Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 72. Saat Pertemuan Dengan Ummu Habibah


__ADS_3

     Pagi hari Rain tidak berani melihat ke arah Rania. Baru melihat istrinya dari arah belakang saja, jantung dia sudah bertalu-talu. Kalau bisa dia ingin langsung kabur saja ke kantornya dan sarapan di sana. Namun, hal ini tidak bisa dia lakukan karena harus mengantarkan istrinya juga ke sekolah.


      Seperti biasa Rania membuat sarapan sambil bersenandung gembira. Lagu-lagu yang sedang hits di kalangan remaja selalu dia nyanyikan. Hal ini Rania lakukan hanya di rumah saja. Kedua orang tua dan saudara-saudaranya melarang dia bernyanyi di tempat umum dan di depan orang lain.


      Nyanyian Rania terhenti saat merasakan kehadiran seseorang. Dia pun memutarkan kepalanya ke arah belakang. Terlihat ada suaminya sedang berdiri di dekat meja makan.


"Assalamu'alaikum, Kak Rain!" sapa Rania lalu kembali lagi pada masakannya.


"Wa'alaikumsalam, Nia," balas Rain masih menatap Rania.


     Ada rasa ragu dalam diri Rain mau membahas masalah semalam. Dia tidak mau merusak moodnya Rania juga moodnya sendiri.


"Nia—" Rain tidak melanjutkan ucapannya.


"Kak Rain, nanti malam aku akan menginap di rumah Bunda. Mungkin beberapa hari, Alin juga akan ikut menginap di sana. Kita punya banyak tugas dari guru di sekolah," kata Rania bersamaan dengan Rain.


"Apa tidak bisa dikerjakan di sini saja?" tanya Rain dengan terselip rasa tidak suka.


"Tidak bisa karena tugasnya banyak sekali. Chelsea dan Alma juga akan ikut menginap," jawab Rania sambil meletakan nasi kuning di meja makan.


"Kamu tidak sedang menjauhi aku, 'kan?" tanya Rain.


"Kenapa aku harus menjauhi Kak Rain?" tanya Rania sambil menatap suaminya.


"Karena masalah kemarin," jawab Rain.


"Masalah kemarin?" Rania membeo. Lalu, ingatannya kembali mengingat kejadian kemarin saat di pasar induk.


Flashback on.


"Nia, apa sudah belanjanya?" Rain datang menghampiri istrinya.


"Rain!" Ummu Habibah, Amira, dan Aminah membalikan badan mereka dan melihat sosok pemuda yang tinggi dan berwajah tampan, tapi datar.


DEG!


     Rain terkejut bisa bertemu dengan keluarga gurunya. Apalagi ada perempuan yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya.


"Ummu, Kak Amira, dan Aminah. Sedang apa di sini?" Meski mereka memakai cadar, Rain bisa mengenali mereka dari bentuk mata dan pancaran cahaya dari netra mereka.


"Assalamu'alaikum," salam Amira dengan pelan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Rain.


"Kita sedang belanja karena di kampung sedang terjadi wabah hama. Banyak petani yang gagal panen. Abah juga sedang mencari bahan pangan untuk warga di sana," balas Ummu Habibah.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Bagaimana dengan para warga kampung, apa mereka baik-baik saja?" tanya Rain.


"Persediaan bahan pangan sudah habis. Makanya Abah mencari bahan pangan untuk di pasok ke warga. Pak Camat dan Pak Kades juga sudah meminta bantuan pada pemerintah, tapi belum turun juga bantuan dari mereka," jawab Ummu.


"Kira-kira apa saja yang warga butuhkan selain bahan pangan?" tanya Rain lagi.


"Untuk saat ini hanya bahan pangan yang mereka butuhkan," balas Ummu Habibah.


"Kalau gitu, Rain akan kirim beras, mie instan, dan olahan daging siap olah. Rain kirim ke Rumah Tahfiz Nurul Iman. Nanti tolong salurkan kepada warga di sana," ucap Rain.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih Nak Rain. Abah pasti senang dengan bantuan yang akan diberikan oleh kamu," ujar Ummu Habibah sambil tersenyum karena terlihat matanya.


"Terima kasih, Rain," ucap Amira dengan senang.


"Wah, calon menantu Kiai Samsul memang the best! Kapan nih, mau halal-in Amira?" tanya Aminah dengan nada menggoda kedua orang pemuda-pemudi itu.


     Rania menatap tajam kepada Rain saat pemuda itu mengalihkan pandangannya pada sang istri. Rain pun tahu kalau Rania tidak suka mendengar ucapan itu.


"Ummu, bagaimana kabar Kiai Samsul?" tanya Rain.


"Alhamdulillah, dia baik. Meski kemarin sempat kecewa kepada kamu karena tidak datang. Padahal Abah sudah sangat rindu padamu dan ingin bertemu," jawab Ummu Habibah.


"Bukan hanya Abah saja yang rindu padamu, Rain. Kak Amira juga sama. Dia selalu merindukan Kak Rain," kata Aminah sambil tertawa terkikik.


     Rania semakin menatap tajam dan sebal pada Aminah. Dia pun undur diri dari mereka karena sejak tadi menjadi patung di sana.


"Kak Rain, aku duluan," ucap Rania.


"Ummu, Kak Amira, dan Aminah, aku permisi dulu." Rania pun pergi menuju ke tukang ikan.


"Ummu, sebenarnya ada yang mau aku sampaikan dan ini sesuatu yang sangat penting bagi Rain. Ini Sya Allah dalam waktu dekat Rain akan ke Rumah Tahfiz untuk menemui Kiai Samsul," ucap Rain.


"Datanglah kapanpun kamu mau. Rumah Tahfiz selalu terbuka untuk semua orang, Rain," balas Ummu Habibah.


