
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 127
Rania bingung antara mau jujur atau pilih diam. Namun, dia tidak bisa berbohong lebih lama kepada laki-laki yang dicintainya ini.
"Ini nyata dan setiap Kak Rain tidur di rumah Ayah, sebenarnya itu juga nyata bukan mimpi," aku Rania jujur.
"A-pa? Jadi … itu semua adalah nyata?" tanya Rain.
"I-ya," lirih Rania sambil menundukkan kepala.
Rain bingung harus berekspresi seperti apa sekarang. Antara senang, kesal, dan kecewa. Ternyata dia menyentuh istrinya bukan jin atau setan yang menjelma menjadi Rania.
"Oh, Sayang. Apa kamu tahu? Aku serasa menjadi orang gila yang sangat tertekan akan perasaan rindu yang teramat sangat kepada dirimu. Bahkan aku tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan jika sedang bersama dirimu," kata Rain.
"Maafkan aku, Kak," ucap Rania dan seperti biasa dia akan malu-malu saat menyentuh ujung jari Rain.
Rain pun menautkan jari jemari mereka. Diangkatnya dagu Rania dan ditatapnya dengan tajam.
"Sepertinya kamu harus menerima hukuman karena sudah melakukan kejahatan kepada suami," bisik Rain.
"Jangan laporkan Nia ke polisi, Kak!" pinta Rania dengan polos salah mengartikan hukuman dari Rain.
"Kamu pantas dipenjara, Nia," bisik Rain di telinga Rania.
***
Rain membawa Rania ke hotel tempatnya menginap. Dia memenjarakan Rania di sana. Keduanya melepaskan rasa rindu dengan bercinta dan berharap mereka akan punya keturunan. Saling memberikan yang terbaik bagi pasangannya dan alunan-alunan melodi indah mengantarkan mereka ke surga dunia.
"Nia, aku ingin punya anak. Raya dan Ian sudah punya dua anak masing-masing. Apalagi sekarang Alin dan Asiah sedang hamil lagi," kata Rain sambil membetulkan anak rambut di kening Rania yang basah oleh keringat.
"Kak Rain ingin punya anak berapa?" tanya Rania malu-malu.
"Hmm, terserah di kasih sama Allah berapa. Mau lima atau enam orang anak juga tidak apa-apa," ucap Rain.
"Hah! Nia harus rajin hamil, dong?" Wajah Rania sudah seperti kepiting rebus membayangkan dirinya hamil sampai lima atau enam kali.
"Kalau hamilnya anak kembar tiga, dua kali hamil juga sudah punya enam anak. Atau seperti mama dan kak Bintang. Kembar tiga, kembar dua, dan yang bungsu satu," tukas Rain sambil tersenyum jahil pada istrinya.
"Kalau kembar tiga, bisa-bisa Nia pusing dan kelelahan apalagi jika anak-anak itu seperti anak kembar mommy Bintang, yang tidak mau diam dan hiperaktif. Sampai-sampai di pesantrenkan ke Madinah agar tidak mudah kabur," kata Rania sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Mereka kini jadi anak-anak yang sholeh dan cerdas, loh!" puji Rain.
"Iya, tapi kalau mengingat kembali kejahilan mereka sering membuat aku dan Chelsea menangis," balas Rania mengingat masa kecilnya dulu selalu kalah sama bocil-bocil.
"Ya sudah, pokoknya tahun ini aku ingin mendengar kabar kalau istri kesayangan aku ini hamil. Mau kembar tiga, kembar dua, atau tidak kembar. Aku akan rajin menanam benih sampai ada kabar gembira itu," bisik Rain dan membuat Rania menutup wajahnya karena malu.
"Tapi, koas yang Nia ikuti belum selesai," aku Rania dan itu yang membuat dirinya agak cemas.
"Aku akan minta saat kamu hamil nanti jangan dikasih tugas malam," kata Rain.
"Tidak boleh seperti itu, Kak. Nia tidak mau mendapatkan perlakuan istimewa, itu malah akan mengundang kecemburuan dari teman-teman yang lain," balas Rania.
"Lalu, bagaimana?" tanya Rain.
"Ya, doakan saja agar Nia kuat menjalani semuanya. Hamil dan koas bisa berjalan lancar," jawab Rania.
