
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Kemudian, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
BAB 95
Raihan melirik di jam tangannya, hari ini dia akan mengajak Alin jalan-jalan dan makan malam di luar. Senyum kembali mengembang menghiasi wajah campuran bule itu. Dia teringat kejadian tadi pagi.
"Akh, sudah kangen pada Alin!" Pemuda itu berteriak sambil menggebrak meja kerjanya dan berdiri. Dia pun meninggalkan ruang kerjanya.
"Mau ke mana?" tanya sang asisten.
"Jemput si bocah bau kencur," jawab Raihan sambil tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah.
"Jam kerja masih lama!" teriak laki-laki yang setia dan sabar menjadi bawahan Raihan.
"Ini lebih penting!" balas Raihan sebelum pintu lift menutup.
Saat dalam perjalanan ada telepon masuk dari Asiah. Raihan pun menepikan dahulu kendaraannya.
"Assalamu'alaikum, Asiah," salam Raihan setelah menggeser tombol berwarna hijau.
^^^"Wa'alaikumsalam. Ian tolong aku!" Suara Asiah begitu serak.^^^
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Raihan.
^^^"Apa kamu tahu di negara mana Raya berada sekarang?" Asiah tidak menjawab pertanyaan Raihan. Dia justru malah balik bertanya.^^^
"Raya pergi ke luar negeri?" tanya Raihan agak terkejut.
^^^"Sudah beberapa hari ini dia pergi. Hampir dua Minggu, ahk mungkin sepuluh hari," jawab Asiah terisak menahan tangisnya lagi.^^^
Raihan tahu saudara kembarnya itu sedang ada masalah dalam rumah tangganya. Dia juga tahu kalau kamarnya saat ini dijadikan tempat persembunyian Rayyan.
"Nanti aku tanya sama dia sedang berada di negara mana. Kamu jangan menangis terus," balas Raihan.
^^^"Dia tidak mengaktifkan kembali nomornya, setelah tadi kirim pesan padaku," ucap Asiah dan tangisannya pecah kembali.^^^
"Emang Raya kirim pesan apa sama kamu?" tanya Raihan. Asiah tidak menjawab hanya suara tangisan saja yang terdengar. Kemudian, Asiah mengakhiri panggilannya.
Raihan menguar rambutnya. Dia merasa jadi ikut pusing masalah kembarannya. Matanya kembali melihat handphone yang berbunyi menandakan ada pesan masuk.
^^^Ini pesan dari Raya tadi.^^^
__ADS_1
^^^Asiah, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakan dirimu. Kamu berhak untuk hidup bahagia. Carilah, kebahagiaan seperti yang kamu inginkan!^^^
Mata Raihan langsung terbelalak begitu membaca pesan dari Rayyan untuk Asiah. Dia pun menghubungi nomor saudaranya itu. Namun, tidak aktif. Dia pun melacak keberadaannya. Hasilnya, Rayyan masih ada di Indonesia dan lebih tepatnya di apartemen mewah miliknya sendiri.
Raihan pun kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Alin terlebih dahulu sebelum menemui kembarannya. Dia tahu kalau Rayyan bukanlah orang yang berpikiran pendek. Dia juga tahu betapa besar cintanya kepada Asiah.
Saat hendak menjemput istrinya, Raihan melihat mobil Rain di depan sekolah. Dia yakin kalau sepupunya itu sedang menjemput Rania. Raihan pun menekan klakson agar Alin cepat naik mobil.
"Assalamu'alaikum, suaminya Alin si Cantik Jelita," salam Alin begitu masuk mobil dan mencium tangan Raihan.
"Wa'alaikumsalam, istri bucin milik Raihan pria paling tampan dan gagah," balas Raihan nggak kalah narsis.
"Siapa yang bucin? Alin tidak bucin sama Kak Ian. Justru Kak Ian yang bucin sama Alin yang cantik, baik hati, dan tidak sombong ini," bantah Alin sambil memanyunkan bibirnya dan langsung di kecup oleh Raihan karena gemas.
"Alin, aku ada sedikit urusan. Apa kamu mau pulang dengan Nia?"
"Urusan apa, Kak?" tanya Alin sambil memandang ke arah suaminya yang sedang menyetir.
"Maaf, ya. Urusan ini sangat rahasia jadi tidak bisa diberitahukan kepada siapa pun," jawab Raihan sambil berbisik. Alin pun mengangguk.
Raihan pun menyusul mobil Rain dan mencoba menghentikan mobil berwarna hitam itu. Akhirnya, mobil Rain pun berhenti.
"Ada apa?" tanya Rain sambil mengeluarkan kepala dari jendela mobil.
***
Raihan pun mendatangi aparteman milik Rayyan. Dia yang tahu password langsung saja main nyelonong masuk ke dalam. Saat masuk, tidak terlihat kembarannya di lantai bawah. Maka dia pun naik ke lantai atas. Dia masuk ke kamar kembarannya yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Raihan pun ikut berbaring di sampingnya.
