
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 100
Rania mengalungkan tangannya di leher Rain. Dia menatap bola mata milik suaminya yang jernih. Jantungnya bertalu-talu seolah memberikan aba-aba padanya. Rania memiringkan sedikit kepalanya. Lalu, dia menempelkan bibirnya pada bibir milik Rain.
Kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu saling memberikan sentuhan. Sisi liar Rain muncul. Dia terus mencium bibir lembut milik Rania, seakan tidak mau melepaskannya. Kedua tangannya pun memeluk erat tubuh dan kepala istrinya. Hanya terjeda beberapa sekond detik, hanya untuk mengambil napas saja. Rania dibuat tidak berdaya oleh Rain.
"Sudah, Kak," kata Rania dengan lirih dan napas yang memburu karena kehabisan napas.
"I love you, Rania." Rain mencium pipi merona milik istrinya.
"I love you so much," balas Rania malu-malu.
Rain merasa gemas dan ingin melahap bibir merah yang membengkak karena ulahnya itu. Apalagi kerlingan mata Rania yang berbinar penuh cinta itu.
Pintu di ketuk oleh seorang pelayan yang akan mengantarkan makanan. Semua makanan itu adalah kesukaan Rania.
Keduanya pun memakan semua makanan itu sampai habis. Entah kenapa mereka menjadi sangat lapar.
Rain mengelap bumbu yang tertinggal di ujung bibir Rania. Kadang dia juga menguapi istrinya dengan makanan miliknya.
"Nia, Sayang. Malam ini kita menginap di hotel ini, ya," kata Rain.
"Tapi, Nia tidak bawa baju ganti," ucap Rania.
"Ada banyak baju punya Mama di lemari. Mau yang baru belum pernah dipakai juga ada," ujar Rain dan Rania pun mengangguk.
Setelah selesai makan dan berbincang sebentar, Rain dan Rania memutuskan untuk menghabiskan waktu di kamar hotel saja. Keduanya hanya ingin duduk santai sambil menikmati malam bulan purnama yang indah. Sebab, di ruangan itu tidak terlihat bulan.
Saat mereka berjalan di restoran ada seseorang yang menabrak Rania. Untung Rain saat itu berjalan sambil merangkul pinggang istrinya.
"Maaf," ucap laki-laki itu sambil memunduk.
"Pak Baim?" Rania terkejut saat melihat guru magangnya ada di sana.
"Ra-nia?" Senyum Ibrahim langsung mengembang saat melihat gadis pujaan hatinya terlihat sangat begitu cantik malam ini. Dia tidak mempedulikan keberadaan Rain yang berdiri di samping gadis berpostur tubuh tinggi.
__ADS_1
"Sedang apa di sini?" Keduanya bertanya bersamaan. Lalu, mereka pun tertawa.
Hati Rain terasa mendidih. Rasanya dia ingin mencolok kedua mata laki-laki yang terus saja menatap istrinya.
"Aku dan kekasihku sedang menghabiskan waktu bersama," lanjut Rania saat merasakan aura panas dari suaminya.
"Oh. Hati-hati Rani, kamu ini masih kecil. Jangan mudah ditipu dan jangan mau di apa-apakan olehnya. Sebaiknya kamu segera pulang. Apalagi ini sudah malam," ucap Ibrahim.
Rain sudah gereget ingin memaki sang pewaris, putra dari Fathur itu. Dia mau apa-apakan Rania juga tidak masalah. Sebab, mereka sudah menjadi suami istri.
"Sayang," panggil Rain dengan mesra.
"Ya," balas Rania sambil mengarahkan wajahnya.
CUP
Rain mencium lembut bibir Rania di depan umum. Dia ingin memanasi Ibrahim dan sekalian mengkonfirmasi kalau Rania itu miliknya. Sampai kapan pun dia tidak akan melepaskan gadis itu.
Rania membelalakkan matanya. Dia tidak membalas ciuman suaminya. Hanya diam mematung. Dia sadar kalau saat ini ada banyak orang di sana. Tentu saja dia merasa sangat malu.
