Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 132. Kumpul Bersama Saudara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.


***


Bab 132


     Yusuf dan Zulaikha mendatangi dokter kandungan dan berkonsultasi tentang kemungkinan punya bayi lagi. Kondisi tubuh dan rahim milik Zulaikha dalam keadaan sehat dan baik. Dia juga masih bisa memiliki sel telur. Betapa bahagianya Zulaikha saat ini. Dia kemungkinan masih bisa hamil dan memberikan adik untuk Athaya.


      Kabar gembira ini pun dia beri tahukan kepada Asiah dan Athaya. Reaksi anak-anaknya juga ikut bahagia. Mereka juga mendoakan semoga mamanya itu bisa cepat hamil.


***


      Sementara itu, di rumah Rain dan Rania. Saudara-saudaranya sedang menikmati hidangan yang masak oleh Rain selaku tuan rumah. Bahkan sejak kedatangan mereka semua, Rain sibuk di dapur memasak untuk saudaranya.


"Ini daging ayam mau dimasak apa?" tanya Mega sambil mengaduk daging ayam yang sudah di beri bumbu.


"Mau di bakar," jawab Rain sambil memasukan oseng kangkung yang baru saja selesai dia masak.


"Wah, ini banyak sekali makanannya!" seru Rayyan yang masuk ke dapur menyusul sepupunya itu.


"Memangnya kalian tidak mau ikut makan?" tanya Rain menyindir.


"Hehehe, tahu saja si Pak Bos. Aku tentu saja mau ikut makan. Apalagi ada asin, sambal, dan lalap daun singkong. Dan … ada cobek ikan! Bingung, nih. Mau makan sama apa?" Rayyan sudah menelan air liurnya saat mencium wangi makan yang terhidang di meja makan.


"Ini sambalnya tidak pedas," kata Raihan yang tiba-tiba muncul dan mencolek sambal pakai tahu goreng.


"Itu untuk anak-anak. Untuk kita-kita yang satunya lagi," balas Rain yang siap memanggang daging ayam.


"Sini, biar aku saja!" Mega mengambil alih memanggang daging ayam.


     Rain pun menyiapkan blender untuk membuat jus jambu, alpukat, dan strawberry. Dia tahu keponakan-keponakan kecilnya itu suka jus jambu sama strawberry.


"Aku saja yang membuat jus ini," kata Rayyan karena ini adalah pekerjaan sehari-harinya membuatkan untuk si kembar.

__ADS_1


"Lalu, aku kerja apa?" tanya Raihan.


"Siapkan piring dan gelas," ucap Rain yang sedang mengeluarkan beberapa cup puding susu.


***


      Para istri mereka sedang asik bercengkrama sambil memakan rujak petis. Mereka duduk lesehan di gazebo halaman belakang rumah.


"Aku deg-degan menjelang lahiran," kata Rania sambil mengelus perutnya dengan penuh sayang.


"Iya, kalau perut terasa mulas aku langsung berpikir kalau akan melahirkan. Sehingga, Kak Mega juga ikut panik," ujar Chelsea.


"Kalian itu harus tenang saat akan melahirkan. Nanti malah segala tertinggal jika kita panik. Meski perut sudah mulas-mulas juga. Nanti malah suami kita ikut panik dan pergi ke rumah sakit sendiri. Sementara istrinya malah ditinggal," kata Alin dan membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal. 


      Masalahnya itu pernah dialami oleh Alin. Saat dia panik karena perutnya sangat mulas dan terasa mau melahirkan. Raihan panik setengah hidup dia langsung berlari ke garasi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sedangkan Alin ditinggal di apartemennya bersama mamanya. 


      Akhirnya malah Fatih yang membawa Alin ke rumah sakit. Saat tiba di sana mereka melihat Raihan yang panik karena istrinya yang akan melahirkan itu menghilang.


