
Mata Zulaikha tidak lepas dari laki-laki yang kini sedang menyuapi Ayahnya. Sesekali menyeka makanan yang tumpah dari mulutnya. Rasa cinta Zulaikha semakin besar pada sosok Yusuf. Dia sudah terlalu dalam mencintai laki-laki itu. Sehingga tidak akan mau melepaskan dirinya dari dia.
"Mi ... Pi .... Ayo bilang!" pinta Zulaikha saat melihat Yusuf telah selesai menyuapi Ayahnya.
"Pak, Bu, dan juga Yusuf. Ada yang mau kami bicarakan. Ini menyangkut kesehatan Pak Yahya—Ayahnya Yusuf— bagaimana kalau kami bawa ke Amerika. Kami punya kenalan seorang dokter yang ahli akupuntur. Mungkin saja sakit Pak Yahya bisa sembuh. Karena dulu Daddy juga sembuh dari stroke setelah menjalani pengobatan ini. Apalagi dulu Daddy lebih parah dari ini," jelas Clive.
"Maaf Mister, tapi kami tidak bisa bahasa Inggris. Juga uang kami tidak banyak," balas Hajar.
"Tenang saja kalau semua itu. Ada saya dan Maharani yang bantu. Nanti di sana kita cari pelayan yang bisa bahasa Indonesia, untuk melayani kalian." Clive berusaha membujuk calon besannya.
Hajar melirik ke arah putranya. Dia merasa bingung harus apa. Namun, mendengar ada harapan untuk suaminya sembuh membuatnya senang.
"Itu tergantung kesiapan Ayah. Apa Ayah mau melakukan pengobatan di Amerika?" tanya Yusuf pada Yahya.
Yahya mengedipkan mata dan mengacungkan jari jempolnya. Memberitahu kalau dia setuju dengan itu.
Zulaikha merasa sangat senang. Tangis haru dan lega membasahi pipinya. Dia memeluk tubuh ibunya.
***
Sesuai janji Yusuf saat di bandara kepada Zulaikha, mereka pergi ke tebing yang ada di balik bukit yang ada di kampung itu. Keduanya jalan kaki menapaki jalan setapak.
"Om, ini hutan tapi tidak menakutkan, ya?" Zulaikha melihat ke sekeliling. Terang benderang hanya terdengar suara hewan-hewan kecil yang menurutnya enak di dengar. Terasa di dunia lain menurut Zulaikha.
"Itu karena masih banyak warga desa yang suka mencari kayu bakar, jamur, dan tanaman obat-obatan atau berburu hewan serangga di sini. Hutan ini setiap hari di jamah oleh manusia. Dari pagi sampai pagi lagi," jawab Yusuf.
Terdengar suara gemuruh dari air terjun. Menandakan kalau tempat yang dituju sudah dekat.
"Lihatlah!" Yusuf menunjuk sebuah air terjun yang berundak-undak dan airnya jernih.
__ADS_1
"Om, ini sungguh indah!" pekik Zulaikha senang.
"Mau berenang?" tanya Yusuf.
"Mau!" seru Zulaikha.
Zulaikha pun mengganti bajunya dengan baju renang muslim yang dulu dibelikan oleh Yusuf saat mau pergi ke pantai. Betapa senangnya dia saat merasakan dingin dan segar dari air yang mengalir dengan tenang itu.
Yusuf dan Zulaikha berenang di sana menghabiskan waktu sampai menjelang siang. Sejoli yang sedang kasmaran itu bermain saling menciptakan air. Atau mendorong tubuh dari atas batu ke sungai. Tawa dan canda mereka lakukan.
Keduanya duduk di sebuah batu besar. Mereka sedang mengeringkan diri. Baik Yusuf maupun Zulaikha saling menatap, saling melempar senyuman. Dalam otak mereka kini berpikir, suasana alam yang bagus, keadaan mendukung untuk melakukan hal yang lebih romantis.
