Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 99. Anniversary Pernikahan ke-1


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia.


***


BAB 99


     Cuaca malam ini mendukung Rain. Tidak ada hujan, justru terlihat bulan purnama yang cantik. Hal ini mengingatkan Rain satu tahun lalu. Saat itu juga malam bulan purnama. Tiba-tiba hati dia tergelitik karena gara-gara serangga entah apa namanya masuk ke baju Rania. Mereka berdua dinikahkan.


"Ada apa, Kak?" tanya Rania mengerutkan alisnya karena melihat suaminya tiba-tiba saja tersenyum.


"Aku teringat sesuatu yang lucu saja," jawab Rain sekilas melihat ke arah Rania karena dia sedang menyetir.


     Mobil Ferrari keluaran terbaru itu pun memasuki Hotel Artemis. Ya, Rain memilih hotel milik keluarganya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Dia ingin sekalian menginap di sini.


      Rain berjalan sambil merangkulkan tangannya di pinggang Rania. Kedua orang itu pun saling senyum bahagia semenjak turun dari mobil. Rain yang memperlakukan Rania dengan gentle, membuat gadis itu senang.


      Saat memasuki lobi hotel tanpa sengaja kedua orang itu berpapasan dengan orang yang mereka kenal. Betapa terkejutnya Rain dan Rania.


"Rain … Rania," panggil seorang perempuan.


"Aminah?" balas Rain dan Rania bersamaan saat mendengar suara yang tidak asing bagi mereka.


"Ho, saat Kak Amira terbaring sekarat, kalian malah bersenang-senang," ucap Aminah sinis.


"Kak Amira sakit? Apa parah sampai tadi kamu bilang sekarat?" tanya Rania terkejut.


"Ya, Kak Amira sakit parah bahkan sampai sekarang pun belum sadarkan diri," jawab Aminah. 


     Melihat sorot mata yang sedang marah dan benci itu, menyadarkan Rania kalau tatapan Aminah itu ditujukan padanya. Walau dia tidak tahu ada apa sebenarnya yang sudah terjadi.


"Tadi, aku bertemu dengan Aminah di rumah sakit. Sekalian menjenguk Kak Amira. Kata Kiai Samsul sakit yang diderita oleh Kak Amira itu karena kelelahan sudah bekerja di dua rumah sakit sebagai spesialis anak," lanjut Rain.


"Kok, Kak Rain tidak memberi tahu aku kalau Kak Amira sedang sakit," kata Rania dengan nada kecewa.


"Itu karena aku juga baru tahu sore. Kapan-kapan nanti kita jenguk Kak Amira," balas Rain.

__ADS_1


"Kak Amira dirawat di mana?" tanya Rania.


"Di Rumah Sakit Harapan. Tidak jauh dari hotel ini," jawab Aminah dengan menunjuk puncak sebuah bangunan yang lumayan jauh sebenarnya. Namun, dibandingkan dengan hotel lainnya, Hotel Artemis adalah yang paling dekat dengan rumah sakit itu.


"Kak, besok kita jenguk Kak Amira, yuk!" ajak Rania dan diangguki oleh Rain.


 "Kalau begitu saya permisi dahulu," kata   Aminah.


"Semua ini gara-gara kamu!" bisik Aminah saat melewati Rania. Dia bicara dengan sangat pelan berharap hanya Rania saja yang mendengarnya. 


     Bola mata Rania membesar dan wajahnya jadi kaku. Betapa terkejutnya dia saat mendengar ucapan Aminah barusan. Awalnya Rania tidak mengerti, tetapi otaknya langsung menangkap kalau dirinya adalah penyebab Amira sakit bahkan sampai tidak sadarkan diri.


"Jangan dengarkan dia," kata Rain dengan lembut sambil menangkup wajah istrinya.


"Tapi, Kak …."


"Jika kamu percaya kalau Allah adalah yang sudah membuat takdir semua makhluknya. Maka, yakinlah kalau Kak Amira sakit itu sudah kehendak Allah," ucap Rain sambil menatap mata Rania yang jernih.


"Tapi, semua itu pasti ada sebabnya. Dan akulah penyebab itu," balas Rania dengan lirih.


"Kak—" mulut Rania ditutup oleh jari telunjuk Rain.


"Jangan salahkan dirimu. Karena kamu tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan apalagi berbuat jahat pada orang lain," kata Rain dan menarik Rania pada pelukannya.


