
Asiah dan teman-temannya sedang asik bermain. Waktu jam makan siang sudah tiba. Anak-anak yang lain sudah mengantri di kantin sekolah. Sementara Asiah dan si Kembar yang selalu membawa bekal sendiri berdiam di kelas. Asiah sedang menunggu Ayahnya sedangkan si Kembar ingin makan bareng bersama Asiah.
"Ayah ke mana, ya? Kok, belum datang juga," gumam Asiah sambil melirik ke arah pintu.
"Makan, yuk! Sudah lapar, nih." Raihan mengelus perutnya.
Tidak lama datang Baim dan Adam sambil membawa nampan makanan mereka. Dibelakangnya ada Sulaiman yang mengikutinya tapi tidak membawa makanannya.
"Sulaiman, mana makanan milik kamu?" tanya Asiah yang merasa heran melihat temannya tidak membawa apa-apa.
"Makanannya aku nggak suka," jawab Sulaiman.
"Kamu nggak boleh pilih-pilih dalam makanan selagi makanan itu halal dan baik bagi kesehatan," balas Rayyan.
"Iya, kita tidak boleh bilang nggak suka ini ... nggak suka itu. Kasihan yang sudah memasakan buat kita," lanjut Raihan.
Sulaiman menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia itu alergi makanan yang mengandung telur. Kebetulan menu hari ini semua mengandung telur.
"Iya. Lihat nih, aku! Tidak pernah pilih-pilih makanan. Tubuhku besar," ucap Baim dengan bangga dan mengangkat kedua tangannya yang tidak berotot itu..
"Iya, aku juga sama. Makanya aku jadi anak kuat." Adam ikut-ikutan.
Tidak lama datang Salwa membawa nampan yang berisi kentang balado, nasi, dan tempe. Dia juga sama seperti Sulaiman. Alergi telur. Hanya saja reaksi pada tubuh agak berbeda. Kalau Sulaiman reaksinya gatal dan kulit memerah. Sementara Salwa akan bengkak di wajah, jari-jari tangan dan kaki.
"Sulaiman, Bu Hawa mencari kamu barusan. Makanan punya kamu sudah dipisahkan," kata Salwa.
"Kasihan sekali, ya. Ada orang yang tidak bisa menikmati makanan seenak ini!" ujar Baim sambil memakan telur gulung miliknya.
"Iya. Kamu itu tidak tahu mana makanan yang enak dan enggak," ucap Adam sambil melihat ke arah Sulaiman.
Asiah yang merasa kasihan kepada Sulaiman memberikan bekalnya. Ayam goreng, tempe berbumbu, dan sambal tomat.
"Lalu, kamu mau makan apa?" tanya Sulaiman.
__ADS_1
"Tenang, aku akan membagi bekal makan siang aku ini dengan Asiah," jawab Rayyan dan Raihan juga siap memberikan makanan miliknya.
Jadinya, mereka makan bersama di dalam kelas. Asiah makan bekal punya Rayyan dengan catatan menyuapi dia juga. Hal ini malah membuat teman-teman laki-laki yang lainnya ingin juga disuapi olehnya. Asiah jadinya pusing dan kesal. Maka, dia pun marah dan pergi.
"Tuh Asiah jadinya marah," kata Rayyan.
"Iya, gara-gara kalian, sih! Ingin ikut-ikutan di suapi," lanjut Raihan.
"Kamu itu curang! Kenapa hanya kamu yang boleh disuapi olehnya, sedangkan kita tidak boleh!" teriak Adam karena nggak mau disalahkan.
"Iya. Aku juga 'kan mau makan disuapi oleh Asiah," ujar Baim.
"Hei, aku 'kan suaminya Asiah!" balas Rayyan sewot.
"Ini sudah istirahat. Main rumah-rumahan sudah berakhir!" bentak Baim.
"Masa bodo! Asiah punya aku," jelas Rayyan sambil pergi dengan membawa kotak bekalnya dan mencari Asiah.
"Bismillah, dulu!" pinta Rayyan sambil menyodorkan sendok ke depan mulut Asiah.
Kedua bocah itu makan berdua. Namun, kali ini Rayyan yang menyuapi.
"Ayah ke mana, ya?" tanya Asiah.
"Mungkin di kantor sedang banyak pekerjaan," jawab Rayyan.
"Bu Bilqis juga tidak datang," gumam Asiah.
"Eh. Jadi, beneran itu ... kalau Bu Bilqis mau menikah sama Ayah kamu?" tanya Rayyan penasaran.
"Aku tidak tahu. Karena tadi pagi-pagi Ayah dan Mama Zulaikha saling berpelukan. Bahkan beberapa hari kemarin aku rasa melihat mereka ciuman di bibir," jawab Asiah.
"Apa? Ciuman di bibir!" Rayyan memekik karena terkejut. Asiah mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begini, Mama Zulaikha yang akan menjadi istri Ayah kamu," lanjut Rayyan.
"Lalu, Bu Bilqis?" tanya Asiah balik.
Kedua bocah itu terdiam. Dunia orang dewasa itu rumit. Nggak sampai pikirannya sama otak mereka.
***
Setelah sholat Dhuhur berjamaah dan berbincang dengan imam yang bertanggung jawab di mesjid milik perusahaan. Yusuf merasa agak tenang hatinya. Dia tadi membicarakan tentang dua wanita yang belakangan ini selalu ada dalam pikirannya.
Yusuf juga berpikir apa yang menurut kita baik belum tentu itu adalah yang terbaik buat kita. Dia berpikir kalau Bilqis 'lah wanita terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, hasil istiharah mencondongkan hati dia ke Zulaikha.
"Mungkin ada sebab kenapa Anda berjodoh dengannya. Bisa saja Zulaikha itu adalah ladang bagi Pak Yusuf untuk meraih banyak pahala karena membimbing dia agar menjadi seorang muslimah sholeha. Menjadikannya istri dan ibu yang terbaik kelak." Kata-kata Ustadz Zulkifli masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.
"Setidaknya aku harus bersabar sampai waktu itu tiba. Dia itu belum matang. Kelakuannya juga tidak beda jauh dari Asiah," gumam Yusuf sangat pelan, sambil berjalan ke arah mobilnya.
"Mau ke sekolahan Asiah, Pak Yusuf!" seru salah seorang bawahannya.
"Iya. Ini sudah terlambat," balas Yusuf sambil melihat sekilas jam di tangannya.
Karyawan itu pun berlalu dan Yusuf melanjutan lagi perjalanannya menuju parkiran. Saat Yusuf berjalan ada sebuah motor melaju dengan sangat kencang dan menabrak tubuh Yusuf sampai terpental jauh dan berguling-guling. Banyak darah keluar dari kepala Yusuf dan dia tidak sadarkan diri.
Kebetulan di sana tidak ada siapa-siapa. Tidak ada saksi mata yang menyaksikan itu.
***
Zulaikha mendapat kabar dari Sarah kalau Yusuf mengalami kecelakaan dan kini sudah dibawa ke rumah sakit. Tubuh gadis itu bergetar hebat dan jatuh terduduk di lantai kakinya tidak mampu menopang berat badannya. Apa yang dulu di takutkan olehnya terjadi sekarang.
"Ada apa?" tanya Yunus sambil membangunkan tubuh nona mudanya itu.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1