Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 105. Status Aminah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai dan alon-alon biar tidak gagal paham. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


BAB 105


Flashback on,


     Rania yang berada dipangkuan Rain menatap wajah suaminya dengan tatapan puppy eyes. Dia tidak menyadari perbuatannya itu sudah mengganggu ketenangan jiwa dan raga Rain.


"Kak Rain lanjutkan, yuk!" kata Rania mengulang lagi ucapannya.


"A-apanya yang dilanjutkan," desis Rain. Dia merasakan sinyal bahaya. Cepat-cepat dia membawa Rania ke atas tempat tidur.


"Ih, pembicaraan yang barusan, Kak. Masa sudah lupa?" Rania mengerlingkan matanya.


"Ini sudah malam. Cepat tidur!" titah Rain sambil menyelimuti tubuh istrinya.


"Tapi, Kak—" ucapan Rania terpotong oleh kecupan Rain.


"Sudah tidur. Besok kita lanjutkan pembicaraan itu," kata Rain. Lalu, dia beranjak ke kamar mandi.


     Handphone milik Rania mengganjal di bawah bantal. Iseng-iseng dia mau kirim foto tadi kepada Chelsea dan Alin. Tanpa sengaja dia melihat status milik Aminah. Status itu menuliskan 'Betapa bahayanya penyakit mala rindu. Bisa membuat orang sampai koma.' 


      Niat mau kirim foto sama para sahabatnya membuat Rania lupa dan malah membaca status milik Aminah yang ternyata sangat banyak. Rata-rata tulisannya itu ucapan rasa prihatin kepada sepupunya yang sedang sakit. Ada beberapa kata yang membuat hati Rania merasa tersindir.


^^^Penantian bertahun-tahun yang sia-sia.^^^


^^^Kita selalu setia menunggu, tahu-tahu dia berpaling kepada yang lain.^^^


^^^Apa kurangnya saudaraku. Cantik? Dia jauh lebih cantik. Pintar? Dia lebih pintar. Kaya? Ya, dia bukan dari keluarga kayak.^^^


^^^Ternyata daun muda lebih menggoda!^^^


^^^Aku sungguh kecewa!^^^


^^^Aku kira kau kesatria, ternyata pecundang!^^^


"Ini maksudnya sama aku dan Kak Rain?" gumam Rania bertanya-tanya.


     Rania pun menghubungi nomor Animah karena sedang online. Ternyata yang mengangkat panggilan itu adalah Ummu Habibah. Maka Rania pun berbicara dengannya untuk menanyakan kondisi Amira.


"Amira diperkirakan kelelahan saja. Barusan Alhamdulillah sudah sadar," ucap Ummu Habibah


"Alhamdulillah, kalau Kak Amira sudah sadar," balas Rania.


"Nia, tidak bisakah kamu memberikan izin kepada Rain untuk menikahi Amira?" pinta wanita yang sudah sangat tua itu.


"I-tu, kalau Kak Rain mau menikah dengan Kak Amira, silakan saja. Tetapi, urus dulu perceraiannya dengan Nia," balas Rania.

__ADS_1


"Tidak, Nia. Ummu tidak mau merusak rumah tangga orang. Itu dosa," tolak ibunya Amira.


"Lalu, dengan Ummu meminta Nia untuk menyetujui pernikahan Kak Rain dan Kak Amira, itu juga sudah merusak rumah tangga Nia dan Kak Rain," ujar Rania sambil memejamkan matanya.


"Astaghfirullahal'adzim, tentu saja tidak, Nia. Kalian hanya berbagi suami. Kamu tidak perlu bercerai dengan Rain," sanggah Ummu Habibah.


"Nia tidak mau dipoligami, Umma. Kalau Kak Rain memilih Kak Amira, silakan saja. Nia tidak mau disebut perebut laki orang," gerutu Rania sambil memijat-mijat kepalanya.


     Pembicaraan mereka pun berakhir. Hati Rania menjadi kesal dan pikiran dia menjadi kacau karena terlalu banyak hal yang dipikirkan dan datang secara tiba-tiba dan bersamaan.


     Rania langsung menelepon Chelsea, dia adalah orang yang paling mengerti dirinya, dibesarkan sejak bayi bersama-sama oleh Bintang dan Ghazali membuat keduanya sudah seperti saudara kembar.


"Nia, ada apa tengah malam begini?" tanya Chelsea dengan suara seraknya karena baru bangun tidur.


"Aku mau curhat dengarkan baik-baik," kata Rania. Lalu Rania pun menceritakan tentang sakitnya Amira, status Aminah, dan pembicaraan lewat telepon dengan Ummu Habibah tadi.


"Menurut kamu, aku harus bagaimana?" tanya Rania.


"Kak Rain kan sudah bilang cinta sama kamu, Nia. Ya, pertahankan. Kamu jangan lepaskan dia." jawab Chelsea


"Lalu, aku cinta nggak sama Kak Rain?" tanya Rania.


