
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga urusan kalian juga dimudahkan.
***
Bab 119
"Siapa? Perempuan?" tanya Alin malas.
"Kok, kamu tahu?" Raihan balik bertanya.
Alin langsung memalingkan wajahnya. Dia menahan sakit di dadanya, makanan pun terasa sulit di telan. Air putih di gelas langsung tandas dia minum dalam satu tarikan napas.
"Aku ke toilet dulu, Kak," ucap Alin langsung pergi.
"Begitu saja marah. Dia berkali-kali membuat aku tersiksa, biasa saja merasa tidak bersalah," gerutu Raihan.
Sudah lebih dari 30 menit Alin pergi ke toilet, tetapi belum kembali juga. Raihan akhirnya menyusul karena merasa cemas.
Betapa kesalnya Raihan saat melihat Alin malah duduk bersama Akbar dan kedua temannya. Dia pun langsung menghampiri Alin.
"Alin," panggil Raihan dengan roman wajah yang tidak bersahabat.
"Kak, ternyata teman-teman aku sedang mengadakan pesta perpisahan di sini. Ikut gabung sini!" ajak Alin dengan senyum sumringah.
"Kamu saja deh yang ikut, aku mau pergi," balas Raihan kesal dan pergi meninggalkan Alin.
"Teman-teman aku pergi duluan, ya!" pamit Alin dan langsung berlari menyusul suaminya.
Alin berhasil menyusul Raihan saat masuk ke dalam lift. Raihan pura-pura tidak mempedulikan keberadaan Alin. Padahal dalam hatinya dia senang karena Alin lebih memilih dirinya dibandingkan teman-temannya.
Sementara itu, Alin malu-malu saat tangan dia menyentuh jemari Raihan. Lalu, menautkan jari-jari mereka dan menggenggamnya.
"I love you, Raihan." Alin mencoba meluluhkan hati suaminya agar tidak marah lagi.
Kedua pasangan itu saling menatap. Alin mana bisa mencium duluan, jika posisi seperti saat ini. Itu dikarenakan tubuh Raihan jauh lebih tinggi dari dirinya.
Tidak ada balasan dari Raihan, membuat Alin sedih. Dia pun melepaskan tautan jemarinya.
Begitu lift terbuka, Raihan langsung menggendong Alin dengan cara bridal style. Hal ini membuat Alin memekik karena terkejut. Dia pun langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Raihan.
"Kak Ian," panggil Alin sambil menatap suaminya yang diam saja dan berjalan dengan cepat.
Raihan membawa Alin ke sebuah kamar tipe presidential suite hotel. Begitu pintu tertutup dia mencium bibir Alin dengan lembut dan mesra.
"I love you too, honey," bisik Raihan begitu ciumannya terlepas.
__ADS_1
Mendengar ucapan suaminya itu membuat Alin senang. Dia pun memberikan balasan pada suaminya.
"Malam ini harus jadi, tidak boleh gagal lagi," kata Raihan sambil menggendong Alin.
"Ya. Aku janji nggak akan kabur lagi. Kakak juga janji tidak akan selingkuh atau menduakan cinta untukku," ujar Alin.
"Hanya kamu yang aku cintai," bisik Raihan mesra.
"Aku juga. Hanya Kakak yang aku cintai," balas Alin dengan berbisik.
"Kita sholat sunah dulu," ajak Raihan.
"Iya," sahut Alin.
***
Asiah meminta Rayyan untuk mengusap-usap punggungnya yang terasa pegal dan panas. Hal ini dilakukan sampai Asiah tertidur, setelah itu baru boleh berhenti.
"Ya Allah, semoga saat kelahiran nanti semua berjalan lancar dan semuanya dalam keadaan sehat dan selamat." Rayyan berdoa dengan lirih.
Rayyan mencium kening Asiah dengan penuh rasa sayang. Lalu, dia pergi ke kamar sebelah yang sudah di rancang untuk bayi mereka nanti. Dia memeriksa tas perlengkapan bayi yang buat jaga-jaga jika Asiah nanti tiba-tiba ingin melahirkan.
"Istriku memang telaten dan cekatan. Semua sudah disiapkan dengan baik. Ini apa?" Rayyan membuka satu kotak yang ternyata berisi figura foto bunda Aisah.
"Semoga Allah menempatkan bunda di tempat terbaik di sisi-Nya," lirih Rayyan mendoakan almarhumah ibu mertuanya.
