
Setiba di bandara sudah ada tiga mobil yang menjemput mereka. Fatih dan Mentari sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua putra mereka. Sopir untuk keluarga Zulaikha juga sudah ada di sana menyambut Nyonya dan Tuan yang jarang pulang ke Indonesia. Sementara satu lagi mobil yang disediakan oleh Fatih untuk keluarga Yusuf.
"Bunda ...! Ayah ...!" teriak si kembar sambil berlari sementara William membawa satu koper oleh-oleh milik si Kembar yang mau dibagikan ke teman-teman di sekolahnya.
"Sayang!" Mentari dan Fatih menyambut kedua anak mereka. Mereka sudah sangat rindu dengan kedua bocah yang selalu membuat ramai di mana pun mereka berada.
"Bunda kangen sama kalian," ucap Mentari sambil memeluk dan dicium anaknya secara bergantian. Begitu juga dengan Fatih.
"Asiah Sayang, sini! Bunda juga rindu pada kamu," kata Mentari sambil membuka tangannya lebar.
"Asiah juga kangen sama Bunda," balas Asiah sambil memeluk tubuh mamanya si Kembar.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Fatih kepada Yusuf.
"Saya mengikuti saran Anda. Dan hasilnya sesuai harapan," jawab Yusuf tersenyum bahagia.
"Semoga lancar sampai kalian sah menjadi suami istri," lanjut Fatih diiringi senyum menawannya.
"Aamiin. Aku dan Zulaikha, inginnya bisa secepatnya menikah. Tapi, dia juga belum menerima surat kelulusan di sekolahnya. Usianya juga belum genap sembilan belas tahun," ujar Yusuf dengan nada sedikit kecewa dengan adanya Undang-undang baru di dalam Pernikahan yang kini minimal usia mempelai wanita minimal sembilan belas tahun. Dan aturan baru lainnya. Kalau dulu sekarang daftar besok bisa langsung menikah jika ada jadwal kosong milik Bapak Amil.
"Ya, itu salah satu bentuk perjuangan cinta kalian," kata Fatih.
"Ayah Asiah mau ikut naik mobil dengan Raya," Asiah mengatakan keinginannya.
"Asiah—" ucapan Yusuf terpotong.
"Oh, boleh. Sekalian kita makan dulu di rumah kami," potong Fatih.
"Om, kalau gitu aku juga mau," kata Zulaikha merengek.
"Tidak, Zulaikha. Kasihan Mami dan Papi. Mereka harus beristirahat. Bukannya besok kita mau ke rumah Ibu dan Ayah," tolak Yusuf dan Zulaikha pun menurut meski cemberut. Baru setelah dapat bisikan dari Yusuf, gadis itu ceria kembali. Bahkan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Zulaikha itu masih kekanak-kanakan. Tapi sudah ingin menikah," ucap Fatih dengan senyum tipisnya. Dia seakan ingin sosok Mentari saat masih remaja. Mudah merajuk, tapi mudah dibujuk. Dia tidak menyangka kalau gadis itu akan menjadi belahan jiwanya.
"Bukan hanya Zulaikha yang ingin menikah. Tapi aku juga ingin segera menikahinya," kata Yusuf jujur meski malu.
Kedua Papa Muda itu berjalan masuk ke mobil yang satunya. Sebab, mobil milik Fatih kini sudah diisi oleh empat orang tadi dan mulai berangkat.
"Ya, aku bisa bayangkan. Kalau kita ingin cepat-cepat menikah jika sudah menemukan orang yang cocok dengan hati kita," ucap Fatih.
"Apa Anda juga dulu begitu?" tanya Yusuf.
"Aku menikah dengan Zahra karena di jodohkan. Meski kita sama-sama mau. Namun, aku harus bersabar menunggu dia sampai selesai kuliah. Begitu Zahra selesai kuliah malah aku disuruh pegang perusahaan di Swiss. Zahra memilih melanjutkan studinya ke Mesir. Setelah hampir sembilan tahun baru kita bisa menikah. Hal pertama yang aku lakukan begitu tiba di Indonesia adalah menikahi Zahra," kata Fatih menceritakan kisahnya dengan istri pertama dia.