"Aku tidak sabar menunggu satu bulan lagi," bisik Yusuf.
"Kenapa kita menikah secara agama dulu, Om. Bulan depan tinggal resepsi dan menandatangani surat nikah secara negara," balas Zulaikha.
"Berdua denganmu seperti ini selalu membuat aku ingin menyentuh. Namun, aku sudah berjanji pada diriku. Aku tidak boleh jadi laki-laki berengsek yang menyentuh kamu seenak hati, sebelum aku benar-benar mengambil tanggung jawab atas segala dirimu."
"Aku juga. Selalu ingin menyentuh dan disentuh olehmu, Om. Seandainya hari ini menikah secara agama dulu, bagaimana? Aku ngebet banget ingin nikah sama kamu, Om! Sudah nggak sabar ingin di halalkan sama Om, sumpah! Aku ingin menikah sekarang juga!" teriak Zulaikha dan suaranya tertelan oleh suara air terjun. Namun, Yusuf masih bisa mendengarnya.
"Benar, kamu sudah tidak sabar ingin menikah dengan aku?" tanya Yusuf dengan serius.
"Iya, Om. Nikahi aku hari ini juga," jawab Zulaikha.
"Tidak akan ada pesta," kata Yusuf.
"Tidak apa-apa. Pestanya nanti saja. Bulan depan sesuai rencana," balas Zulaikha.
"Mahar belum aku siapkan," ucap Yusuf.
__ADS_1
"Apapun maharnya aku akan ridho. Bukannya sebaik-baik wanita jangan memberatkan meminta mahar kepada calon imam mereka," ujar Zulaikha.
"Kalau kita menikah hari ini. Nanti malam adalah malam pertama kita," kata Yusuf dengan muka yang berubah merah bahkan telinga dan lehernya.
"Itu yang aku tunggu selama ini," jujur Zulaikha. Setelah beberapa saat dia menjerit dan menutup mukanya karena malu. Dia memberitahu secara langsung kepada Yusuf kalau dia itu selama ini sudah ingin bercinta dengan laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Yusuf dengan menahan tawanya.
"Aku malu. Om jadi tahu itu! Aku malu!" Zulaikha masih menutup mukanya.
"Tahu apanya?" tanya Yusuf menggoda calon istrinya sambil menarik tangan yang menutupi wajahnya.
"Kalau aku .... Ahk! Aku malu!" Zulaikha mengeluarkan air matanya saking malunya.
"Tidak apa-apa,"" ucap Yusuf sambil menghapus air mata si Gadis Nakal.
'Apalagi aku? Sampai-sampai harus sering mandi malam-malam untuk membersihkan pikiran aku tentang kamu. Meredam hasrat ini. Jauh dari kamu buat aku dilanda rindu. Dekat dengan kamu, hasrat napsu aku bergejolak.' Yusuf nggak mau bilang sama Zulaikha kalau dia juga nggak jauh beda dengannya.
"Ayo, kita bilang sama orang tua kita! Kalau kita ingin menikah hari ini meski secara agama dulu," ucap Yusuf sambil berdiri di atas batu. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Zulaikha berdiri.
"Benar nih, Om. Kita akan menikah hari ini?" Zulaikha menerima uluran tangan calon suaminya.
"Kalau mereka memberikan izin. Kalau tidak, ya ... bersabarlah satu bulan lagi," balas Yusuf.
"Aku ...." Zulaikha mendadak berhenti melangkahkan kakinya.
***
Waw 😱 😱😱😱 isi otak si Zul kebongkar sendiri 🤣🤣🤣🤣. Apalagi tuh maunya si Zul? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih semangat aku dengan kasih Like, Komentar, Bunga, Kopi dan Vote. Hari Senin nih kirimkan Vote-nya 😁. Terima kasih.
__ADS_1
Sambil menunggu Abang Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Yuk Baca juga karya teman aku, nih. Ceritanya seru loh.