"Kalau begitu Rain undur diri, permisi. Assalamu'alaikum," kata Rain sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas ketiga orang itu.


    Rain pun mencari keberadaan Rania. Dia mengira kalau istrinya kembali ke mobil. Namun, saat sampai di parkiran dia tidak menemukan dirinya. Akhirnya, Rain pun berkeliling kembali masuk ke dalam pasar dan mencarinya di bagian pasar ikan.


     Terlihat Rania sedang tertawa bersama para pedagang di sana. Dikedua tangannya sudah banyak barang belanjaan.


"Terima kasih, Bang. Senang deh, sama Abang selalu dikasih bonus," kata Rania.


"Non, masa nggak beli udangnya? Bang Jabrig dibelanjain sama Non Nia, juga," ucap tukang udang.


"Oke deh, Bang Jabrig. Udang besar dua kilo, yang masih segar!" balas Rania.


"Nia, jangan beli banyak-banyak. Hanya ada kita berdua di apartemen," kata Rain.


"Ini buat dikirim ke rumah Bunda. Tenang saja belinya juga nggak pakai uang Kak Rain," ujar Rania tanpa melihat ke arah suaminya.


"Pakai uang belanja yang aku kasih juga tidak apa-apa," kata Rain.


"Uang aku dari Ayah masih banyak," ucap Rania sambil memberikan uang kepada Bang Jabrig.


"Nia—"


"Maaf Nona, saya terlambat. Ada tugas apa?" tanya tanya seorang laki-laki yang kini berhadapan dengan Rania.


"Pak, tolong berikan ini sama Bunda!" pinta Rania sambil menyerahkan beberapa keresek padanya.


"Ada ada lagi, Nona?" tanya orang itu lagi.


"Tidak ada lagi. Terima kasih ya, Pak." Rania tersenyum dan diangguki oleh laki-laki itu.

__ADS_1


***


     Rania sedang ngambek pada Rain. Dia sedang mogok bicara pada suaminya.


"Nia, aku akan menemui Kiai Samsul dalam waktu dekat ini. Aku akan memberitahukan tentang pernikahan kita padanya," kata Rain saat mereka selesai makan malam.


"Terserah Kakak saja. Pokoknya aku nggak mau dipoligami! Kalau Kak Rain ingin menikahi Kak Amira, ceraikan aku dulu," ucap Rania langsung pergi.


DEG!


"Sudah aku bilang beberapa kali. Tidak pernah terlintas dalam pikiran aku untuk melakukan poligami," kata Rain sambil memandang Rania yang pergi menjauh.


     Rain pun mengguarkan rambutnya, dia pun beranjak dari meja makan. Baru saja beberapa jam Rania mendiamkan dirinya dan tidak mau menatapnya sudah membuat dia gusar. 


Flashback off.


***


     Rain dan Rania saling beradu pandang. Hal yang Rania tidak sukai saat ini. Jantungnya selalu berdetak cepat dan berasa banyak kupu-kupu di dalam perutnya. Tatapan mata Rain selalu bisa membuatnya tidak berdaya.


"Aku nggak mau di madu," kata Rania tiba-tiba.


"Aku juga tidak mau punya istri lebih dari satu. Berat tanggung jawabnya di hadapan Allah, nanti. Apalagi kalau aku tidak mampu membimbing istriku agar selalu menjadi hamba Allah yang taat," ucap Rain.


"Aku juga belum bisa menjadi seorang hamba Allah yang taat. Masih banyak dosa yang kadang aku lakukan," ucap Rania sambil menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.


     Rain merasa senang saat melihat senyum jahil istrinya. Dia pun menyunggingkan senyuman di bibirnya.


***


    Asiah dan Rayyan sudah baikan kembali. Meski ada rasa kecewa yang dirasakan oleh Rayyan. Namun, dia berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungannya dengan sang istri.


"A, aku buatkan bekal makan siang. Jangan lupa di makan, ya!" Asiah menyerahkan cooler bag pada suaminya.


"Terima kasih, istriku yang cantik," balas Rayyan dan hal ini membuat Asiah tersenyum dan tersipu malu.


      Yusuf dan Zulaikha saling lempar senyum melihat tingkah putri mereka. Mereka senang jika pagi hari melihat ke harmonisan anak dan menantunya itu.


"Yang, sepertinya sebentar lagi rumah kita akan diramaikan oleh suara tangisan bayi," kata Yusuf pada Zulaikha.


"Benar, Ang. Sepertinya tahun depan rumah kita akan semakin bertambah ramai," balas Zulaikha.


"Mama Zulaikha hamil lagi?" tanya Rayyan dan Asiah bersama.


***


Apa Zulaikha akan punya bayi lagi? Apakah Asiah sudah tidak akan buat Rayyan kesal lagi? Bagaimana Rain saat menemui Kiai Samsul, nanti? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu dukung aku terus.


Sambil menunggu Rain dan Rania up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus loh!


Cerita ini lanjutan dari Cerpen "Aku Hamil Anak Mantan Pacarku."


Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima sebuah kenyataan pahit, mengetahui kalau dirinya hamil anak mantan pacarnya. Lebih menyakitkan lagi, Dina mengetahui kehamilannya, disaat Nando telah resmi menikahi wanita lain. Hal itu terjadi disaat malam pengantin Nando dan Mira.


Dina mencoba untuk meminta pertanggung jawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Namun, sebuah tamparan penolakan Dina dapatkan dari Nando. Nando tak mengakui kalau anak itu anaknya dan menuduh Dina bermain dengan pria lain.

__ADS_1


Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Iklhas atau berjuang mendapatkan ayah dari anaknya?



__ADS_2