
"Maaf, Bu. Dia masih sekolah," balas Rain dengan sopan.
"Oh, ibu kira sudah lulus kuliah," ucap si Ibu tadi.
"Apa kalian berdua pacaran?" tanya wanita paruh baya lainnya.
"Cocok deh, kalau pacaran. Lakinya ganteng dan gadisnya cantik," lanjut ibu lainnya.
"Non, doakan semoga kalian berjodoh langgeng di dunia sampai akhirat," ucap si Nenek tadi. Ibu-ibu yang lainnya pun mengaminkan.
Rain dan Rania hanya saling tatap dan tidak bisa bereaksi apa-apa, ketika ibu-ibu itu mendoakan mereka berdua. Berbeda dengan Amira yang berdiri di dekat keduanya. Terpancar kesedihan dari sorot matanya. Dia merasa hatinya sangat sakit saat orang-orang mendoakan Rain agar berjodoh dengan Rania bukan dengan dirinya.
Wajah Rania berubah cemberut, Rain lalu meminta Amira untuk menggantikan posisi penyerahan uang untuk orang-orang yang sudah jompo. Dia pun membawa Rania menjauh dari sana.
"Kenapa masang wajah cemberut?" tanya Rain saat keduanya duduk di bangku kayu di bawah pohon kersen.
"Apa aku sudah setua itu. Dibilang sudah lulus kuliah," jawab Rania sambil bersungut-sungut.
Rain hanya tersenyum dan menahan tawanya. Diusapnya kepala sepupunya yang tertutup jilbab.
"Mungkin karena tubuh kamu yang tinggi, sehingga mereka menganggap kamu sudah dewasa," kata Rain mencoba menghibur Rania.
"Ah, seolah Kak Rain itu mau bilang "Nia, casing kamu itu dewasa. Isi masih bocah!" gitu sama aku barusan," balas Rania masih cemberut.
'Memang benar itu juga. Kamu itu masih bocah dan manja.' Rain hanya bicara dalam hatinya.
"Aku tidak pernah bilang begitu. Yang bilang begitu itu Ian dan Raya," sanggah Rain.
__ADS_1
"Pokoknya, mood aku jadi jelek. Kak Rain harus tanggung jawab!" rengek Rania masih mengembungkan pipinya.
"Yuk, kita cari makanan enak di sini!" ajak Rain dan beranjak berdiri dari kursi kayu itu.
Senyum cerah mulai menghiasi wajah Rania. Rain tahu hal yang cepat mengembalikan mood sepupunya itu.
***
Setelah puas dengan jajanan kuliner yang dicari-cari oleh Rania dan Rain. Entah berapa banyak makanan yang masuk ke perut Rania, yang penting dia kini bisa ceria lagi.
Setelah moodnya kembali baik, kedua orang itu pun kembali ke kantor kecamatan. Ternyata pembagian sesi pertama sudah selesai. Waktu dhuhur pun sebentar lagi, untungnya ada mesjid agung di dekat sana.
Ummu Habibah mengajak Rania dan Amira ke masjid terlebih dahulu karena adzan sebentar lagi berkumandang. Saat di tempat wudhu, Rania baru pertama kali melihat wajah Ummu Habibah dan Amira. Cantik, itu yang terbesit dalam hati Rania saat melihat keduanya. Wajah cerah bersinar dan mulus tanpa ada noda apapun. Hal yang membuat Rania kagum adalah melihat wajah Ummu Habibah yang terlihat muda meski sudah memasuki usia senja.
Tempat sholat untuk wanita berada di lantai atas, sementara untuk laki-laki berada di lantai satu. Setelah selesai sholat berjamaah. Mereka semua makan parasmanan bersama staf pegawai kecamatan dan desa. Suasana keakraban terlihat sangat kental di sana. Rania sangat suka berada di tengah-tengah mereka. Bahkan dia cepat kenal dan akrab dengan orang-orang yang ada di sana.
"Neng Rania pacarnya Cep Rain (Nona Rania kekasih Nak Rain)?" tanya wanita berseragam yang merupakan salah seorang staf kecamatan.
"Pak Kades juga tadi melihat kalian berdua sedang makan jajanan di pinggir jalan," sahut yang lainnya.
"Maaf, ya ibu-ibu. Saya dan Kak Rain itu saudara. Orang tua kami sepupunya," bantah Rania yang mulai kesal kembali.
"Oh, masih bersaudara," timpal si ibu pertama yang bertanya tadi.
"Tapi kan, meski sepupunya begitu kalian bisa menikah, loh."
"Iya. Kalian berdua serasi."
__ADS_1
Lagi-lagi para wanita paruh baya itu mendoakan Rania dan Rain berjodoh. Sementara itu, Rania hanya mengaminkan sambil menahan kekesalannya karena mereka terus saja kepo akan diri Rain di mata Rania.
Amira dan Ummu Habibah hanya diam mendengar ocehan ibu-ibu itu. Amira sungguh tidak enak perasaannya. Dia rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Telinganya terasa sakit saat mendengar doa mereka agar Rania dan Rain berjodoh.
Proses pembagian sesi ke-2 dan ke-3 pun berjalan lancar. Para warga mau antri dan menurut apa yang minta para staf kecamatan. Sehingga semuanya berjalan lancar dan cepat. Bahkan perkiraan selesai sore hari, ini selepas ashar juga selesai.
"Kiai Samsul, kami pamit dulu mau mengunjungi tempat yang lainnya," kata Rain setelah selesai mengantarkan mereka ke rumah.
"Kok, cepat-cepat pulang? Apa tidak mau menginap di sini?" tanya Kiai Samsul.
"Maaf, Kiai. Mungkin lain waktu, insya Allah nanti aku ajak Ian dan Raya ke sini," jawab Rain dengan sopan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan!" ucap Kiai Samsul mengingatkan Rain.
Rain pun memberikan sebuah paper bag kepada Amira, yang isinya sebuah buku. Buku yang sangat bermanfaat bagi seorang wanita. Buku itu berjudul, "Hak dan Kewajiban Istri Terhadap Suami".
"Ini baca, ya! Aku juga baca buku pasangannya," ucap Rain saat menyerahkan tas kertas itu.
"Insya Allah, akan saya baca," balas Amira dengan sorot mata yang berbinar. Seandainya tidak ada cadar yang menutupi wajahnya, akan terlihat rona di kedua pipi Amira.
"Aku pamit, assalamu'alaikum," ucap Rain dengan senyum tipisnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Amira.
***
Setelah pamit Rain dan Rania mengunjungi rumah Abah dan Ummi. Lagi-lagi di sana ada hal yang membuat kesal Rania.
__ADS_1
***
Kira-kira apa yang membuat Rania kesal saat di rumah orang tua Zahra? Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu bab berikutnya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.