
Jarak wajah Raihan dan Alin kurang dari 10 sentimeter. Bahkan keduanya bisa merasakan hangat napas mereka. Jantung Raihan berdebar dengan sangat kencang, apalagi dadanya menekan dada milik Alin.
"Apa yang mau Kakak lakukan?" teriak Alin sambil memalingkan wajahnya.
Hal ini membuat kesadaran Raihan kembali ke dunia nyata. Kalau saat ini dia sedang mengungkung tubuh istrinya.
"Menurut kamu, apa yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri ketika mereka sedang berada di kamar berdua?" tanya Raihan.
Alin kini menatap netra suaminya yang seakan menghipnotis dirinya. Tanpa sadar tangannya terulur dan menyentuh wajah Raihan.
"Eh." Alin cepat-cepat menjauhkan tangannya dari muka suaminya. Bahkan dia memejamkan matanya karena malu.
"Alin, sudah berapa lama kita menikah?" tanya Raihan masih di posisinya. Hanya saja sekarang dia menahan berat tubuhnya agar tidak menghimpit tubuh Alin.
"Satu bulan … eh, dua bulan. Atau tiga bulan, mungkin," jawab Alin dengan mata terbuka.
"Pantas saja kamu tidak pernah bisa mengalahkan Nia, ternyata ingatan kamu sangat buruk," ucap Raihan.
"Apa hubungannya ingatan aku dengan mengalahkan Nia?" Alin memutar bola matanya dengan malas.
"Enam bulan lebih! Kita ini sudah menikah lebih dari enam bulan dan tinggal bersama. Tapi kamu tidak mengingatnya sama sekali," decak Raihan dengan sangat kesal.
"Yang beneran, Kak. Perasaan baru bulan kemarin kita menikah," balas Alin diiringi senyum manisnya.
"Lalu selama enam bulan ini, apa yang sudah kita lakukan bersama?" tanya Raihan.
"Banyak," jawab Alin dan membuat kening Raihan berkerut.
"Banyak? Apa saja?" tanya Raihan karena dia merasa tidak pernah melakukan apa pun dengan Alin.
"Kita masak bersama, membereskan rumah bersama, jalan-jalan bersama, terus—" Alin tidak bisa meneruskan kata-katanya karena mulutnya tiba-tiba ditutup oleh Raihan.
"Bukan melakukan hal yang seperti itu, yang aku maksudkan." Raihan melepaskan bekapan pada bibir Alin yang terasa lembut.
"Lalu, apa yang Kakak maksud?" tanya Alin.
__ADS_1
"Meski kita sudah menikah dua ratus hari, tapi belum pernah sekali pun kita berciuman atau melakukan hubungan suami istri," jawab Raihan.
"Aku tidak mau hamil saat masih sekolah, Kak." Mata Alin mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang mau membuat kamu hamil?" balas Raihan dengan gemas. Lalu dia bangun dan duduk dengan menghela napas.
"Kakak," panggil Alin mesra.
"Apa?" Raihan memalingkan mukanya.
CUP
Tanpa Raihan sadari kalau Alin memajukan wajahnya. Kini dia mencium pipi Alin.
"Nah, sekarang Kakak mencium pipi aku. Jadi, sudah ada yang kita lakukan," kata Alin dan membaringkan kembali tubuhnya.
Raihan hanya bengong mendengar perkataan istrinya barusan. Lalu tertawa kecil karena merasa gemas sekali.
"Alin," panggil Raihan kali ini.
CUP
Bibir mereka saling menempel karena Raihan ikut berbaring di belang Alin dan memajukan mukanya. Raihan menahan kepala Alin agar ciumannya tidak lepas. Dia merasakan kelembutan bibir milik istrinya itu, saat memagutnya.
Alin sangat terkejut saat bibirnya menyentuh bibir suaminya. Apalagi saat suaminya memagut dengan lembut. Dia merasa melayang, tetapi debaran jantungnya terlalu keras dia rasakan. Dia menyukai sensasi yang dirasakan saat ini. Tanpa sadar dia pun membalasnya.
Bagi Raihan dan Alin ini adalah pengalaman pertama mereka baik mencium atau dicium. Namun, instingnya ikut bekerja saat itu terjadi. Ciuman mereka baru tahap ciuman manis saja, belum sampai ke tahap ciuman panas.
Muka kedua orang itu berubah merah karena sama-sama malu. Selain itu mereka menjadi gugup saat beradu pandang. Alin langsung menutup mukanya dengan bantal.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Raihan pelan.
"Bukan! Aku malu," kata Alin yang suaranya masih bisa di dengar meski tertutup bantal.
"Jadi? Kamu suka?" tanya Raihan.
__ADS_1
Alin hanya menggerakkan kepalanya dan Raihan bisa melihat kalau itu sebuah anggukkan. Diangkat bantal itu dan dilemparkan olehnya, agar dia bisa melihat wajah istrinya.
Saat netra mereka beradu kembali, Alin menutup mukanya pakai tangan. Dia sangat malu saat ini.
"Alin buka wajahmu!" titah suaminya.
"Malu, Kakak," kata Alin.
"Sini aku kasih tahu bagaimana caranya agar tidak malu," ucap Raihan sambil menarik lembut kedua tangan Alin.
Meski rasa malu masih ada, Alin memberanikan diri untuk melihat suaminya. Saat melihat wajah suaminya yang masih memerah, menyadarkan Alin kalau saat ini mereka itu sama-sama malu.
"Bagaimana caranya?" tanya Alin dengan berbisik.
CUP
Raihan mencium kembali bibir Alin dengan lembut dan itu membuat tubuh istrinya tegang. Namun, detik berikutnya Alin membalas ciuman itu.
"Selanjutnya jangan malu, karena kita adalah pasangan suami istri," ucap Raihan saat mereka mengakhiri ciuman itu dan Alin mengangguk.
***
Malam ini perasaan mereka berbunga-bunga. Bahkan Alin terus tersenyum dan berguling-guling di atas ranjang. Sementara itu, Raihan senyum-senyum sendiri saat membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.
Sensasi lembut dari bibir pasangannya masih bisa mereka rasakan. Saat mengingat kejadian tadi, muka mereka pun semakin merah.
Saat makan malam pun mereka saling curi-curi pandang dan senyum malu-malu. Bi Mar merasa ada yang aneh dengan majikan mereka. Biasanya kalau sudah marahan Alin akan bersikap manja pada suaminya. Namun, kini dia berbeda. Lebih kalem dan malu-malu.
'Ada apa dengan mereka, ya? Apa ini harus dilaporkan sama Nyonya Mentari?' gumam Bi Mar dalam hati.
***
Setelah sekian purnama akhirnya pasangan suami istri itu baru bisa merasakan ciuman 🙈🙈. Kayaknya Alin sudah nggak penasaran lagi. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote 😍 😍. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Yuk baca karya teman aku sesama Author. Ceritanya nggak kalah seru, loh. Yuk merapat ke karyanya.
__ADS_1