Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Malam Pertama (2)


__ADS_3

Terdengar bel pintu di berbunyi. Tentu saja ini membuat William kesal karena sudah menganggu.


Awas saja, sudah mengganggu malam pertama aku,' kata William sambil berjalan ke arah pintu.


William membuka pintu kamar dan dilihatnya ada Fatih berdiri di sana dengan tatapan tajam ke arahnya. Seketika William ingin marah dan kesal, tetapi takut juga pada cucunya itu jika sudah dalam mode begini.


"Ada apa Fatih?" tanya William sambil bersandar ke pintu.


"Ada apa? Kakek Willi bilang! Apa kamu tidak tahu kalau saat ini pesta pernikahan kalian masih berlangsung. Kenapa kamu malah pergi seenaknya sendiri?" Fatih dalam mode marah dan William diam seribu basa. 


"Apa kamu tahu kalau saat ini Papa dan Mama sedang berada di rumah sakit? Sebagai tuan rumah yang sedang mengadakan pesta, seharusnya tetap berada di pesta itu. Kecuali kalau kamu tidak mau lagi melanjutkan pesta, suruh para tamu undangan untuk pulang," cerocos Fatih dengan emosi.


"Maaf, aku tadi tidak berpikir sampai situ," balas William.


"Sudah sana kembali ke ballroom hotel!" titah Fatih.


"Fatih, tolong tutup pestanya sama kamu saja ya!" pinta William dengan tatapan memohon.


"Tidak bisa! Itu harus kamu sendiri yang lakukan. Aku sedang marah dan sama kamu. Gara-gara mengurus pesta ini Mentari sampai pingsan karena kelelahan. Alex dan Cantika sejak tadi berada di rumah sakit menunggui Bintang. Di bawah ada Angkasa, Paris, Alma dan Langit yang mengatur pesta," jelas Fatih.


"Fatih, aku minta pengertian kamu. Tolong aku untuk menyelesaikan pesta itu," pinta William dengan sungguh-sungguh.


"Kamu curang! Masa kamu ingin malam pertama kamu lancar terus. Sementara aku selalu kamu ganggu saat malam pertama aku." Fatih pergi dari sana.


***


    Akhirnya William harus menunda dulu acara malam pertama mereka. Dia meminta Bilqis untuk istirahat dulu sedangkan dia akan menutup acara pestanya.


    William melihat tamu undangan masih banyak yang hadir di sana. Ada 2 pasangan anak Alex dan Cantika yang kini di tempat pelaminan dan menerima tamu undangan yang datang. Bagusnya, mereka itu yang kini mengadakan pesta pernikahan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatu," ucap William dan berdiri di atas panggung.


"Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua yang sudah datang di pesta pernikahan ini," kata William sambil agak menunduk.


"Maaf kepada hadirin sekalian juga karena pesta aku tutup sampai sini. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih." William pun cepat-cepat kembali ke kamarnya.


***


    Begitu William kembali ke kamarnya. Bilqis sudah tertidur dengan tiga bocah anak perempuan. Keempatnya pun terlihat sudah tertidur lelap.


"Gagal melakukan di malam pertama," gumam William kemudian mencium kening Bilqis.


"Ya Allah, semoga besok nggak gagal lagi," lanjut William.


Beberapa menit sebelumnya ....


Bel terdengar kembali setelah William keluar dari kamar itu. Bilqis pun memakai daster panjang untuk menutupi lingerie yang kini sedang di pakai olehnya. Saat pintu kamar dibuka ada tiga orang bocah. Lebih tepatnya 1 orang anak menuju ABG dan yang 2 masih anak-anak.


"Ada apa, Anak-anak?" tanya Bilqis.


"Mommy Bilqis, bolehkan kalau kita tidur di sini?" tanya Rania dengan mata puppy eyes.


"Bo–boleh, Sayang," jawab Bilqis ragu karena malam ini adalah malam pertama dia dan suaminya.


"Yey!" sorak ketiga anak kecil itu. Kemudian mereka langsung berlarian masuk dan langsung masuk ke kamar tidurnya yang masih dihiasi oleh bunga-bunga.

__ADS_1


"Tuh lihat 'kan! Ada banyak bunga di kamarnya," ucap Rania dan disambut antusias oleh kedua temannya.


"Iya. Berarti kita malam ini tidur di sini?" tanya Asiah.


"Iya. Bolehkan Mommy?" pinta Bilqis lagi.


"Iya, Bo–leh," balas Bilqis.


Jadinya malam itu mereka berempat tidur dia atas kasur pengantin baru yang dipenuhi bunga. Bilqis pun langsung jatuh tidur terlelap karena terlalu lelah menjalani hari ini.