***


     Rain pun mengajak ke restoran di ruang privat. Semua dindingnya terbuat dari kaca. Kita bisa melihat dari dalam ke luar. Sementara sebaliknya, jika yang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. 


     Hati Rania meleleh saat melihat tulisan besar di dinding kaca. "Anniversary ke-1 Pernikahan Rain & Rania". Ruangan itu juga di dekorasi dengan sangat indah dan dihias dengan lampu-lampu yang membuat suasana ruangan itu seperti di dunia lain. Ada satu meja dan dua kursi di dekat kaca yang mengarah ke luar gedung.


"Kak, ini …." Mata Rania menitikan air mata bahagia. Tidak terasa kalau mereka sudah menikah selama satu tahun. Rania merasa kejadian itu baru beberapa bulan yang lalu.


"Apa kamu suka?" tanya Rain dengan suaranya yang lembut dan tatapan hangatnya.


"Suka … suka! Terima kasih. Jujur Nia tidak ingat kalau hari ini adalah anniversary pernikahan kita," jawab Rania malu-malu.

__ADS_1


"Apa? Kamu tidak ingat tanggal pernikahan kita?" tanya Rain dengan sedikit nada kecewa.


"I-ya. Tapi Nia tidak lupa tanggal ulang tahun Kak Rain," jawab Rania jujur.


"Selain tanggal ulang tahun aku, apalagi yang kamu ingat tentang hari dan tanggal spesial dalam hubungan kita?" tanya Rain.


"Hari pertama kali kita melakukan ciuman pertama. Waktu itu hari Minggu, tanggal …." jawab Rania dengan malu-malu. 


     Bukan hanya Rania yang merasa malu, Rain juga mukanya kini memerah. Dia tidak menyangka kalau ciuman pertamanya dilakukan di depan orang lain.


"Rania Ghania Nurul Hakim, maukah kamu menghabiskan sisa umur kamu bersama denganku dan mengharapkan Rahmat dan Ridho-Nya?" tanya Rain dengan suara yang lembut tapi, seakan menuntut pada istrinya.


      Perasaan Rania sekarang campur aduk. Bahagia karena laki-laki yang dingin itu berharap dirinya selalu setia bersama dengannya. Senang karena dia melihat kesungguhan dari pancaran matanya. Terharu karena dia merasa menjadi perempuan yang berarti dalam hidup Rain. Terkejut karena dia tidak menyangka kalau suaminya itu bisa mengucapkan kata-kata seperti ini.


"Ma-u," jawab Rania sambil mengangguk dan air mata kembali jatuh ke pipinya yang ranum. Ini adalah air mata kebahagiaan.


"Aku, Rain Alvan Abdulmalik Andersson mencintai Rania Ghania Nurul Hakim karena Allah," sambung Rain dengan senyum tampan tercipta dari bibirnya yang merah alami.


"Aku, Rania Ghania Nurul Hakim ridho menjadi istri dari Rain Alvan Abdulmalik Andersson yang akan selalu setia bersama dengannya dan mengharapkan Karunia dan Ridho-Nya," balas Rania dengan sungguh-sungguh.


     Rain pun menangkup kepala istrinya dengan kedua tangannya. Lalu, membacakan doa untuk Rania, kemudian mencium keningnya agak lama.


     Sementara itu, Rania meletakan kedua tangannya di sisi pinggang Rain. Dia memejamkan matanya. Menikmati saat ini, melupakan semua hal lainnya. Seakan dunia ini hanya penuh kebahagiaan untuknya.


"Untuk hadiahnya, besok saja aku kasih karena sulit sekali dibawanya ke sini," kata Rain.


"Maafkan Nia, Kak. Nia belum siapkan kadonya. Apa boleh di utang dulu?" tanya Rania.


"Ya Humaira, masa kado di utang? Ganti saja sama yang lainnya. Apa yang kira-kira kamu bisa berikan untukku?" Rain menatap penuh harap pada Rania.


"Apa misalnya? Kalau Nia punya dan mampu memberikan. Maka, akan Nia kasih sekarang juga," tanya Rania dengan wajahnya yang polos dan penuh tanda tanya.


Rain pun membisikan sesuatu. Muka Rania langsung memerah.


***

__ADS_1


Penasaran dengan bisikan Rain, kira-kira apa ya? Tunggu kelanjutannya ya!


__ADS_2