Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 27. Rain dan Rania Diserang Penjahat


__ADS_3

     Sore hari Rain dan Rania sampai ke rumah Abah dan Ummi. Kedatangan mereka berdua disambut dengan gembira. Abah bahkan sengaja membuat jus jambu merah kesukaan Rania. Tentu ini membuat Rania senang, setelah lelah bekerja memberikan bantuan, dia diberikan minuman yang menyegarkan. 


"Alhamdulillah, terima kasih Abah. Minumannya sungguh nikmat," kata Rania dengan senyum lebarnya.


"Kalian akan menginap di sini?" tanya Ummi sambil membelai kepala Rania.


"Tidak, Ummi. Kita akan pulang selepas isya nanti," jawab Rania sambil memeluk tubuh wanita tua itu. Rania senang sekali bermanja-manja pada keluarganya.


"Cucu, Ummi yang satu ini masih manja," ucap Ummi sambil membalas pelukan Rania.


"Dengar-dengar Ian sudah menikah?" tanya Widuri yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah Ummi.


"Iya, Nek. Kak Ian menikahnya sama teman Nia, loh!" jawab Rania sambil tersenyum geli.


"Wah, benarkah? Raya sudah punya calon istri. Lalu Rain, kamu sudah pasangan juga?" tanya Widuri pada pemuda yang sejak tadi diam mendengarkan.


"Itu, masih dalam masa perkenalan, Nek," jawab Rain.


"Aku kira Kamu dan Nia cocok. Entah kenapa aku merasa ada ikatan kuat di antara kalian berdua? Kalian berdua mungkin berjodoh," kata Widuri lagi sambil tersenyum.


"Kok, Nenek ngomongnya gitu, sih!" Rania memasang muka cemberut. Dia tidak suka lagi-lagi ada yang mendoakan dirinya dengan Rain. Ketiga orang manula di sana tertawa melihat ekspresi Rania.


"Jadi teringat saat Rania lahir. Rain dulu pernah bilang kalau sudah besar akan menjadikan Rania istrinya. Gara-gara Raya mengoloknya waktu itu," ucap Abah.


"Apa?" Rania dan Rain terkejut mendengar cerita masa lalu seperti itu.


"Iya benar. Sampai-sampai Rain nggak mau dibawa pulang karena mau menjaga Rania," lanjut Ummi.


"Itu kan cuma cerita masa lalu yang aku dan Kak Rain nggak ingat sama sekali," ujar Rania.

__ADS_1


     Kebersamaan mereka pun penuh kehangatan dan canda tawa sampai malam hari. Setelah sholat isya berjamaah, Rain dan Rania pun pamit mau pulang kembali ke Jakarta. Kali ini hanya mereka berdua. Truk yang membawa bantuan tadi sudah pulang terlebih dahulu begitu acara pembagian sembako selesai.


***


     Malam ini jalan terasa sangat sepi, tidak ada satu kendaraan pun yang mereka temui. Sampai suatu kejadian tidak terduga menimpa mobil yang dikendarai oleh Rain.


"Kenapa, Kak?" tanya Rania melirik pada pemuda yang sedang memegang setir mobil.


"Kayaknya ban mobil kempis," jawab Rain setelah menepikan mobilnya.


     Rain pun turun dan memeriksa ban mobil. Ternyata dua ban mobilnya kempis dan banyak paku yang menancap di sana.


"Tapi, tidak ada apa-apa 'kan, Kak?" tanya Rania begitu berdiri di dekat Rain. 


"Sepertinya kita harus hati-hati," jawab Rain dan mengarahkan lampu senter yang ada pada handphone ke ban mobil.


"Serahkan harta milik kalian!" Suara laki-laki yang membawa samurai melengking begitu tinggi. Apalagi suasan malam sangat sunyi.


"Ambil saja mobilnya. Cuma ini yang kami punya," kata Rania dengan nggak kalah keras suaranya.


"Bos, bagus nih mobilnya!" kata salah seorang dari mereka.


"Mobil mahal, nih!" Lanjut teman satunya lagi.


"Keluarkan uang dan handphone milik kalian berdua!" perintah orang yang di panggil Bos, oleh kedua rekannya.


"Enak saja minta handphone punya aku, kalau mau besok aku belikan yang baru. Jangan yang ini! Di sini banyak foto aku dan teman-temanku," ujar Rania dengan gayanya yang masih seperti bocah.


'Ah, anak ini. Apa tidak tahu situasi saat ini?' batin Rain menggerutu.

__ADS_1


"Boleh. Tapi, belinya lima, ya? Karena kita ada lima orang," balas laki-laki yang dekat dengan mobil.


'Jadi, masih ada dua komplotan lainnya.' Rain semakin waspada karena masih ada 2 orang musuh lainnya lagi.


"Kok, lima? Kalian kan cuma bertiga," tanya Rania memancing informasi.


"Dua orang lagi sedang bersiap-siap di sana," katanya rekan lainnya sambil menunjuk ke arah semak-semak belukar.


"Iya, kalau kalian memberikan perlawanan, mereka akan muncul dan membereskan target," jelasnya lagi tanpa sadar sudah membongkar informasinya sendiri.


"Baiklah, besok aku beli handphone lima buah. Nanti aku paketkan ke alamat rumah kalian, deh. Mau di satukan atau dipisah-pisahkan langsung aku kirim ke alamat rumah kalian?" tanya Rania sengaja mengulur waktu karena tidak tahu musuh yang orang lagi memegang senjata apa.


"Hei, kalian berdua. Jangan mau dibodohi oleh wanita itu!" bentak laki-laki yang tadi dipanggil Bos.


"Sudah sekarang kita rebut paksa mobilnya!" titah si Bos.


     Kedua orang tadi pun menyerang Rain. Mereka menggunakan samurai untuk menjatuhkan lawan. Tubuh Rain dengan luwes dan bergerak lincah ke sana kemari bisa menghindari serangan lawan. Dia pun bisa melumpuhkan tangan kedua orang itu dan menjatuhkan pedangnya.


Si Bos hendak menjadikan Rania sandera karena Rain jago berkelahi. Ini diluar prediksi mereka. Si bos pun memegang tangan Rania.


"Hei, laki-laki berengsek! Berani-beraninya kamu memegang aku," teriak Rania sambil menendang tulang keringnya lalu membanting tubuh lawannya dengan menggunakan teknik Aikido. Musuh pun langsung tergeletak di aspal jalanan sambil mengerang kesakitan.


Dor!


Beberapa saat kemudian terdengar suara bunyi tembakan dari arah semak-semak yang mengarah kepada Rania. Sebab, posisi dia yang paling dekat dan tidak terhalang oleh apapun.


***


Apakah Rania terkena tembak? Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2