"Semakin dewasa istriku ini. Jadi, semakin cinta, deh," ucap Rain dan mengecup kening Rania.
"Nia juga semakin cinta sama Kak Rain," balas Rania.
***
Rania dan Rain pun pulang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Chelsea dan Mega. Semua keluarga besar Erlangga datang dan berkumpul bersama.
"Hahaha, benar juga, ya. Keponakan aku menjadi besan aku," ucap Erlangga.
"Kalau begitu aku jadi apa?" tanya Cantika.
"Lucu kamu, Kak Cantika. Erlangga adik, Angkasa anak sulung, Mega keponakan, Chelsea cucu. Jadi tidak tahu apa panggilan yang cocok untuk Kakak," ucap Mentari sambil terus tertawa.
"Kamu juga sama, adik sepupu dan besan merangkap. Belum lagi jika ditarik dari garis keluarga Green, posisi aku jadi adik sepupu kamu," lanjut Cantika yang pusing dengan pohon keluarga jika dilihat dari silsilah.
"Ini, masih mending. Dulu, aku pernah menjadi nenek kamu, Kak Cantika," ujar Mentari sambil tertawa terkekeh.
"Ah, benar. Saat kamu jadi istrinya kakek Willi, posisi kamu jadi nenek kami," balas Cantika tertawa terkekeh.
"Pusing juga kalau kita lihat pohon silsilah keluarga. Bintang keponakan aku berubah menjadi adik ipar," lanjut Mentari.
Pesta pernikahan Mega dan Chelsea berjalan meriah. Banyak tamu undangan yang datang ke ballroom hotel.
Wajah kebahagiaan terpancar dari wajah Chelsea dan Mega. Akhirnya mereka sudah sah menjadi suami istri. Tidak perlu backstreet lagi.
"Apa kamu bahagia, Ben?" bisik Mega pada Chelsea.
__ADS_1
"Tentu saja, Ayang. Ini adalah hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Bisa menjadi istri kamu," balas Chelsea.
"Kamu jangan KB, ya! Aku ingin langsung punya anak," ucap Mega.
"Siap!" balas Chelsea dengan senyum cantiknya.
"Kalau sekarang aku boleh mencium kamu, 'kan?" bisik Chelsea.
"Nanti saja, saat kita berduaan saja. Malu sama orang lain," balas Mega.
***
Rain malah senang tinggal di Yogyakarta. Dia tinggal di apartemen milik Rania. Pekerjaan dia lakukan secara jarak jauh. Tentu saja Adnan dan Adiba yang dibuat sibuk oleh Rain. Sementara Rain sendiri, bersenang-senang dengan Rania. Serasa berbulan madu kembali.
Pagi-pagi biasanya Rania selalu olahraga pagi, tetapi hari ini dia malah tiduran sambil memeluk tubuh Rain. Dia sangat suka memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Ya Humaira, kita pergi ke dokter kandungan, yuk!" ajak Rain.
"Mau apa?" tanya Rania masih dengan setia menciumi tengkuk suaminya.
"Ya, mungkin saja kamu hamil," jawab Rain.
"Eh, sekarang tanggal berapa, ya?" tanya Rania.
"Tanggal dua puluh," jawab Rain.
"Ahk, aku terlambat datang bulan sepertinya," pekik Rania sambil duduk dan memegang kepalanya.
"Kita periksa, yuk!" ajak Rain dan Rania pun mengangguk.
***
"Selamat Dokter Rania, Anda sedang hamil enam Minggu," kata dokter kandungan di rumah sakit tempat Rania menjalani koas-nya.
"Alhamdulillah," kata Rain dan Rania bersamaan.
"Kak, akhirnya Allah kembali memberikan kepercayaan lagi kepada kita untuk punya anak," Rania memeluk leher Rain yang berdiri di samping brankar pasien di mana saat ini Rania sedang berbaring karena baru saja melakukan USG untuk melihat berapa usia janin dalam perutnya.
"Iya, Sayang. Kita harus memberi tahu kepada keluarga kita," ujar Rain saking senangnya dia.
***
Bagaimana kisah Rania yang sedang hamil muda? Apakah dia akan ngidam yang aneh-aneh? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1