
Rania di bawa ke dokter terdekat dan setelah di periksa, dia disarankan untuk di rujuk ke rumah sakit biar di periksa keadaan rahimnya. Betapa shocknya Rania saat mendengar hal itu. Ketakutan dirinya tidak bisa punya anak pun menghantui dirinya. Tangisannya tidak mau berhenti.
Rain pun mencoba menenangkan istrinya, tetapi tidak berhasil. Sampai-sampai Raihan yang mengambil alih memeluk adiknya itu.
Dalam pikiran Rania kalau dia menjadi wanita mandul pastinya Rain akan meninggalkannya. Ditambah ada Amira, wanita yang lebih pantas untuk bersanding dengannya. Jika, dirinya tidak bisa menjadi wanita sempurna, maka tidak akan ada satupun laki-laki yang mau menjadi pasangannya.
"Semua akan baik-baik saja," kata Raihan sambil membelai kepala Rania.
"Aku takut, Kak," ucap Rania.
"Percayalah pada Kakak. Tidak akan terjadi sesuatu pada kamu," ujar Raihan sambil menghapus kembali air mata adik kesayangannya itu.
***
Rania langsung dibawa ke Rumah Sakit Harapan untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh organ alat reproduksi. Mentari dan Fatih sampai datang untuk menemani Rania.
Putri satu-satunya keluarga Fatih itu tidak mau melepaskan pelukan dari bundanya. Tangisan Rania baru berhenti setelah mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksanya. Kalau semua hasilnya sangat baik. Itu semua terjadi karena Rania kelelahan dan terlalu banyak beban pikiran. Dokter pun menyarankan agar Rania beristirahat dan melakukan hal-hal yang membuatnya senang.
"Kita liburan, yuk!" ajak Fatih pada Rania.
"Sebentar lagi juga akan libur sekolah, bagaimana kalau kita ke Lombok?" Mentari memberikan idenya.
"Bunda, apa Alin boleh ikut?" tanya Alin yang sejak tadi duduk di samping Raihan.
"Tidak boleh," serobot Raihan karena dia sudah merencanakan liburannya sendiri.
"Kak Ian, jahat!" Alin membalikan badannya memunggungi suaminya.
"Boleh ikut kalau Alin mau," jawab Mentari.
"Bun-da," Raihan memberikan kode lewat tatapan matanya.
"Beneran, Bunda? Alin boleh ikut!" seru Alin dengan senyum lebarnya.
"Minta izin dulu pada suami kamu, Alin. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab atas diri kamu," ucap Fatih yang memang sudah tahu rencana yang sudah dibuat oleh Raihan.
__ADS_1
"Tapi, Ayah. Kak Ian tidak akan memberikan izin," adunya dengan wajah memelas.
Raihan yang merasa gemas akan kelakuan istrinya, lalu dia membisikan sesuatu pada Alin. Istrinya itu pun membalikan badannya dan menatapnya dengan mata berbinar.
"Benarkah itu, Kak?" tanya Alin.
"Kamu mau pilih mana? Ikut Bunda atau ikut sama aku?" tanya Raihan.
"Ikut suami!" jawab Alin sambil memeluk tubuh Raihan dengan senyum lebarnya.
Kegembiraan Raihan dan Alin, tidak bisa dirasakan oleh Rain. Dia selama 3 minggu ke depan tidak bisa libur karena jadwalnya terlalu sangat padat dan tidak bisa digantikan oleh asistennya. Dia juga ikut sedih saat melihat Rania kesakitan seperti tadi.
"Kenapa, Rain?" tanya Fatih.
"Ayah, apa liburannya bisa di dekat atau sekitar Jakarta saja? Rain tidak punya waktu untuk ikut liburan kalau pergi ke Lombok," jawab Rain.
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan keadaan Rania, dia anaknya akan cepat pulih. Semoga saja di hari Sabtu dan Minggu kalian bisa liburan bersama," kata Mentari.
"Biarkan satu Minggu ini, Rania menikmati liburannya ke mana pun dia ingin pergi. Setelah itu kalian bisa pergi liburan berdua," lanjut Fatih.
***
Alin membuat makanan kesukaan Rayyan. Dulu dia membuat sambal goang sama goreng ayam dan lalapan, suaminya makan banyak sekali dan memuji masakannya enak. Maka, kali ini pun dia masak itu lagi. Alin lebih percaya diri memasak masakan kampungnya. Dibandingkan masakan daerah lain, apalagi masakan luar negeri, dia tidak merasa yakin dengan rasa masakannya.
"Sedang masak apa? wanginya tercium sampai ke lantai atas," tanya Raihan begitu masuk ke dapur.
"Memasak makanan kesukaan suami aku," jawab Alin.
"Memangnya kamu tahu, apa makanan kesukaan aku?" tanya Raihan.
"Ini, ayam goreng, sambal, lalap, dan mendoan," jawab Alin dengan senyum lebarnya.
"Salah. Makan kesukaan aku bukan yang begini," balas Raihan.
Senyum lebar di wajah Alin langsung hilang. Dia pun membalikan badannya untuk mematikan kompor. Padahal dia belum selesai memasak mendoan itu. Dia pun mencuci tangan dan dengan cepat pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Bi Mar, tolong lanjutkan sisanya!" pinta Raihan pada Bi Mar yang sedang membereskan hasil masakan Alin di meja makan.
"Iya, Den."
'Aduh, mulai lagi, deh.' Bi Mar berkata dalam hatinya.
***
Alin mengurung diri di kamar. Dia sangat sedih tidak tahu apa-apa mengenai suaminya itu. Padahal selama ini dia berusaha agar bisa memahami Raihan. Namun, dia belum bisa. Bahkan makanan kesukaan suaminya saja di tidak tahu.
"Alin, buka pintunya? Atau aku masuk sendiri," teriak Raihan dibalik pintu.
"Untuk apa Kakak masuk ke kamar aku?" tanya Alin tanpa beranjak dari atas kasur.
Raihan pun masuk dan berjalan ke arah Alin. Dia duduk di sampingnya.
"Kamu, marah?" Raihan menatap Alin.
"Sama siapa?" tanya Alin tanpa menatap Raihan, dia memilih membalas pesan yang masuk dari teman-temannya.
"Ya, tentu saja sama aku? Masa kamu marah sama Mang Asep," jawab Raihan dengan kesal karena Alin malah sibuk dengan ponselnya.
"Aku tidak marah sama Kakak. Kakak telah salah paham," balas Alin masih sibuk dengan handphone miliknya.
Raihan merebut handphone itu, lalu melemparkannya ke ujung kasur dan menarik tubuh Alin sehingga berada dalam kungkungannya.
"Apa yang mau Kakak lakukan?" teriak Alin karena sangat terkejut.
"Menurut kamu, apa yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri ketika mereka sedang berada di kamar berdua?" tanya Raihan.
***
Raihan sudah nggak tahan kayaknya! Apa yang akan dilakukan oleh Alin? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Aku kasih teman-teman bacaan yang rekomen buat kalian baca. Cus kepoin karyanya.
__ADS_1