"Lama juga, ya. Aku dulu sama Aisha cuma menunggu empat tahun. Itu juga aku sudah merasa was-was karena banyak yang mengincar dia," ucap si Duda sambil tertawa kecil.
"Aku nggak was-was karena percaya sama Zahra saat itu. Dan juga semua orang sudah tahu kalau Zahra sudah punya calon suami," pungkas Ayah si Kembar.
"Jujur dulu aku penasaran dengan kisah cinta Anda. Eh lebih tepatnya karena banyak yang memberitakan pernikahan kedua Anda dengan putri seorang pengusaha. Apalagi kedua wanita itu bersahabat. Negeri ini seakan heboh oleh berita pernikahan Anda dahulu. Pernikahan dengan istri kedua dirayakan dengan begitu megah dan meriah. Bahkan banyak wanita yang bilang rela di jadikan istri ketiga atau keempat Anda," ujar Yusuf sambil tertawa. Fatih hanya senyum simpul, dia kembali mengingat kejadian hari yang tak akan terlupakan dalam hidupnya itu. ( Aku tulis di bawah nanti untuk part Fatih ini 🥰).
***
Yusuf dan Asiah akan di antar pulang setelah makan bersama terlebih dahulu di rumah si Kembar. Kedatangan mereka di sambut oleh Khalid dan Aurora.
"Oma, Om Ghaza mana?" tanya Rayyan.
"Sebentar lagi akan pulang, Sayang. Mungkin masih di dalam perjalanan," jawab Aurora.
"Oma ... Opa, Raya juga mau ikut Asiah ke kampung Neneknya. Kita ingin main di sungai," ucap Rayyan.
"Aduh, Sayang. Jangan main di sungai. Bahaya!" Aurora tidak mau terjadi sesuatu pada cucunya itu.
"Kalau kalian mau berenang, di kolam renang saja. Nanti Opa ikut jaga kalian." Khalid mencoba merayu cucunya.
"Tapi Asiah mau pulang ke kampung sama Mama Zulaikha dan Oma Maharani juga Opa Clive," ucap Asiah.
"Yusuf apa kalian mau membicarakan hal serius antar dua keluarga? Hm, maksudnya membicarakan soal pernikahan kalian?" tanya Aurora pada laki-laki yang duduk agak jauh darinya.
"Benar Nyonya Aurora. Kami mau saling bersilaturahmi sekaligus membicarakan tentang pernikahan kita nanti," jawab Yusuf.
"Kalau begitu Asiah tinggal di sini saja bersama kami. Karena aku yakin kedua cucuku pasti minta ikut dengan kalian. Nantinya takut mengganggu acara penting itu," kata Khalid yang merasa yakin kedua cucunya itu punya rencana agar bisa diizinkan ikut ke sana.
"Itu ...." Diliriknya putri semata wayangnya.
"Asiah di sini saja sama Raya dan Ian," balas Asiah.
"Baiklah. Mohon bantuannya. Saya titip Asiah di sini selama saya pulang ke rumah orang tua di kampung," kata Yusuf.
"Yey!" Ketiga bocah itu berpelukan ala Teletubbies sambil tertawa.
"Mas, apa nggak apa-apa mereka bertiga terlalu dekat. Bagaimana kalau kebawa sampai remaja," bisik Mentari pada suaminya.
"Nggak apa-apa. Beberapa bulan lagi mereka juga akan berpisah sekolahnya. Kakek Willi bilang kemampuan Asiah masih batas normal. Jauh sama si Kembar. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu mereka tidak akan selengket ini," ucap Fatih mencoba menghilangkan ke khawatirannya.
__ADS_1
"Yang aku takutkan itu Raya. Apa kamu tahu, Mas. Saat di Amerika dia menelepon ingin melamar Asiah untuk jadi istrinya. Bagaimana mungkin bocah berumur lima tahun saja belum sudah minta ngelamar anak orang," lirih Mentari pada suaminya.
Fatih malah tertawa terkekeh geli karena mendengar cerita istrinya itu. Dia juga nggak akan merasa aneh dengan cara berpikir kedua anak-anaknya. Saat bersama si Trio Kancil dulu mereka juga suka berpikir dan bertindak di luar kebiasaan anak-anak seumurannya.