***


Pembalasan Fatih karena dulu William sudah menggangu malam pertamanya dengan Zahra sepertinya terbalaskan 🤣🤣🤣. Baca yuk, kisah Abimanyu dan Aruna, calon mertuanya Raihan!


Judul: Si Pencuri Hati


Bab 1


     Suasana di ruang tamu keluarga Adiyaksa, terasa mencekam saat kepala rumah tangga menatap tajam ke arah tamunya.


     "Jawab yang jujur apa benar bayi yang sedang dikandung oleh Aruna adalah anak kamu, Abimanyu?" tanya Adiyaksa dengan suaranya yang tinggi kepada pemuda tampan yang duduk di kursi bersama orang tuanya.


     "Benar, Om." Abimanyu menjawab dengan yakin.


     Aruna, tokoh yang menjadi pembicaraan mereka hanya menggelengkan kepala. Dia bersikukuh tidak mau menikah dengan Abimanyu. "Aruna tidak mau menikah dengan Kak Abi," ucap Aruna.


      


     "Pokoknya kalian harus segera menikah!" Suara Adiyaksa memenuhi seluruh ruang tamu.


     "Tapi, Ayah. Aku tidak mencintai dia. Apa aku harus menjalani sisa hidupku dengan laki-laki yang aku benci?" Aruna berkata dengan penuh emosi, tidak suka.


     Pengakuan Aruna barusan membuat hati Abimanyu terasa ditusuk belati. Aruna adalah kembang desa di daerahnya. Selain cantik, dia juga pintar dan baik kepada siapa saja membuat dirinya disukai banyak orang dan menjadi incaran para jejaka di kampung termasuk Abimanyu, laki-laki dewasa yang ingin membina rumah tangga.


     "Terus, kamu mau membiarkan sampai perutmu membesar sehingga keluarga ini menjadi bahan gunjingan para tetangga!" Adiyaksa semakin tersulut emosi setelah dia mengetahui kehamilan Aruna yang di luar nikah. Itu membuat dia berubah menjadi orang yang mudah marah. Dia merasa telah gagal menjadi seorang ayah.


     "Pak, saya bersedia untuk menikahi Aruna," kata Abimanyu mencoba menenangkan Adiyaksa.


     Aruna menatap tajam kepada Abimanyu. Dia berharap kalau laki-laki itu juga tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, apa yang dikatakan barusan? Sungguh membuatnya semakin benci.


    "Saya akan berusaha membahagiakan Aruna meski dalam keterbatasan yang saya miliki," lanjut Abimanyu.


     Abimanyu tahu tatapan yang dilayangkan oleh Aruna kepadanya adalah bentuk protes. Dia juga tahu kalau Aruna itu sudah punya kekasih. Apa daya, nasi sudah jadi bubur. Akibat kejadian hari itu, kini Aruna mengandung benihnya.


     "Ibu juga setuju!" Maya, ibu Aruna yang sejak tadi diam, kini berbicara.


     "Tapi, Bu ...." Suara Aruna melemah. Dia tidak suka kalau harus membantah perkataan wanita yang sudah melahirkannya itu.


     "Mungkin saat ini kamu belum mencintainya. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan tumbuh," kata Maya dengan suaranya yang lembut.


     "Benar, Aruna. Cinta bisa muncul karena sudah terbiasa bersama." Elina, ibu dari Abimanyu mencoba meluluhkan hati Aruna agar bersedia menerima pernikahan ini.


     "Bapak juga berharap Nak Aruna bisa mengambil keputusan yang tepat," kata Diratama, ayah Abimanyu.


     Aruna pun terdiam semua orang memojokkan dirinya, mengharuskan dia menikah dengan laki-laki yang telah berbuat jahat. Padahal dia merupakan korban pemerkosaan. Kenapa harus menikah dengan pelaku?

__ADS_1


     "Sebaiknya kalian menikah! Demi kebaikan kita bersama juga si bayi yang masih dalam perut Aruna," kata Adiyaksa.


     Adiyaksa meminta Abimanyu sesegera mungkin untuk menikahi Aruna agar nama baik dua keluarga tidak tercoreng. Abimanyu menyanggupi keinginan calon mertua untuk menggelar acara pernikahan minggu depan walau Aruna tetap tidak mau menerima pernikahan itu.


***


     Aruna mengurung diri di kamar. Dia menangis sambil memeluk foto kekasihnya yang masih belum menyelesaikan kuliah di luar kota. Satu bulan lagi rencananya dia akan pulang dan akan meminang dirinya.


