
6 Tahun kemudian ….
William berdiri menghadap dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Hiruk pikuk suasana di sana tidak membuatnya bisa mengalihkan ingatannya tentang pembicaraan dengan sang mantan istri yang memintanya untuk segera menikah lagi.
Mentari meminta William untuk menikahi Bilqis. Namun, hati dia masih ragu-ragu meski mereka sudah sangat dekat selama 6 tahun belakangan ini.
Bahkan gadis pemalu itu pernah mengungkapkan perasaannya dan keinginannya untuk menjadi pendampingnya sejak 6 tahun lalu. Setiap tahun si anak perawan itu selalu bilang "Mister, aku mencintaimu. Izinkan aku selalu serasa di sisimu sampai akhir hayatku!"
William bukannya tidak suka dengan Bilqis. Namun, untuk dijadikan pendamping hidupnya dia merasa masih belum yakin.
Hasrat kejantanan dia belum bangkit saat ada Bilqis di sisinya. Sampai dia mengecek kesehatan dirinya. Namun, hasilnya masih baik. Bahkan kwalitas benih dia juga bagus. Saat dirinya kembali mengingat malam-malam indah dan panas saat bersama Mentari dulu. Kejantanannya bereaksi dengan baik.
Kesabaran Bilqis dalam memupuk perasaannya, William acungi jempol. Dia salut sama gadis baik hati itu yang pantang menyerah. Jika orang lain baru beberapa bulan atau satu tahun saja sudah menyerah.
Saat William datang ke Indonesia, dia juga selalu sering menghabiskan waktunya bersama Bilqis dan anak-anaknya Fatih. Bilqis sering bilang kalau itu adalah kencan sekaligus mengasuh. Di saat seperti itu dirinya bisa melihat betapa Bilqis itu punya sifat keibuan. Kesabaran dalam menghadapi keinginan Rania dan Chelsea. Atau menanggapi kecerewetan dou ceriwis. Dia bisa melihat kelebihan lainnya dari si anak perawan itu.
Untuk mengetes perasaannya. Dia dan Bilqis mencoba memutuskan sementra waktu komunikasi mereka selama satu bulan. Dia ingin menguji perasaannya ke pada Bilqis.
Ini sudah 2 minggu berlalu. Mulai ada rasa rindu dalam dirinya. Dia merasa ada yang kurang jika sebelum tidur tidak bertelepon dengan gadis berjilbab itu. Tidak menjahili atau membuat malu gadis itu merasa ada yang kurang dalam dirinya.
William sudah tahu akan perasaan Bilqis padanya. Sudah tahu kelebihan dan kekurangan dari gadis pemalu itu. Namun, tetap saja dia belum yakin akan masa depannya bersama Bilqis.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam William ketika melihat foto dirinya yang masih bersama Mentari, Allura dan Liam. Senyum mereka sangat lebar menggambarkan perasaan saat itu.
"Aku harap sebelum kematian menjemputku. Aku punya keluarga baru lagi," lirih William.
***
__ADS_1
Yusuf sedang berkutat membuatkan susu ibu hamil untuk istrinya yang sedang hamil muda. Setelah Zulaikha menyelesaikan kuliahnya, mereka fokus ingin membuat adik untuk Asiah. Bahkan mereka berdua selalu menghabiskan akhir pekan di villa atau apartemen. Biar nggak di recoki sama Asiah yang kadang masih suka ikut tidur bersama mereka.
"Sayang~, ini minum dulu susunya," kata Yusuf sambil menyerahkan segelas susu rasa coklat.
"Terima kasih, Aang. Dede bayi senang sekali sudah dibuatkan susu sama Ayah," ucap Zulaikha menirukan suara anak kecil.
CUP
CUP
CUP
Yusuf memberikan kecupan-kecupan ringan pada bibir istrinya karena gemas saat menirukan suara anak kecil. Keduanya malah tertawa.
"Kamu itu semakin menggemaskan saja, Sayang," puji Yusuf pada istrinya.
Saat malam hari biasanya mereka berbincang membicarakan kegiatan mereka seharian itu. Mau hal-hal yang sepele atau yang serius mereka bicarakan. Ketika mereka sedang asik bercumbu, terdengar ketukan pintu dari luar.
"A–ang … Asiah." Zulaikha menghentikan kegiatannya dan menatap suaminya dengan memelas.
"Ah, kayaknya kita harus berhenti, Sayang. Dia pasti mau tidur bersama kita," balas Yusuf dengan tatapan meminta maaf dan merasa bersalah.
"Ayah! Mama! Buka pintunya!" teriak Asiah sekuat tenaga agar terdengar sampai ke dalam.
"Tuh kan?" Yusuf terkekeh melihat wajah frustrasi Zulaikha yang masih ingin berbagi cinta dengan suaminya.
Yusuf dan Zulaikha pun membereskan tempat tidur dan diri mereka. Lalu membukakan pintu.
__ADS_1
"Ada apa Asiah?" tanya Yusuf.
"Asiah mau tidur di sini!" jawab Asiah sambil masuk ke dalam kamar sambil membawa boneka kesayangannya yang sudah menemaninya lebih dari 6 tahun.
Yusuf dan Zulaikha saling pandang lalu tersenyum geli. Akhirnya mereka pun tidur bertiga dengan Asiah di tengah-tengah mereka.
***
Meski baru hamil 5 minggu, Zulaikha sudah mengalami ngidam. Keinginan dia lebih banyak ke ingin memakan makanan yang ada di beranda food online atau yang di upload oleh orang di media sosial. Seperti tengah malam ini. Zulaikha yang sedang tidur bermimpi makan seblak campur. Belum juga di makan olehnya, dia keburu bangun.
"A~ang, tanggung jawab sudah membuat aku terbangun. Dan sekarang aku mau makan seblak," rengek Zulaikha.
"Mau seblak? Itukan pedas, Sayang." Yusuf menolak permintaan istrinya.
"Ya, jangan pakai cabai. Pokonya aku ingin seblak." Zulaikha menggoyangkan lengan suaminya sambil merengek.
"Tapi—"
"A~ang, aku mau makan seblak Tasik. Katanya seblak di sana sangat enak. Aku lihat foto kuliner di sana terlihat menggoda," rengek Zulaikha pada suaminya.
"Sayang, ini sudah tengah malam," ucap Yusuf dengan wajah memelas. Dia berharap istrinya jangan meminta yang aneh-aneh.
"Besok, pokonya kita ke Tasik!" Zulaikha menggelembungkan kedua pipinya.
'Sabar Yusuf … resiko sudah buat bunting istri. Ya, harus nurutin keinginan dia.' Yusuf bicara dalam hatinya.
***
__ADS_1
Kakek Willi sedang berusaha menerima Bilqis😍. Apakah akan semudah yang dipikirkan oleh orang lain🤔🤔? Yusuf harus ekstra sabar nih, jika berhadapan dengan Zulaikha 😁😁. Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga 🤗🤗. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin semangat.