Kedua lelaki itu diam tidak ada yang bersuara, hanya saling melihat satu sama lain. Tanpa adanya kata-kata pun, keduanya bisa berkomunikasi lewat tatapan matanya.
"Pulanglah, jika hati dan pikiranmu sudah tenang! Bicarakan ini dengan baik-baik. Dia juga sama tersiksanya dengan dirimu," kata Raihan memecah kebisuan di antara mereka. Rayyan hanya menatap kembarannya.
"Aku yakin kalau kalian sedang salah paham," lanjut Raihan.
"Sudah, sana temui istri kamu!" titah Raihan ada Rayyan.
Senyum tipis terpahat di wajah Rayyan. Lalu dia berkata, "Apa kamu tahu, ternyata Asiah merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini? Aku terlalu mengatur dan menuntut kepadanya. Aku ini bukan seorang imam yang baik baginya."
"Kamu melakukan semua itu demi kebaikan Asiah karena kamu mencintainya," balas Raihan.
"Tapi, cara aku memperlakukannya itu, tidak disukai olehnya. Dia tidak suka aku yang keras kepala dan juga posesif. Berbeda dengan Sulaiman. Asiah merasa nyaman saat bersama dengannya," kata Rayyan dengan sorot mata yang terluka.
"Sulaiman?" gumam Raihan.
__ADS_1
"Ya, dia juga mencintai Asiah. Aku tidak tahu cara dia memperlakukan Asiah. Sehingga merasa nyaman saat bersama dengannya," balas Rayyan.
"Aku rasa, Asiah juga bahagia saat bersama dirimu. Coba kamu ingat-ingat bagaimana ekspresi, kata-kata yang diucapkan Asiah saat bersama dengan kamu?" Raihan meletakan telapak tangannya dan menutup mata Rayyan.
"Yang aku bicarakan adalah saat ini. Setelah kita menikah. Bukan sebelum kita menikah," ujar Rayyan sambil menurunkan tangan kembarannya.
"Kadang orang saat berpacaran itu terlihat saling mencintai dan tidak pernah bertengkar. Namun, setelah menikah, mereka sering berselisih paham dan akhirnya bertengkar." Raihan kini menatap langit-langit kamar yang berukiran indah.
"Dan itu yang terjadi pada aku dan Asiah. Kita malah sering ada konflik setelah menikah. Rumah tangga kami menjadi tidak harmonis. Ada saja hal yang membuat kita beradu mulut," seloroh Rayyan.
"Hmmm, bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Raihan kini kembali mengalihkan perhatiannya kepada Rayyan.
"Tidak sekacau tadi. Sekarang sudah agak mendingan," jawab Rayyan dengan senyum tipis.
"Selesaikan masalah kalian. Lebih cepat lebih baik. Lalu sama pergi bulan madu lagi. Aku tunggu kabar baiknya. Ish, sudah tidak sabar ingin gendong bayi," tutur Raihan.
Rayyan tertawa melihat kembarannya yang selalu menggerutu. Apalagi, jika melihat bayi yang lucu menurutnya. Pasti ujung-ujungnya akan ngedumel karena belum boleh menyentuh istrinya.
"Belajarlah dari Rain. Dia anteng tuh, tidak pernah menggerutu karena belum bisa menjamah Nia," ucap Rayyan sambil tertawa terkekeh.
"Rain itu baru sampai tahap ciuman pertama dengan Nia. Aku dan Alin sudah jauh dari itu," balas Raihan dengan ngomel.
"Darimana kamu tahu kalau mereka baru tahap sampai ciuman pertama?" tanya Rayyan.
Raihan pun menceritakan kejadian saat di rumah Abah dulu. Betapa lucunya cerita itu bagi Rayya. Dia terus tertawa sambil memegang perutnya karena merasa sakit saking banyaknya tertawa.
"Apa sekarang pikiran kamu sudah tenang?" tanya Raihan.
"Hn, terima kasih sudah membuat aku tertawa. Sehingga, kepala aku tidak sakit lagi," balas Rayyan.
"Jangan terima kasih kepada aku. Tapi, pada Nia dan Rain," sanggah Raihan dengan senyum tipisnya.
"Aku senang punya saudara seperti kalian," aku Rayyan.
"Kami juga senang bersaudara dengan kamu. Sudah sana temui Asiah! Jangan buat dia koma lagi karena terlalu mencintai kamu," titah Raihan.
***
Bagaimana cara penyelesaian masalah antara Rayyan dengan Asiah. Raihan diam-diam suka ngedumel 🤭🤭 dan ingin punya bayi. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya!
Sambil menunggu Rain, Rayyan, dan Raihan up bab berikutnya. Yuk, mampir ke karya teman aku ini. Ceritanya seru, loh.
__ADS_1