"Ya, tinggal kita lamar saja Asiah sesuai dengan keinginan Raya," bisik Fatih di telinga istrinya. Soalnya bahaya kalau sampai Rayyan atau Raihan dengar. Karena niat Fatih itu untuk menggoda istrinya. Kalau kedua anaknya pasti akan menganggap serius.
"Mas ...." Mentari mencubit paha Fatih. Si korban malah tertawa geli.
Sementara Yusuf hanya memperhatikan interaksi Mentari dan Fatih di terlihat serasi dan romantis di matanya. Dia juga membayangkan kalau dia dan Zulaikha akan seperti itu.
***
Aduh Abang Yusuf sudah membayangkan masa depannya dengan Zulaikha karena melihat Fatih dan Mentari. 🤣🤣🤣🤣
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kasih Like, Komentar, Bunga, Kopi, dan Vote. Supaya aku semakin bersemangat untuk crazy up.
INI PART UNTUK KAKAK-KAKAK YANG BACA NOVEL AKU "DIPAKSA MENIKAHI CUCU MANTAN SUAMI" atau kisah Mentari, Fatih, Zahra, dan William, ya. Aku janji mau memberikan ektra part sudut pandang dari Fatih. Maaf aku tidak bisa up di novelnya karena suatu alasan 🥰.
**EXTRA PART 3**
Ekstra Part kali ini akan menjelaskan lebih terperinci dari bab " Mentari, Fatih, Zahra & William (66), setting waktu dini hari sebelum Zahra meninggal. Di bab itu aku buat versi dialog Mentari dan Fatih. Sedang di bab ini akan dibuat versi kejadiannya. Semoga kalian lebih memahaminya.
**Selamat Membaca**.
Fatih mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam saat istri sebelum wafat.
**Flashback**
**kurang lebih 4 tahun yang lalu**,
Alarm berbunyi ketika waktu menunjukan jam 03.00 waktu untuk sholat tahajud. Fatih pun bangun dari tidurnya. Dia masih memeluk tubuh Zahra yang sejak semalaman menggigil kedinginan. Setelah mematikan bunyi alarm itu, dia membangunkan Zahra karena dia bilang minta dibangunkan jika waktu tahajud.
"Sayang, katanya ingin sholat Tahajjud berjamaah," lanjut Fatih. Tangan Zahra menepuk keningnya. Fatih pun mengerti keinginan Zahra.
Fatih melayangkan satu ciuman di kening Zahra. Lalu Zahra membalasnya dengan mengecup bibir suaminya. Mata sayu Zahra pun terbuka dan senyum malu-malu tercipta di wajahnya yang pucat.
"Mau shalat Tahajjud berjamaah?" tanya Fatih lagi.
"Iya." Zahra pun mengulurkan tangannya dan Fatih menggendongnya membawa ke kamar mandi.
\*\*\*
Setelah selesai sholat, Fatih membawa Zahra ke atas kasur dan memposisikan dia agar duduk bersandar. Dia pun duduk di samping istrinya. Fatih mengaji dan Zahra mendengarkannya.
"Tidurlah lagi masih ada waktu tiga puluh menit lagi menjelang adzan Subuh." Fatih pun membaringkan tubuh Zahra.
"Tapi dipeluk, ya!" pinta Zahra.
Maka, Fatih pun memeluk dan mengusap punggungnya agar cepat tertidur kembali. Terdengar napas Zahra yang sudah teratur, menandakan dia sudah tidur. Fatih bangun karena ingin ke kamar mandi.
__ADS_1
\*\*\*
Fatih ke luar dari kamar mandi, betapa terkejutnya dia saat melihat Zahra sedang menangis di atas tempat tidurnya. Dia berpikir kalau Zahra mimpi buruk atau merasakan sakit yang teramat sangat karena sampai terbangun dari tidurnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Fatih panik dan Zahra pun memeluk tubuh suaminya.
"Apa ada yang sakit? Mana?" tanya Fatih.
Zahra menggeleng dengan lemah. Lalu dia berkata, "Aku ingin minta maaf kepada kamu, Mas."
"Minta maaf untuk apa, Sayang. Kamu nggak punya salah apa-apa," balas Fatih dengan suaranya yang lembut dan malah membuat hati Zahra merasa bersalah.
