
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Kemudian kasih like sama komentar. Aku doakan semoga urusan teman-teman juga dimudahkan.
***
BAB 86
Rain mengalihkan perhatiannya kepada Rania. Dia sebenarnya terkejut saat mendengar ucapan istrinya itu.
"Apa kamu ingin kita mengadakan pesta pernikahan?" tanya Rain dengan tatapan tak percaya.
"Eh, nggak jadi. Ngapain juga ngadain pesta. Kita menikahkan karena terpaksa. Nanti aku malu sama orang lain," ucap Rania ketus.
Rain mengerutkan keningnya. Semalam mereka sempat berdebat gara-gara ada pesan masuk dari Amira kepada Rain yang meminta maaf karena sudah berada lancang. Amira sadar kalau perbuatannya itu tidak pantas dilakukan oleh seorang muslimah.
Rania yang tanpa sengaja membaca pesan itu marah kepada Rain. Alasannya karena keluarga Rain dan keluarga Amira punya grup chat khusus. Sementara dengan Rania nggak punya.
Untuk merayu agar Rania nggak marah lagi, Rain keluar dari grup itu. Lalu dia membuat grup baru yang isinya hanya dia dan Rania. Gadis itu akhirnya nggak marah lagi. Kalau orang lain pasti akan tertawa, buat apa membuat grub chat kalau isinya hanya berdua saja, nggak ada bedanya dengan chat pribadi. Namun, bagi Rania itu spesial karena grupnya khusus hanya untuk berdua saja.
"Nia, kamu masih marah tentang masalah semalam?" tanya Rain sambil menahan tangan Rania yang hendak pergi.
Ummi Mirna pun meninggalkan mereka berdua. Dia merasa kalau Rain dan Rania butuh privasi untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Nggak. Nia marah karena Kak Rain sudah mengambil ciuman pertama aku tadi," jawab Rania masih dengan nada kesal.
"Kan ciumannya sudah aku kembalikan sama kamu," ucap Rain.
"Tidak ada yang bisa buat mengembalikan ciuman. Yang ada Kak Rain mencium aku lagi," ujar Rania dengan pipinya yang mengembung dan kedua tangan di pinggang.
'Cepat juga sadarnya dia,' batin Rain.
"Apa kamu tidak suka aku cium?" tanya Rain sambil berbisik dan berdiri di depan tubuh Rania.
"Nia … mau dicium oleh laki-laki yang aku cintai dan mencintaiku," jawab Rania dengan gugup karena Rain menatapnya begitu lekat.
"Salah. Seharusnya kamu dicium oleh laki-laki yang berhak atas dirimu, Nia," sanggah Rain.
"Siapa?" tanya Rania mencicit karena menahan debaran jantungnya yang terasa semakin menggila detakannya.
"Aku. Hanya Aku yang boleh mencium kamu," bisik Rain
Rania menelan air liurnya karena tiba-tiba terasa tercekat kerongkongannya. Dia jadi teringat kembali bagaimana rasanya bibir Rain yang begitu lembut.
"Aaaaakh! Nggak mau. Aku nggak mau berciuman lagi dengan Kak Rain," ujar Rania langsung kabur dari sana. Dia merasa sangat malu kalau dia tadi menyukai ciuman itu.
__ADS_1
"Kenapa? Nia, tunggu! Kita belum selesai bicaranya." Rain pun berjalan mengikuti istrinya.
"Kak Rain jangan mengikuti aku terus!" Rania berlari masuk ke dalam kamarnya mencari perlindungan pada Chelsea dan Alin.
***
Sepulang dari masjid Asiah duduk termenung. Dia memikirkan semua hal yang sudah terjadi pada dirinya. Sejak dia masih kecil, ABG, remaja, dan kini sudah masuk ke usia wanita dewasa. Sifatnya berubah menjadi egois dan mau dimengerti oleh orang lain, itu terjadi saat dirinya sudah memasuki usia remaja.
"Hah, betapa bodohnya aku. Seharusnya aku tidak mendengarkan bisikan yang membuat aku dijauhi oleh keluargaku," gumam Asiah.
Selama dua jam itu Asiah merasa menjadi manusia terbodoh di dunia. Sudah menyia-nyiakan kebaikan orang-orang di sekitarnya. Tanpa sadar Asiah jatuh tertidur di sofa yang ada di beranda.
Beberapa saat kemudian Asiah digendong dan dibaringkan di atas tempat tidur. Diciumnya kening itu dengan penuh rasa sayang.
"Maaf ya, Sayang. Kita tidak bisa bertemu dulu," bisik Rayyan sambil mengusap pipi Asiah dengan lembut.
Asiah tidak tahu kalau Rayyan sebenarnya tinggal satu rumah. Hanya saja dia sembunyi di kamar sampingnya atau kamar milik Raihan. Tiap malam pun sebenarnya mereka tidur bersama. Rayyan akan masuk ke kamar setelah Asiah tidur dan akan pergi saat masuk waktu sholat tahajjud. Rayyan suka main kucing-kucingan jika Ada Asiah tinggal di rumah agar tidak kepergok olehnya.