"Benar apa kata Alin, kita tidak boleh panik. Tenangkan hati dan pikiran kita. Atur pernapasan dan siapkan diri lahir batin. Tentu saja jangan lupa berdoa. Agar kita dan bayi kita bisa selamat dan dalam keadaan sehat sempurna," lanjut Asiah yang menggendong Zahra sambil ditidurkan.


     Sementara itu anak Alin sedang memainkan tubuhnya. Kadang bayi itu tengkurap dan berguling jadi tertelungkup. Gitu terus sambil tertawa sendiri.


      Anak-anak Rayyan dan Raihan sedang bermain tidak jauh dari sana. Mereka menangkap kupu-kupu yang hinggap di bunga lalu di masukan ke dalam keranjang. Setelah itu akan dilepaskan secara bersamaan. Akan terlihat pemandangan bagus saat kupu-kupu itu terbang bersamaan.


***


     Mereka pun makan di ruang keluarga Rain yang menghadap ke kolam renang. Suara anak-anak yang saling bersahutan dan tertawa mewarnai ruangan itu. Sampai sekarang Alin masih suka makan disuapi oleh Raihan, hal ini pun turun kepada anaknya yang  bayi, Ali. Dia akan makan banyak jika Raihan yang menyuapinya. Berbeda dengan si kembar yang bisa makan sendiri.


      Anak-anak Rain dan Asiah paling suka makan sambal. Jika ada sambal dan lalapan, kedua anak itu akan makan dengan lahap. Mereka makan juga sendiri tidak perlu di suapi.


"Budhe Alin kayak Ali saja, makan harus disuapi," kata Zarfran sambil tersenyum jahil.


"Budhe Alin itu anak istimewa," kata Alin sambil sambil berbisik.

__ADS_1


"Jadi karena Budhe anak istimewa, makannya disuapi?" tanya Zafirah dengan tatapan penuh kekaguman.


"Iya," balas Alin masih berbisik.


"Mama … Papa, Fira makannya ingin di suapi agar menjadi anak istimewa!" pinta Zafirah.


     Orang-orang dewasa yang ada di sana langsung tersedak. Pastinya sakit, pedas, dan perih yang mereka saat ini rasakan karena sedang makan sambal. Sedangkan Alin, lebih parah lagi ditambah rasa malu.


"Kata siapa, Sayang?" tanya Asiah setelah minum.


"Kata Budhe Alin. Kalau kita makannya disuapi maka kita ini adalah anak yang istimewa," jawab Zafirah dan dibenarkan oleh Zarfran.


     Kini semua mata tertuju kepada Alin yang sedang menyeringai sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. Dia tahu kalau saudara-saudaranya sedang kesal padanya.


"Itu bohong!" teriak mereka semua dan membuat Ali uang sedang tidur langsung bangun dan menangis.


***


     Zulaikha sedang merayu Yusuf untuk pergi bulan madu. Dia ingin kembali menikmati masa puber kedua ini dengan tidak diganggu oleh cucu dan pekerjaan kantor.


"Aang, ayo kita kita pergi ke Bali dan Lombok. Nggak perlu jauh-jauh," rengek Zulaikha.


"Sayang, buat anak tidak perlu pergi jauh-jauh. Di rumah juga bisa," balas Yusuf sambil membolak-balikkan kertas laporan keuangan.


"Malam kemarin kita tidak buat, lusa kemarin juga tidak, dan malam ini ada Fira dan Arfa menginap ingin tidur bersama kita. Lalu kapan kita akan buat bayinya?" Zulaikha memasang wajah cemberut.


"Anak-anakan tidak tiap malam menginap di sini bersama kita. Masih bisa besok-besok kita buat calon bayinya," balas Yusuf mengusap kepala Zulaikha.


     Merasa percuma bicara kepada suaminya, maka Zulaikha pun pergi meninggalkan ruang kerja Yusuf. Tahu kalau istrinya merajuk, maka Yusuf pun menyusulnya.


***


Akankah Zulaikha berhasil punya bayi? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2