
"Ayah … Bunda, Raihan dan Alin memutuskan akan tinggal terpisah mulai hari ini," kata Raihan setelah selesai sarapan.
"Apa kalian tidak terlalu terburu-buru? Apa Alin tidak betah tinggal bersama bunda di sini?" tanya Mentari dengan wajah sendunya.
"Tidak, Bunda. Alin sangat senang tinggal di sini. Hanya saja Kak Ian bilang …." Alin melirik pada suaminya.
"Bunda kayak tidak tahu anak muda saja," kata Raihan sambil tangannya mencubit paha Alin karena seenaknya saja melempar sesuatu pada dirinya.
"Awww!" jerit Alin dan meringis.
"Kenapa Alin?" tanya Fatih, Mentari, dan Rania secara bersamaan.
"He-he-he, nggak ini kayaknya ada serangga nakal di paha Alin dan minta di pukul," jawab Alin sambil tertawa garing.
"Jangan bilang serangga itu jalan ke arah aku!" Rania menaiki kursi.
"Turun, Nia!" titah Mentari.
"Nggak mau, Bun. Pastikan dulu kecoanya nggak ada. Baru Nia akan turun," ucap Rania.
"Sudah nggak ada. Mana ada kecoa di rumah ini," kata Rayyan sambil memegangi tubuh adiknya.
Alin melotot pada Raihan. Sementara itu, suaminya seperti tidak punya salah padanya. Raihan malah asik meminum jusnya.
"Kak Ian, bilang kita pindah rumah biar bisa sayang-sayangan," kata Alin sambil melirik ke arah Raihan.
"Ukhu … ukhu!" Raihan langsung tersedak oleh air jus. Alin menahan senyumnya.
"Kakak, hati-hati," kata Alin sambil menepuk pundak Raihan dengan keras.
"Wah, ketahuan nih. Kamu harus hati-hati Ian. Alin masih di bawah umur. Kalian jangan macam-macam dulu," ucap Rayyan.
__ADS_1
"Siapa yang mau macam-macam?" Raihan tidak terima dengan tuduhan itu.
"Sudah-sudah! Kalian mau tinggal di mana?" tanya Fatih.
"Mungkin di apartemen, Yah," jawab Raihan.
"Jangan di apartemen! Aku juga mau membawa meong, bersama aku." Alin menatap Rayhan karena ingin membawa kucing peliharaannya.
Semua saling memandang dan terakhir melihat ke arah Alin. Gadis itu memasang wajah yang memelas.
"Kamu tinggal di rumah di komplek perumahan Bumi Hijau. Di sana kita punya satu rumah yang berukuran kecil. Cukup kalau untuk tinggal berdua dan satu kucing," kata Fatih.
"Iya, kasih Alin kalau rumah ukuran besar. Nanti dia kelelahan mengurusnya," balas Raihan dan mendapat pelototan dari Alin.
Tatapan Alin seolah berkata, 'Aku bukan pembantu!'
'Sudah tugas kamu untuk mengurus rumah,' balas Raihan melalui tatapannya.
***
"Kak, katanya rumah yang akan kita tempati kecil. Ini kok, besar?" tanya Alin saat berkeliling rumah.
"Rumah ini terbilang kecil jika, dibandingkan dengan tempat tinggal keluarga Hakim," balas Raihan.
"Aku nanti capek beres-beres di rumah ini! Mana aku masih sekolah," gerutu Alin pada Raihan.
"Ngapain kamu beres-beres? Kan sudah ada Bi Mar dan Mang Asep yang mengurus segala di rumah ini. Tugas kamu hanya melayani Kak Ian saja," kata Rania yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.
Raihan hanya mendengus karena niat menjahili Alin menjadi gagal gara-gara Rania. Kepolosan Rania dan Alin selalu bisa dimanfaatkan oleh Raihan dan Rayyan untuk menghibur hati mereka. Meski kadang telinga mereka harus kuat saat mendengar keduanya bernyanyi, apalagi kalau ditambah Chelsea. Paket komplit trio cerwet dengan berbagi karakter suara.
"Asik, jadi tugas aku hanya duduk-duduk manis dan melayani Kak Ian saja?"
__ADS_1
"Iya. Kamu hanya perlu jadi istri yang menurut pada suami saja."
"Tapi 'kan, Kak Ian itu sudah besar. Apa-apa sudah bisa sendiri. Jadi, tidak perlu bantuan aku," kata Alin.
"Tapi, segala keperluan Ayah selalu Bunda siapkan. Baju, makanan, terus buatkan minuman. Bunda juga suka memijat badan Ayah kalau Ayah terlalu capek," balas Rania.
"Yap, benar. Dengar itu Alin. Mulai hari ini tugas kamu itu; menyiapkan baju ganti aku, melayani aku saat makan, membuatkan aku minuman, dan memijat tubuh aku," kata Raihan dan Alin hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Uh, pintarnya istri aku," lanjut Raihan dan mencubit pipi Alin.
***
Kamar utama ada di lantai dua, selain itu ada dua kamar lainnya yang berukuran lebih kecil. Kamar itu untuk kamar tidur Alin dan ruang kerja Raihan. Sementara itu, Bi Mar dan Mang Asep, tinggal di kamar lantai satu.
Fatih dan Abimanyu memberikan pepatah nasehat kepada Raihan dan Alin. Agar mereka selalu tahu apa yang menjadi tugas suami dan istri. Apa yang menjadi hak dan kewajiban seorang suami dan istri.
"Kalian berdua harus rukun-rukun, ya. Ingat kalau ada apa-apa bicarakan baik-baik. Jangan marah-marahan pada pasangan. Pupuk terus perasaan kalian agar bisa saling mencintai dan menyayangi," kata Mentari sambil memegang kedua tangan Raihan dan Alin yang disatukan.
"Kalian jangan dulu buat cucu untuk kita. Tunggu sampai Alin berusia dua puluh tahun," kata Aruna frontal.
"Bun, jangan gitu ih! Kak Ian nanti malu," kata Alin, padahal yang malu adalah dirinya.
"Aku nggak malu, kok. Tapi, Bun ... Alin itu yang suka sekali menyerang aku duluan," kata Raihan.
"Oh, ternyata sifat putriku ini turunan dari Bunda-nya. Dia juga suka sekali menyerang duluan, tapi tenang saja. Aku yakin Alin juga tipe setia seperti kedua orang tuanya," balas Abimayu dan itu membuat pipi Aruna merona.
Dalam otak Raihan dan Alin berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Aruna dan Abimanyu. Raihan dan Alin berpikir suka menyerang itu perkelahian fisik sedangkan pikiran Abimanyu dan Aruna menyerang untuk bermesraan atau memadu kasih.
***
Bagaimana kisah Raihan dan Alin di rumah baru mereka 😎😎? Akankah mereka bisa sayang-sayangan 🙈🙈. Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote (Yuk Vote sebanyak-banyaknya. Pemberi poin tertinggi akan dapat hadiah). Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.
__ADS_1