"Hah … kok, kamu tanya sama aku! Tanya pada diri kamu sendiri, kamu itu cinta nggak sama Kak Rain?" balas Chelsea malah jadi pusing.


"Aku jadi pusing sekarang," gumam Rania dengan lirih.


    Setelah berbicara dengan Chelsea, Rania pun langsung tidur. Tak berapa lama Rain keluar kamar mandi.


***


     Pagi harinya begitu selesai sholat Subuh, Rania mengajak pulang cepat-cepat. Tentu saja dengan wajah cemberut karena Rain ingin sarapan dulu di sana. Rania pun memilih pulang duluan dan membiarkan Rain yang ingin sarapan di sana. Jadinya, mau tidak mau Rain pun ikut pulang.


     Rasa kesal kembali menyelimuti hati Rania saat melihat nama Aminah menghubungi ponsel suaminya. Ingin rasanya Rania menggeser tombol merah. Namun, siapa sangka itu malah dilakukan oleh Rain.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Rania heran.


"Aku tidak akan membuat hal bisa menyakiti hati istriku," jawab Rain. Rania pun diam.


     Saat sampai sekolah Rania buru-buru keluar dari mobil dan berlari ke arah Chelsea sambil tersenyum lebar. Dia senang saat melihat sahabatnya itu.


     Ketika pulang sekolah Rania menunggu jemputan. Dia merasa kecewa saat bukan suaminya yang menjemput.


"Maaf, Nona. Tuan Rain sedang sakit. Barusan tiba-tiba pingsan," ucap sopir itu.


"Apa? Kak Rain sakit!" pekik Rania.


"Iya, Nona," balas sopir itu.

__ADS_1


"Pak, kita ke perusahaan Kak Rain saja. Cepat, Pak! Ngebut deh kalau bisa," pinta Rania dengan nada panik.


"Tidak boleh, Non. Kata Tuan Rain, jangan ngebut harus hati-hati," ujar sopir itu.


     Kalau Rania jeli dengan ucapan si sopir, harusnya dia curiga. Masa orang yang katanya pingsan bisa menyuruh sopir untuk berhati-hati dan jangan ngebut.


Flashback off.


***


     Rain mendengarkan dengan seksama cerita Rania. Dia juga jadinya ikut merasa kesal. Untung tadi pagi dia tidak mengangkat panggilan dari Aminah. Terserah mereka menilai dirinya seperti apa.


"Kamu jangan terlalu memasukan dalam hati perkataan orang. Kamu juga jangan terlalu baik, tega-teganya kamu menyerahkan aku untuk perempuan lain. Kamu kira aku tidak akan sakit hati," ucap Rain.


"Maaf, Kak. Nia mengaku salah sudah tidak berpikir panjang, bagaimana rasanya jika berada di posisi Kakak. Ternyata Kak Rain beneran cinta ya, sama Nia." Rania langsung memeluk leher Rain karena merasa sudah berbuat jahat pada laki-laki itu.


"Ya Allah, Nia. Jadi, kamu masih meragukan perasaan cinta aku kepadamu?" Rain menarik kepala Rania sehingga mereka saling bertatap muka.


"Habis Kak Rain itu cocoknya dengan Kak—" bibir Rania dibungkam oleh ciuman Rain.


"Jangan punya pikiran seperti itu lagi. Pikirkanlah kalau suami kamu ini sangat mencintai istrinya. Tidak ada wanita lain lagi yang dicintai suami kamu," potong Rain.


"Kadang Nia, minder sendiri jika dibandingkan dengannya," lirih Rania dengan tatapan sendu.


"Dengar, Nia. Setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku menyukai kamu apa adanya, baik itu kelebihan kamu maupun kekurangan kamu," balas Rain.


    Tubuh Rania pun ditarik dan di gulingkan di atas tempat tidur. Gadis itu memekik karena terkejut, saat tiba-tiba suaminya membaringkan tubuhnya lalu dipeluk erat.


"Sekarang kamu harus obati sakit aku dulu," kata Rain.


      Rania pun menurut keinginan suaminya. Tubuh atletis itu di peluknya. Lalu kening mata, hidung, dan pipinya dia cium.


"Sudah Nia kasih obat. Berati sudah sembuh," ucap Rania dan itu membuat Rain menganga menatap istrinya tidak percaya. 


"Belum," balas Rain lalu mencium bibir lembut milik Rania sampai dia merasa puas.


***


     Rayyan yang sedang berbahagia berbeda dengan Raihan. Kedua saudara kembar itu sedang berbagi cerita.


"Kamu bermain aman saja," bisik Rayyan kepada Raihan.


"Caranya?" tanya Raihan. Lalu Rayyan pun membisikan sesuatu yang membuat senyum di bibirnya mengembang. 


***


Bisikan apa tuh Rayyan untuk Raihan, bikin senyum begitu 🙈🙈. Tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2