Rayyan juga sering memantau Asiah lewat kamera cctv yang ada di rumahnya. Jadi, dia tahu apa saja yang sedang dilakukan oleh istrinya itu.
"A, kangen," gumam Asiah dalam mimpinya.
"Aku juga kangen sama kamu," balas Rayyan sambil mengusap kepala Asiah dan dikecupnya lagi kening dan pipi istrinya.
***
Raihan dan yang lainnya pulang setelah berjamaah Dzuhur. Mereka pulang dengan membawa banyak buah-buahan hasil di ladang belakang rumah Abah. Bahkan mereka membawa beberapa buah durian. Sehingga mobil kini wanginya berubah menjadi wangi durian.
Alin sudah tidur sambil bersandar dan memeluk tubuh suaminya. Mereka duduk di jok kursi penumpang di kursi paling belakang seperti saat berangkat.
Sementara itu, Rain dan Rania duduk di kursi tengah. Rania tidur di pangkuan Rain. Mereka sudah baikan lagi tadi. Tentunya dengan ide berlian milik Rain agar Rania nggak marah lagi.
Gadis polos itu tidur nyenyak karena punggungnya diusap-usap oleh suaminya. Kadang sesekali Rain juga mencubit gemas pipi Rania yang kulitnya sangat lembut seperti bayi.
Mega melajukan mobil dengan santai karena tidak mau membuat tidur kekasihnya terganggu. Hanya dia dan Rain yang masih bangun.
"Rain, bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa kamu yakin akan memilih Rania?" tanya Mega pada sepupunya itu.
"Ya," jawab Rain datar.
"Mumpung belum terlalu jauh dan terlalu hubungan kalian, kamu bisa memilih sesuai isi hati kamu," ujar Mega.
"Kak Amira juga sudah menerima keputusan aku ini," kata Rain.
__ADS_1
"Kamu berhak untuk mencari kebahagian kamu sendiri. Begitu juga dengan Nia. Aku tidak mau jika nanti kalian berdua malah berpisah karena hati kalian tidak terpaut satu sama lain. Aku ataupun si Kembar tidak mau melihat Nia menangis gara-gara kamu nanti," ucap Mega.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Melepaskan Nia? Nggak akan aku lakukan itu!" Desis Rain.
"Kamu kan cintanya bukan sama Nia?" Mega terus memancing Rain.
"Meski aku tidak cinta sama Nia. Aku tidak akan bercerai dengannya," geram Rain.
"Jangan egois begitu. Jika Nia menemukan laki-laki yang merupakan cinta sejatinya nanti, kamu harus rela melepaskan dia," ujar Mega.
Rain terdiam. Dia tidak suka sepupunya bicara seperti itu. Dia tidak akan pernah melepaskan Rania sampai kapanpun.
"Kalau begitu akan aku buat Nia jatuh cinta kepadaku," balas Rain.
"Apa kamu yakin bisa membuat Nia jatuh cinta kepada kamu?" tanya Mega dengan senyum meremehkan.
"Yang ada kamu itu sudah jatuh cinta duluan pada Nia," gumam Mega sambil tersenyum geli.
"Kamu bicara apa barusan? Aku itu tidak jatuh cinta pada Nia," balas Rain.
"Berani taruhan?" Mega menantang Rain.
"Apa?" tanya Rain dengan kesal.
"Kalau kamu belum jatuh cinta pada Nia," jawab Mega dengan senyum jahilnya.
"Taruhan itu diharamkan," tegas Rain.
"Alasan," seloroh Mega.
"Dosa tahu," lanjut Rain.
"Lah, lihat Nia sama bocah laki-laki bau kencur saja kamu sudah panas. Apalagi kalau lihat Nia dengan laki-laki dewasa. Bisa-bisa kebakaran," gerutu Mega.
"Aku dengar apa yang kamu bicara barusan Mega," tukas Rain.
"Aku hanya ingin menyadarkan kamu saja sebelum semuanya terlambat dan semua tersakiti nanti," pungkas Mega kesal.
Semalam Mega mendengar Nia dan Rain bertengkar gara-gara pesan dari Amira. Chelsea yang ada bersamanya juga ikut geregetan. Akhirnya mereka pun membuat rencana untuk Rain dan Rania.
Sebelum perdebatan antara Mega dan Rain terjadi, Rania sudah terbangun gara-gara cubitan di pipinya oleh Rain. Namun, dia masih merasa nyaman dalam buaian dan belaian suaminya itu.
***
__ADS_1
Apa benar Rain sudah jatuh cinta sama Nia? Atau hanya sayang dan ingin menjaganya? Lalu bagaimana dengan perasaan Rania? Tunggu kelanjutannya ya!