
Saat di kantin Asiah dan Sulaiman pun selalu makan bersama. Sebab, Rayyan sudah pergi ke kantor. Tidak ada teman-teman Asiah atau dosen rekan kerja Rayyan yang tahu kalau mereka adalah pasangan suami istri.
"Kenapa Raya jadi melarang kamu berteman dengan orang lain?" tanya Sulaiman.
"Raya itu selalu menilai buruk orang lain. Melihat ada yang tidak disukai olehnya dari orang itu, langsung melarang aku berteman dengannya. Dengan alasan akan memberikan pengaruh buruk kepadaku," jawab Asiah.
"Seharusnya Raya tidak boleh begitu. Kamu berhak berteman dengan siapa saja. Aku yakin kalau kamu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku juga berteman dengan siapa pun tidak melihat latar belakang status, warga negara, rasa, maupun agama orang lain. Kita juga punya sisi buruk yang bisa saja dilihat oleh orang lain," ujar Sulaiman.
"Iya, aku juga sudah bilang begitu. Saat aku berada di London pun, aku bilang pada teman-teman kalau aku tidak makan dan minum yang mengandung alkohol atau babi. Maupun makanan yang diharamkan bagi seorang muslim. Dan mereka pun tidak pernah mengajak aku makan di tempat-tempat seperti itu. Mereka juga tidak mengajak aku ke klub malam atau bar saat aku menjelaskan kepada mereka pas pertama kali mengajak pergi ke sana. Mereka juga memahami itu dan tidak pernah memaksa aku ikut mereka." Asiah mengaduk-aduk jus jambu merah. Minuman kesukaan suaminya yang kini sudah menjadi minuman favoritnya juga.
"Raya itu terlalu overprotektif sama kamu," ucap Sulaiman.
"Ya, dan itu membuat aku sulit bergerak bebas," balas Asiah.
"Seolah dia itu tidak percaya kepadamu," kata Sulaiman lagi.
"Ya. Dia meragukan diriku, bahkan menilai aku tidak baik. Seolah semua yang diajarkan oleh Ayah dan semua orang itu percuma bagi diriku. Aku rindu Raya yang dulu," tutur Asiah dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah, kamu jangan bersedih begitu. Mungkin dia sedang lelah karena terlalu banyak pekerjaan dan kamu kena imbasnya," ujar Sulaiman.
"Kena omelannya! Sungguh kekanak-kanakan, melampiaskan kekesalan pada istrinya," pungkas Asiah lalu meminum habis jus jambu itu.
"Daripada pusing memikirkan Raya, mending kita video call sama teman-teman kita dulu. Salwa juga ada di grup ini," kata Sulaiman.
"Boleh aku masuk grupnya?" tanya Asiah.
"Tentu saja boleh. Mereka juga pasti akan senang," tukas Sulaiman dengan senyum manisnya.
"Terima kasih," ucap Asiah dan tanpa sadar memeluk Sulaiman saking senangnya. Hal ini membuat Sulaiman malu sekaligus senang.
***
Waktu makan siang pun berjalan dengan dengan cepat. Rayyan yang sibuk dengan pekerjaannya tidak sempat makan siang. Untungnya ada Mentari yang datang memantau ke sana, sehingga dia dibawakan makanan.
"Bagaimana kabar Asiah? Sudah agak lama dia tidak main ke rumah Bunda," tanya Mentari.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik, Bun. Mungkin sibuk dengan tugas kampus, sehingga tidak sempat main ke rumah Bunda," jawab Rayyan. Padahal dia sangat terkejut dengan informasi ini. Sebab, yang dia tahu tiga hari belakangan ini istrinya tidak ada di rumah.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Kamu jangan lembur Raya, kasih waktu untuk Asiah juga. Dia itu butuh dirimu. Seorang istri akan merasa tenang dan nyaman jika dekat dengan suaminya. Kalian harus perbanyak komunikasi, saling berbagi, saling memahami, dan jangan egois. Kalau terjadi perselisihan di antara kalian, bicarakan dengan kepala dingin dan jangan adu urat saraf. Kalau kalian sama-sama dalam keadaan marah, lebih baik menghindari pembicaraan itu dan diam untuk sementara waktu itu lebih baik. Ayah sama Bunda hanya bisa mendoakan kebaikan dalam rumah tangga kalian," ucap Mentari.
"Iya, Bun. Terima kasih, selalu mengingatkan Raya. Dan Raya pun akan melakukan yang terbaik untuk rumah tangga Raya dan Asiah," balas Rayyan.
