini, ya? Perasaan seorang Ayah ketika ada seseorang yang meminta putrinya. Ada rasa tidak rela,' kata Yusuf dalam hatinya.


"Asiah tidak mau," jawab Asiah yang dalam pangkuan Clive.


"Kenapa?" tanya Clive dan Maharani bersamaan.


"Karena Asiah di suruh sama Nenek dan Abah untuk mengawasi Ayah sama Mama Zulaikha. Jangan sampai mereka berciuman sebelum menikah," jawab Asiah dan langsung membuat Yusuf dan Zulaikha malu setengah mati.

__ADS_1


     Clive, Maharani, dan Bintang tertawa bersama. Apalagi Bintang terkekeh, dia sampai memukul-mukul lengan Zulaikha karena nggak kuat menahan tawanya.


"Ternyata ada satpam kecil," ujar Bintang di sela kekehan tawanya.


     Maharani mengusap air mata yang menumpuk di ujung matanya. Clive malah menciumi kepala Asiah.


"Opa Clive, jangan cium-cium Asiah terus. Nggak boleh! Kata Nenek sama Abah juga nggak cium-cium," ucap Asiah sambil menggembungkan kedua pipinya. Entah sudah berapa kali dia bilang hal itu pada laki-laki paruh baya yang sedang memangku dirinya.


"Opa Clive kan akan jadi keluarga Asiah juga. Jadi, nggak apa-apa," balas Clive.


"Lalu, kalau Raya boleh nggak cium pipi Asiah?" tanya Bintang penasaran.


"Boleh. Raya bilang yang boleh mencium Asiah itu Ayah sama Raya, yang lainnya tidak boleh," balas Asiah dengan cepat.


     Semua orang yang ada di sana sempat terkejut akan jawaban Asiah. Berbagai macam reaksi dari orang-orang dewasa di sana. Bintang dan Yunus tertawa terkekeh, Clive cemberut, Maharani tersenyum simpul, Yusuf memasang wajah kesal, dan Zulaikha hanya bisa mengaga.


'Aku harus bisa mencuci otak Asiah, seperti Raya. Kenapa juga Asiah begitu mendengarkan ucapan bocah tengil itu?' gerutu Zulaikha dalam hatinya.


***


     Setelah acara makan malam dan bincang-bincang sejenak. Semua orang kembali kamar masing-masing. Kamar Yusuf dan Asiah bersisian dengan kamar Zulaikha.


     Setelah memastikan putrinya tidur. Yusuf pun pergi untuk menemui Clive. Dia hanya akan bicara empat mata dengan calon mertuanya.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2