"Rain … Nia. Pindah ke kamar sana, kalau mau bermesraan! Bikin orang iri saja," titah seorang wanita yang dikenal oleh keduanya.
"Kakak."
Kedua orang yang sedang membuat kegaduhan di restoran saat ini, langsung menghentikan kegiatannya. Mereka sangat terkejut melihat ada Bintang dan Ghazali di sana.
Ibrahim menatap kesal kepada Rain. Rasa cemburu benar-benar menguasai dia. Kalau saja tidak ada orang banyak, dia berani duel untuk mendapatkan Rania.
"Sedang apa di sini?" tanya keduanya bersamaan.
"Mau cek kalian. Apa berjalan lancar makan malam romantisnya? Mama yang meminta aku lakukan ini," ucap Bintang buru-buru sebelum Rain protes.
Pemuda itu mendengus. Lagi-lagi orang tuanya ikut campur urusan asmara dirinya.
"Mama minta aku untuk mengingatkan kamu, jangan sampai melewati batas. Sementara Papa, ingin secepatnya mendengar kabar berita baik dari kamu," bisik Bintang pada adiknya.
"Rain, tahu. Saat ini Rain mau menikmati masa pacaran dengan Nia." Rain menarik Rania agar menempel dengannya.
"Kami semua mendukung kamu dan Nia," bisik Bintang sebelum pergi.
__ADS_1
Warna wajah Rania sudah seperti kepiting rebus. Betapa malunya dia malam ini. Banyak orang yang masih memperhatikan mereka.
"Ayo, Sayang!" ajak Rain dengan lembut. Keduanya berjalan meninggalkan Ibrahim dengan saling merangkul di pinggang.
"Rania duluan, Pak!" teriak Rania sambil berjalan.
***
"Kakak~" suara Rania terdengar oleh Rain yang sedang duduk di sofa sambil menghadap ke luar dan terlihat bulan purnama yang sangat besar.
"Ada apa?" tanya Rain.
"Masa Nia harus pakai baju dinas malam," gerutu Rania.
"Ya, nggak apa-apa. Ini kan juga sudah malam. Dan tidak ada siapa-siapa selain aku," balas Rain sambil meminum jus jeruk.
"Malu~" rengek Rania lagi.
"Tidak perlu malu sama aku, Ya Humaira. Cepat sini! Bulan purnama malam ini indah sekali, loh!" seru Rain tanpa melirik ke belakangnya.
Rania pun berjalan mendekati sofa. Rain yang sedang meminum jus miliknya pun langsung menyemburkan airnya dari mulutnya. Dia melihat Rania memakai lingerie berwarna merah dan memperlihatkan semua bentuk tubuhnya yang sempurna.
"Kakak, kenapa?" Rania mengelap tangan Rain memakai tisu. Rain jadi semakin salah tingkah.
"Astaghfirullahal'adzim, Humaira yang cantik. Kenapa kamu memakai baju yang seperti itu?" Rain tidak bisa mengalihkan perhatian pada tubuh istrinya yang putih, bersih, mulus, dan tanpa cacat.
"Kan sudah Nia bilang tadi, kenapa baju yang di lemari semuanya baju dinas malam," balas Rania sambil menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
"A-ku kira … baju dinas malam itu baju piyama. A-pa … tidak ada baju yang lainnya di sana?" tanya Rain dengan gugup dan mulai merasa panas pada tubuhnya.
"Ada gamis banyak. Tapi kan tidak nyaman, kalau saat tidur pakai gamis," jawab Rania.
Rain bertanya dalam hatinya apakah ini berkah atau musibah untuk dirinya. Dia takut tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya.
"Nia, kamu tidur pakai gamis saja, ya?" lirih Rain.
"Nggak nyaman Kak. Pakai Kaus punya Kak Rain atau punya Papa Alex, saja." Rania pun beranjak dari sana hendak mencari kaus oblong. Namun, kakinya tersandung dan dia pun terjatuh.
***
__ADS_1
Kira-kira Rain kuat iman nggak, ya? Melihat tubuh milik istrinya yang menggoda 🙈🙈 Tunggu kelanjutannya, ya!