
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia.
***
Bab 123
Setelah Rania keluar ruang operasi dan dipindahkan ke ruang rawat, Rain dengan setia duduk di samping istrinya. Tidak pernah dia meninggalkan Rania, tangan istrinya itu juga tidak pernah terlepas dari genggaman tangannya. Bahkan, sesekali dia juga menciumi tangan itu.
"Ya Humaira, buka mata kamu," lirih Rain.
"Bukannya kamu bilang ingin dimasakan nasi goreng lagi. Ayo, buka mata kamu, Sayang." Rain mengelus pipi lembut dan kenyal milik Rania.
"Kamu seharusnya tahu kalau hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Mana mungkin aku tega menduakan kamu," lirih Rain. Mungkin karena kelelahan, Rain pun tertidur sambil memegang tangan Rania.
Keesokan harinya, Rania membuka matanya. Hal yang pertama dia lihat adalah wajah suaminya yang babak belur dengan senyum dan mata yang basah oleh air mata.
"Alhamdulillah, Humaira, akhirnya kamu sadar juga," kata Rain.
Rania menatap Rain dengan penuh rasa benci. Bahkan dia menarik tangannya dari genggaman tangan suaminya.
"Pergi!" desis Rania kepada Rain.
Bagai terkena sambaran petir, Rain sangat terkejut. Hatinya juga terasa sangat sakit saat tidak ada tatapan manja dan binar dari pancaran mata Rania untuknya.
"Sa-yang, ma-af—" ucapan Rain terpotong.
"Pergi! Aku benci kamu," teriak Rania dan membuat semua orang terkejut dengan teriakan si Tuan Putri.
"Sayang, kamu salah paham," kata Rain mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Aku tidak mau melihat kamu lagi. Jangan tampakkan lagi wajah kamu dihadapan aku!" teriak Rania sambil melemparkan bantalnya. Bahkan jarum infusnya sampai terlepas dan darah pun keluar dari tangannya.
__ADS_1
"Rain, sebaiknya kamu keluar dulu. Biarkan Nia tenang dulu. Ayah akan membicarakan semuanya dengan pelan-pelan agar dia tahu kalau ini hanya salah paham," ujar Fatih.
Mentari mencoba menenangkan Rania, dia memeluk tubuh putrinya yang kini sedang menangis histeris. Hanya bunda dan ayahnya yang selalu bisa menenangkan dirinya, jika emosinya tidak terkendali.
"Nia, benci! Nia nggak mau melihatnya lagi! Bayi Nia … Bun, bayi Nia apa dia baik-baik saja?" Rania memegang perutnya.
Melihat istrinya seperti itu, Rain sangat sedih. Dia ingin menjadi orang yang bisa menjadi tempat sandaran Rania saat sedang dalam terluka dan sedih seperti saat ini.
"Ayah, kenapa dia masih di sini juga? Usir dia keluar! Aku tidak mau melihatnya lagi!" teriak Rania mengusir Rain.
"Nia, aku ini suami kamu. Jadi—," ucapan Rain lagi-lagi dipotong.
"Aku akan menuntut gu…." Rania tidak bisa mengucapakan kata perceraian itu.
"Rain, keluarlah! Atau kami akan menyeret kamu," ucap Raihan dan Rayyan pun menyetujuinya, meski tidak bicara dengan mulutnya, hal itu masih bisa terlihat dari pancaran matanya.
Rain pun pergi dengan langkah gontai. Dunia seakan membuang dirinya. Saat dia membuka pintu, kedua orang tua dan kakak kembarnya baru sampai di sana.
"Sabar, ya. Semua ini ujian dari Allah. Mama yakin kalau Rain pasti bisa," ucap Cantika sambil mengusap punggung putranya.
Sementara itu, Alex dan kedua putranya masuk ke dalam. Dia pun menanyakan keadaan menantunya.
***
Meski sudah satu minggu berlalu dan Rania juga sudah pulang dari rumah sakit. Dia tetap tidak mau bertemu dengan Rain.
Mentari dan Cantika menjadi perantara antara Rain dan Rania. Mentari juga sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya saat itu. Kalau ucapan ijab itu hanya candaan Kiai Samsul kepada Amira.
Meski begitu, Rania tidak mau bertemu lagi dengan Rain. Dia masih merasa kesal dan marah kepada suaminya.
Keadaan Rain sendiri kacau, dia tidak bisa mengurus perusahaan yang di pertanggungjawabakan kepadanya. Sehingga Sky yang ambil alih menanganinya.
__ADS_1
"Ma, apa Nia sudah mau bertemu dengan Rain?" tanya Rain kepada Cantika.
"Maafkan mama, Rain. Saat ini Rania masih belum bisa melihat dirimu. Dia masih sangat terpukul dengan kehilangan bayi kalian," jawab Cantika.
"Rain juga sama sedih. Apalagi Rain baru tahu akan punya bayi di saat bayi itu diambil kembali oleh Sang Pemilik Nyawa," lirih Rain.
"Berdoalah semoga hati Nia lebih dilembutkan lagi," ucap Cantika.
***
Sudah satu bulan berlalu sejak Rania kehilangan calon bayinya. Kini semua orang sedang berkumpul di ruang luas keluarga Khalid.
"Nia, kamu sudah tahu kejadian yang sebenarnya terjadi dulu itu seperti apa? Jelas di sini Rain tidak bersalah. Ini semua sudah menjadi takdir kalian. Apakah Nia, sudah mau kembali pada Rain lagi?" tanya Khalid.
Rania masih marah sama Rain dia juga tidak mau lagi dekat-dekat dengan dirinya. Dia tipe orang yang sulit membenci sesuatu, tetapi jika sudah membenci sesuatu itu akan sulit untuk menyukainya lagi.
"Nia akan pergi melanjutkan kuliah," ucap Rania tidak menjawab apa yang di tanyakan kepadanya.
"Rain ridho dan izinkan Nia pergi kuliah ke mana pun dia mau dan selam apa pun itu," balas Rain dengan menahan sakit di dadanya. Sebenarnya dia tidak mau jika harus berpisah dengan istrinya. Namun, jika dia tidak ridho dengan hal ini, dia takutnya menjatuhkan talak kepada Rania. Selama hidupnya, Rain tidak akan menceraikan istrinya itu.
"Baiklah. Nia, kamu sendiri sudah dengar kalau suami kamu sudah memberikan izin kepada kamu untuk pergi menuntut ilmu," lanjut Khalid.
"Kalau Kak Rain mau mencari—" ucapan Rania terpotong.
"Pergilah, cari ilmu sebanyak yang kamu mau. Aku akan menjaga hati ini hanya untuk kamu," potong Rain.
Raihan dan Alin sudah memutuskan pergi ke Eropa. Alin ingin kuliah di Jerman. Sementara Chelsea, dia pergi ke Amerika. Dia akan tinggal bersama Angkasa, papa yang mengadopsinya.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1