     Aruna sangat membenci Abimanyu juga janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Dia ingin menggugurkan saja selagi masih belum terbentuk bayi. Dia tidak mengharapkan kehadiran bayi ini, benih dari laki-laki yang dulu dia anggap sebagai sosok kakak yang baik hati.


     Terdengar suara pintu kamar diketuk berulang kali dan panggilan ibunya meminta izin masuk. Mau tidak mau, Aruna bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu. Wanita yang sudah melahirkan dirinya kini berdiri dan tersenyum lembut langsung membuat Aruna memeluk tubuh wanita paruh baya itu dan menangis tergugu.


     "Kenapa anak ibu masih menangis?" tanya Maya sambil membelai rambut Aruna dengan penuh sayang.


     "Aruna tidak mau menikah sama Kak Abi," jawab Aruna menahan suara isakan. 


     Maya pun menuntun Aruna untuk duduk di tepi ranjang. Diusapnya air mata di pipi mulus milik Aruna. Ada rasa sakit yang Maya rasakan saat melihat putri kesayangan harus mengalami kejadian seperti ini. Mata indah itu kini bengkak karena terlalu sering menangis.


     "Kenapa kamu masih bersikukuh tidak mau menikah dengan Abi? Dia laki-laki tampan dan juga baik."


     "Kalau Kak Abi baik, dia tidak akan melakukan hal itu sama Aruna, Bu."


     Aruna menatap ibunya dengan pandangan terluka. Dia menginginkan kalau pernikahan itu tidak terjadi. Bahkan dia lebih memilih mengungsi keluar kota di mana tidak ada satu orang pun yang mengenal dirinya. Di sana tidak akan ada yang tahu kalau dirinya adalah wanita hamil hasil pemerkosaan.


     "Bukannya tadi dia sudah bilang kalau saat itu dia sedang dalam keadaan tidak bisa mengendalikan diri karena sudah dijebak oleh teman-temannya?"


     "Lalu, kenapa harus aku?" Aruna kembali menagis dan memukul dadanya berulang kali.


     Maya pun memeluk tubuh Aruna dengan perasaan penuh kasih sayang. Diusap punggung putrinya itu untuk memberikan rasa ketenangan dan kenyamanan. Hati Maya juga ikut sakit melihat keadaan Aruna seperti ini.


     "Mungkin ini sudah menjadi takdir yang Tuhan berikan untuk kamu. Pasti akan ada hikmah di balik semua ini," kata Maya sambil menahan isak tangis.


      "Aruna tidak mau anak ini, Bu. Apa lebih baik digugurkan saja?" tanya Aruna meminta pendapat ibunya.


     "Aruna! Jangan berbuat hal itu!" Maya mengurai pelukan dia dan menatap putrinya.


     "Ingat, bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu punya hak untuk hidup. Apa kamu mau membunuh makhluk yang seharusnya bisa melihat dunia ini?" Suara Maya meninggi. Dia tidak mau Aruna sampai melakukan hal berdosa besar itu.


     "Dengarkan Ibu, Aruna! Kamu itu anak yang hebat, pasti bisa melalui semua ini. Saat ini kamu akan menganggap semua ini tidak adil bagimu. Tapi, takdir siapa yang tahu kalau ini adalah gerbang awal kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya kamu cari selama ini." Maya menghapus air mata Aruna dan kembali membawa ke dalam pelukan.


***


     Abimanyu berbaring di kamar, memikirkan apa yang harus dia lakukan agar Aruna mau menerima pernikahan ini. Sejujurnya dia suka kepada Aruna dari dulu, tetapi sudah ada laki-laki lain yang dicintai oleh Aruna.


    Walau saat itu dia melakukan dalam pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh temannya semasa sekolah, dia lebih memilih pulang dari pada melampiaskannya kepada wanita kupu-kupu malam. 


     Entah sudah takdir atau kebetulan saat itu Abimanyu bertemu dengan Aruna. Dia yang tidak bisa mengendalikan diri lagi, akhirnya melampiaskan hasrat itu kepada sang pujaan hati. Saat itu dia tidak memikirkan akibat dari perbuatannya akan memberikan efek yang mengerikan buat Aruna.


      Kehamilan Aruna juga tidak ada dalam pikiran Abimanyu waktu itu. Dia hanya menuntaskan hasrat nafsunya saja kepada gadis yang dia sukai secara diam-diam. Bahkan, dia bersedia bertanggung jawab jika Aruna meminta pertanggungjawaban karena dia sudah merenggut kehormatan gadis itu. Namun, dia salah perkiraan. Ternyata Aruna tidak mau menikah dengannya meski kini sedang hamil.


     "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Abimanyu.


***


Sambil menunggu up bab berikutnya yuk baca juga karya teman aku.

__ADS_1



__ADS_2