Rayyan tidak suka mengandalkan orang lain, meski ada pelayan yang pasti mengunci pintu sebelum mereka tidur. Kebiasaan Rayyan ini menurun dari Fatih. Merasa belum tenang jika tidak memastikan sendiri semua sudah terkunci.
***
Setelah memastikan Rania tidur dengan nyenyak, Rain membuka laptopnya. Dia memeriksa laporan milik perusahaan yang dibawah naungannya.
"Kak," panggil Rania.
"Ya, ada apa?" tanya Rain mengusap kepala istrinya.
"Peluk," ucap Rania.
Mau tidak mau Rain pun menyimpan kembali laptopnya. Padahal baru 30 menit dia mengerjakan tugasnya. Maka, Rain pun tidur memeluk Rania. Belakangan ini Rania sangat manja sekali dan agresif, tetapi Rain sangat menyukainya.
Saat tengah malam ada telepon masuk ke handphone Rain. Tangannya pun terjulur mengambil handphone.
"Ada apa?" tanya Rain setelah memberi salam kepada si penelepon.
"…."
__ADS_1
"Aku tidak mau berjauhan dengan Nia. Meski satu hari pun!" balas Rain.
"...."
"Mau dibayar saham lima persen … sepuluh persen. Tetap tidak mau," tolak Rain kepada si penelepon.
"...."
"Jangan macam-macam, Kak. Aku bisa melakukan hal yang sama," balas Rain.
"...."
"Ya Allah, Kak. Bisa nggak kalian berdua menjauh dari mama, selama dua sampai tiga tahun. Kalian itu sudah dewasa. Tapi, nggak mau jauh dari mama. Sebaiknya kalian cepat cari istri!" teriak Rain yang pusing sama kelakuan kedua kakak kembarnya.
Rain pun menutup panggilan itu. Lalu, meletakkan kembali handphone miliknya di atas nakas.
"Kak Rain, mau mencari istri lagi?" tanya Rania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Astaghfirullahal'adzim. Tidak, Nia Sayang. Bukan aku yang mencari istri. Itu tadi kak Shine dan Sky sedang bertengkar rebutan mau ajak mama pergi ke Eropa atau Asia. Mereka itu sudah dewasa, tapi kelakuannya masih kayak bocah. Mereka itu tidak bisa jauh dari mama. Kadang mama sendiri juga pusing oleh kelakuan mereka," jawab Rain.
"Ya, tinggal giliran saja berangkatnya," ucap Rania.
"Mereka punya jadwal di waktu yang bersamaan. Tadi mereka meminta bantuan aku untuk menggantikan mereka. Ya, aku tidak mau. Aku juga tidak mau jauh dari dirimu," kata Rain mengatakan isi pembicaraan di telepon tadi.
"Aku juga tidak mau di tinggalkan oleh Kakak," ucap Rania sambil memeluk tubuh suaminya.
***
Raihan dan Alin baru saja menyelesaikan ibadah untuk menyempurnakan menjadi suami istri. Raihan tidak kuat jika harus menunggu usia Alin 19 tahun apalagi 21 tahun. Dia tidak akan bilang sama ayah mertuanya kalau mereka sudah melakukan ini.
"Sayang, kita mandi dulu, ya? Aku ajarkan cara-cara mandi junub," kata Raihan sambil membelai kepala Alin.
"Hn," balas Alin dengan senyum malu-malu dan bikin Raihan gemas.
"Kamu jangan bilang sama Ayah Abi dan Bunda Aruna, ya? Kalau kita sudah melakukan ini," ucap Raihan.
"Hn, Alin juga malu kalau sampai ada yang tahu. Kakak juga jangan bilang siapa-siapa, ya?" pinta Alin.
"Iya, tentu saja. Ini akan jadi rahasia kita berdua," balas Raihan.
Malam ini menjadi malam bersejarah bagi Raihan dan Alin. Setelah menikah satu tahun lebih bahkan hampir dua tahun mereka menikah, akhirnya mereka bisa menyempurnakan mahligai rumah tangga mereka.
***
Akhirnya Raihan dan Alin bisa menyempurnakan kehidupan rumah tangga mereka sebagai suami istri. Akankah Abimanyu tahu akan hal ini? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up Rain dan Rania bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Bagus loh ceritanya, meluncur deh ke karyanya.