
Bukan hanya Asiah yang murung dan nggak mood menjalani hari ini. Begitu juga dengan Yusuf. Dia malah sering merasa kesal karena semua pekerjaannya terasa menumpuk dan nggak ada habisnya. Padahal itu tugas sudah biasa menumpuk seperti itu setiap harinya. Hanya saja dia tidak bersemangat seperti biasanya.
Bilqis juga merasa ada yang aneh dengan Yusuf. Terlihat beberapa kali atasannya itu hanya mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Hal yang baru dia lihat selama jadi bawahannya.
'Apa, dia sedang ada masalah di rumahnya? Apa orang tuanya tidak mengizinkan dia untuk mencari pengganti ibu sambung untuk Asiah?'
"Yusuf, ikut ke ruangannya," kata Sarah saat dia membuka pintu ruangannya.
Langkah kaki Yusuf terlihat gontai. Bilqis merasa khawatir.
"Apa, dia sedang sakit, ya?" gumamnya.
***
Kini Sarah dan Yusuf sedang duduk berhadapan. Terlihat jelas kegugupan di wajah Sarah.
"Yusuf bisa bantu aku. Mengakulah sama Papa kalau kita sedang pacaran," kata Sarah tiba-tiba dan itu membuat Yusuf sangat terkejut.
"Apa?"
"Aku mohon padamu, aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan Papa." Sarah memasang wajah memelas.
"Aku tidak bisa, karena aku sudah punya pasangan yang akan menjadi istriku dan ibu sambung bagi Asiah. Kebetulan nanti malam aku mau menemui orang tuanya," balas Yusuf.
"Apa? Kamu sudah punya wanita lain. Padahal istri kamu itu baru dua bulan yang lalu meninggal!" pekik Sarah kecewa.
"Bagi laki-laki itu tidak ada masa idah. Dia bahkan bisa langsung menikah sehari setelah istrinya meninggal," ujar Yusuf.
"Lalu bagaimana dengan Asiah? Apa kamu tidak memikirkan dia?" Cerca sang CEO cantik itu.
"Asiah setuju. Karena perempuan ini kenal baik dengan Asiah dan sangat menyayangi dia," lanjut Yusuf.
__ADS_1
Seperti ditinggang dengan batu besar. Sarah merasa sakit hatinya. Secara tidak langsung cintanya di tolak oleh duda beranak satu itu. Dia pun diam seribu basa sampai Yusuf keluar dari ruangannya.
***
Zulaikha mencari hadiah untuk ulang tahun Asiah. Dia bingung mau memberi apa yang kira-kira belum dimiliki oleh si gadis cilik itu.
"Yunus kasih ide, dong! Hadiah apa yang kira-kira bagus untuk Asiah," pinta Zulaikha, tetapi pemuda itu malah mengawasi sekeliling mereka.
"Carilah sesuatu yang spesial dan bermanfaat," balas Yunus.
Maka Zulaikha pun memilih satu set paket buku dongeng plus mewarnai dan pensil warna. Serta meja lipat kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
"Ini saja 'lah. Semoga saja Asiah suka," gumam Zulaikha diiringi senyum cantiknya.
"Yunus, ayo kita makan dulu!" ajak Zulaikha.
"Lebih baik kita makan di rumah saja," ujar Yunus dan memakaikan topi dan jaket pada Zulaikha.
"Dia tidak ada di sini. Mungkin saja ada orang suruhannya. Aku melihat ada orang yang mencurigakan tadi. Sebaiknya kita cepat-cepat pulang saja." Yunus menjelaskan situasinya saat ini.
***
"Asiah hari ini kamu ulah tahun, ya?" tanya Rayyan.
"Darimana kamu tahu kalau hari ini aku ulang tahun?" Asiah balik bertanya.
"Dari data murid yang berulang tahun bulan ini. Kayaknya Bu Hawa lupa kasih kue ulang tahun untuk kamu," ucap Rayyan.
"Kalau aku ulang tahun tidak pernah ada kue ulang tahun. Bunda biasanya masak banyak lalu mengajak teman-teman dan para tetangga makan bersama-sama di rumah," ucap Asiah.
"Hei, ini momen yang pas buat Mama Zulaikha dan Ayah kamu untuk berbaikan lagi!" seru Rayyan.
__ADS_1
"Iya, bener tuh, Asiah. Kamu minta mereka untuk makan bersama dan saling memaafkan," lanjut Raihan dengan satu tepukan tangan.
"Nanti mereka akan berbaikan kembali?" tanya Asiah dengan mata berbinar bahagia.
"Iya, tentu saja!" jawab Rayyan.
"Hore ... hore!" Asiah memegang kedua tangan si Kembar dan melompat-lompat. Ketiga bocah itu terlihat senang.
"Nanti malam kita juga mau ke rumah kamu, ya." Rayyan berinisiatif mau memberikan hadiah ulang tahun untuk Asiah
"Kita sudah beli hadiah ulang tahun untuk kamu, loh." Raihan membongkar rahasia yang sudah dia buat dengan kembarannya kemarin.
Rayyan menepuk jidatnya. Terbongkar sudah kejutan yang mereka persiapkan untuk Asiah.
"Kalian mau memberi aku kado ulang tahun?" tanya Asiah.
"Iya. Aku membeli sebuah—" Rayyan langsung membungkam mulut lemes kembarnya.
"Hey, bukannya kita mau membuat kejutan untuk Asiah!" bisik Rayyan dengan gemas.
"Oh, iya. Aku lupa!" balas Raihan.
Kejutan yang tidak akan menjadi kejutan lagi.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
Baca juga karya aku yang lainnya. TRIO KANCIL.
__ADS_1