"Sudah habis makanannya?" tanya Mentari saat melihat putranya membereskan tempat makan yang dia bawa tadi.
"Alhamdulillah, sudah, Bun. Terima kasih, nikmat sekali masakan Bunda, jadi semangat lagi mau menyelesaikan sisa pekerjaan ini," kata Rayyan sambil tersenyum lebar.
"Ya, sudah. Bunda pulang dulu, Rasyid dan Raffatar mau berangkat lagi ke pesantren. Dua bocah itu selalu kabur dari pondok secara diam-diam," keluh Mentari lalu mencium kening Rayyan.
"Makanya kirim ke pesantren yang jauh, biar tidak bisa kabur, Bun," kata Rayyan sambil tertawa kecil.
"Benar juga, Bunda bicarakan sama Ayah dulu. Mumpung ajaran tahun baru," balas Mentari tersenyum tipis.
***
Alin, Rania, dan Chelsea hendak pulang sekolah. Katanya pasangan mereka mau menjemput, jadi mereka akan menunggu di depan gerbang sekolah agar bisa langsung kelihatan.
"Maaf," kata laki-laki itu.
"Dilarang berlarian di saat banyak orang, bahaya!" teriak Alin.
Laki-laki itu menatap Rania dengan intens karena merasa tidak asing. Jantungnya kembali berdebar kencang saat kedua netra mereka saling beradu.
"Nia, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Chelsea sambil melihat keadaan Rania.
"Hn, aku tidak apa-apa," jawab Rania.
'Nia? Ternyata dia adalah gadis cantik yang ada di pesta itu! Dia masih seorang OSIS?' batin laki-laki itu bersorak senang.
"Sekali lagi aku minta maaf, sungguh aku tidak sengaja. Kenalkan aku Ibrahim, panggil saja Baim," kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Rania.
"Salam kenal. Saya Rania," balas Rania sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Ibrahim yang terpesona akan senyum simpul Rania, hanya diam tanpa berkedip. Sampai Ketiga gadis itu pamit undur diri.
"Senang bisa berjumpa lagi dengan kamu, Nia!" teriak Ibrahim dengan senyum lebarnya karena Rania sudah menjauh.
"Siapa dia? Apa kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Alin penasaran.
"Entahlah, aku merasa tidak kenal padanya," jawab Rania.
"Nia, dia masih memperhatikan kamu, kayaknya. Tuh masih mematung di sana!" bisik Chelsea yang membalikan kepalanya dan melihat Ibrahim masih di tempat tadi.
"Masa!" Alin dan Rania pun ikut melihat kebelakang dan benar saja laki-laki itu masih di sana.
"Jangan-jangan dia laki-laki hidung belang yang suka mengincar gadis muda kayak kita-kita!" pekik Alin parno akan yang namanya laki-laki yang suka mengincar gadis cantik.
"Ih, kamu nakut-nakutin saja," ucap Chelsea sambil menggosok kedua lengannya. Sebab, dia merasa belakangan ini sering merasa ada yang mengawasi dirinya.
"Kamu harus bilang sama Kak Rain kalau ada laki-laki aneh yang memperhatikan kamu terus," ujar Alin.
"Kenapa? Belum tentu dia itu jahat. Sepertinya dia merasa sudah pernah bertemu dengan aku. Mungkin dia sedang memastikan saja, apa aku ini orang yang dia kenal atau bukan. Kita tidak boleh su'udzon kepada orang lain," ucap Rania.
"Kamu itu terlalu baik sama orang. Bagaimana jika laki-laki itu punya niat jahat kepada kamu?" Alin merasa kesal pada adik iparnya ini.
"Ya, aku lawan saja dia, jika berani macam-macam padaku," balas Rania sambil duduk di tembok semen berbentuk bangku panjang tempat murid-murid menunggu jemputan mereka di depan pagar sekolah.
"Kalau aku pasti akan bilang sama Kak Ian. Kalau ada apa-apa padaku, dia akan langsung tahu," ucap Alin dengan bibirnya yang manyun. Membuat Rania dan Chelsea tertawa.
'Apa Kak Rain juga akan mencemaskan aku, jika aku bilang ada laki-laki aneh yang memperhatikan aku?' tanya Rania dalam hatinya.
***
Bagaimana reaksi Rain saat tahu ada laki-laki yang mengincar Rania karena sudah jatuh hati padanya? Akankah Asiah dan Rayyan bisa satu pemikiran dan satu tujuan? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku. Ceritanya bagus, loh.
__ADS_1