Dia bersyukur punya suami yang sangat baik dan hampir sempurna dimatanya. Tidak pernah Fatih marah-marah apalagi berkata kasar padanya juga tidak menyalahkan dirinya jika sudah khilaf. Suaminya itu hanya memberi nasehat dengan lemah lembut. Kesabaran dalam menghadapi keegoisan dirinya dan rela menghabiskan banyak waktunya demi mengurus dirinya yang terbaring di rumah sakit.
"Maaf atas keegoisan aku karena selalu memonopoli dan menahan Mas untuk selalu di sisiku. Padahal aku tahu Mas dan Mentari juga saling merindukan," ucap Zahra dengan lemah.
"Sayang, aku dan Mentari sudah membicarakan ini. Kita semua sudah ridho. Kita juga masih bisa bertemu satu sama lain setiap harinya," balas Fatih lagi.
"Mas, terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan selama kita menjalani pernikahan ini. Aku sungguh-sungguh merasa hidupku ini sangat berarti," kata Zahra dengan pelan.
"Sebelumnya Mas juga ingin berterima kasih sudah membawa Mentari ke dalam kehidupan keluarga kita. Kalau dulu kamu tidak mengancam, mana mungkin Mas dan Mentari bisa hidup bahagia bersama. Begitu juga dengan keberadaan kamu itu sangat berarti bagi aku, Mentari, dan si Kembar. Kamu salah seorang yang penting dalam hidup kita. Kalau terima kasih, harusnya Mas yang bilang begitu. Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku yang datar pastinya kamu merasa bosan kalau saat bersama aku. Sehingga kamu harus belajar dari Mentari dan Gaya agar kehidupan rumah tangga kita terasa lebih hidup," balas Fatih sambil membelai pipi yang masih saja dialiri air mata.
"Mentari lah yang membuat kehidupan kita terasa hangat dan berwarna. Semenjak dia masih gadis dan belum menjadi istrimu. Aku harap Mas jangan mencari wanita lain, cukup Mentari yang jadi Ratu di hatimu. Aku titipkan dia ... sahabatku, saudaraku, keluargaku. Hanya Mentari yang benar-benar tulus kepada diriku tanpa mengharapkan pamrih apapun. Dia bahkan rela mengorbankan dirinya, kebahagiaannya, cintanya, hanya untuk aku. Sebagai gantinya aku mohon, Mas perlakuan dia sebaik mungkin jangan sakiti hati atau perasaannya." Zahra menatap Fatih dengan tatapan memohon.
"Mana mungkin Mas bisa menyakiti hati dan perasaan Mentari. Kamu sendiri tahu bagaimana perasaan aku padanya. Melihat dia menangis saja membuat aku terasa ingin mati. Mana mungkin aku akan sengaja melakukan hal kejam seperti itu."
"Terima kasih, Mas. Hiduplah selalu dalam kebahagiaan, jika ada masalah bicarakan baik-baik. Mentari adalah wanita cerdas yang bisa mendampingimu. Berbeda dengan aku yang tidak tahu dan mengerti akan dunia kamu, Mas. Jadikan juga si Kembar anak yang nggak kalah hebat dari kalian. Jangan buat anak kesayangan aku itu sengsara atau kesusahan. Mereka adalah harapan aku. Buah cinta di akhir hidupku."
"Iya, Mas janji akan buat mereka menjadi anak yang sholeh, cerdas, aktif, kreatif, apapun yang menurut kamu itu baik. Mas harap kamu jangan terlalu banyak pikiran–" ucapan Fatih terhenti karena suara adzan Subuh sudah berkumandang.
"Ayo Mas, sudah masuk Subuh," lanjut Zahra.
"Ya, Mas panggil Mentari untuk bantu kamu berwudhu," kata Fatih dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Mas, aku ingin kamu yang menjadi imam kali ini," pinta Zahra.
"Ya," jawab Fatih mengabulkan keinginan istri pertamanya.
Akhirnya lunas ya utang aku sama kakak-kakak pembaca "Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami" 😭😭😭 terharu lagi karena aku harus baca ulang kisah Zahra sebelum meninggal.
Sambil menunggu Abang Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku ya. Cus meluncur ke karyanya.
__ADS_1